Rabu, 10 Februari 2010 | 19:58 WIB
Harian KOMPAS
BANDUNG, KOMPAS.com - Banjir telah memakan korban harta dan nyawa. (P) Bahkan, banjir yang terjadi beberapa bulan lalu, juga banyak menghancurkan rumah warga.
Warga belum bisa berbuat banyak untuk membangun kembali rumah yang roboh itu. Bahkan empat rumah yang roboh pada Desember 2009 lalu juga belum ada tanda-tanda diperbaiki.
Ketua RW 20 Kelurahan Baleendah, Jaja, Rabu (10/2/2010) menyebutkan, warga yang rumahnya ambruk berharap ada bantuan. "Mereka berharap pemerintah kabupaten Bandung membantu untuk perbaikan atau pembangunan rumah warga itu," katanya.
Sementara itu warga di kawasan banjir Cieunteung Baleendah sudah dua minggu terakhir ini terendam banjir luapan Sungai Citarum. Jumlah rumah yang tergenang banjir di lokasi tersebut mencapai 6.000 rumah.(A)
Bahkan, banjir besar terjadi Jumat lalu dengan areal genangan yang lebih luas dan sempat memutuskan arus lalu lintas Banjaran-Baleendah-Dayeuhkolot.
Banjir di kawasan Bandung Selatan itu juga mengakibatkan terganggunya aktivitas industri tekstil akibat terendam banjir.
Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, kerugian sektor industri tekstik akibat banjir mencapai Rp 10 miliar.
Selain di kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot, banjir juga melanda di sejumlah titik lainnya seperti Kecamatan Rancaekek, Majalaya dan Cicalengka. Banjir juga terjadi di kota Bandung yakni di kawasan Panyileukan dan Gedebage.
PENDAPAT:
P : Banjir telah memakan korban harta dan nyawa. Memang benar banjir yang melanda di kota Bandung membuat rugi banyak orang. Terjadinya banjir tersebut di sebabkan juga karena warga yang melalaikan kebersihan lingkungannya.
A : Jumlah rumah yang tergenang banjir di lokasi tersebut mencapai 6.000 rumah. Ketua RW 20 Kelurahan Baleendah ini mengajak agar para dermawan membantu warga kelurahan Baleendah yang sedang ter kena musibah banjir.
Minggu, 21 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar