NAMA :NUR FITRIANI
NPM :10207813
KLS :4 EA03
MATERI :ETIKA BISNIS
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Masyarakat
Pamadi Wibowo
Associate LabSosio Universitas Indonesia
Praktek tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) oleh korporasi besar, khususnya di sektor industri ekstraktif (minyak, gas, dan pertambangan lainnya), saat ini sedang disorot tajam. Kasus Buyat adalah contoh terbaru--bukan terakhir--tentang bagaimana realisasi tanggung jawab sosial itu. Tulisan ini bermaksud menelaah praktek CSR berkaitan dengan peran aktif masyarakat sipil dalam memaknai dan turut membentuk konsep kemitraan yang merupakan salah satu kondisi yang dibutuhkan dalam mewujudkan CSR.
Dalam artikel "How Should Civil Society (and The Government) Respond to 'Corporate Social Responsibility'?", Hamann dan Acutt (2003) menelaah motivasi yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. Ada dua motivasi utama. Pertama, akomodasi, yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik, superficial, dan parsial. CSR dilakukan untuk memberi citra sebagai korporasi yang tanggap terhadap kepentingan sosial. Singkatnya, realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya.
Kedua, legitimasi, yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. Pertanyaan-pertanyaan absah apakah yang dapat diajukan terhadap perilaku korporasi, serta jawaban-jawaban apa yang mungkin diberikan dan terbuka untuk diskusi? Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa motivasi ini berargumentasi wacana CSR mampu memenuhi fungsi utama yang memberikan keabsahan pada sistem kapitalis dan, lebih khusus, kiprah para korporasi raksasa.
Telaah Hamann dan Acutt sangat relevan dengan situasi implementasi CSR di Indonesia dewasa ini. Khususnya dalam kondisi keragaman pengertian konsep dan penjabarannya dalam program-program berkenaan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Keragaman pengertian konsep CSR adalah akibat logis dari sifat pelaksanaannya yang berdasarkan prinsip kesukarelaan. Tidak ada konsep baku yang dapat dianggap sebagai acuan pokok, baik di tingkat global maupun lokal.
Secara internasional saat ini tercatat sejumlah inisiatif code of conduct implementasi CSR. Inisiatif itu diusulkan, baik oleh organisasi internasional independen (Sullivan Principles, Global Reporting Initiative), organisasi negara (Organization for Economic Cooperation and Development), juga organisasi nonpemerintah (Caux Roundtables), dan lain-lain. Di Indonesia, acuannya belum ada. Bahkan peraturan tentang pembangunan komunitas (community development/CD) saat ini masih dalam bentuk draf yang diajukan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Tak heran jika berbagai korporasi sebenarnya berada dalam situasi "bingung" untuk melaksanakan CSR.
Selain gambaran itu, tampak pula kecenderungan pelaksanaan CSR di Indonesia yang sangat tergantung pada chief executive officer (CEO) korporasi. Artinya, kebijakan CSR tidak otomatis selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika CEO memiliki kesadaran moral bisnis berwajah manusiawi, besar kemungkinan korporasi tersebut menerapkan kebijakan CSR yang layak. Sebaliknya, jika orientasi CEO-nya hanya pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi) serta pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR sekadar kosmetik.
Sifat CSR yang sukarela, absennya produk hukum yang menunjang dan lemahnya penegakan hukum telah menjadikan Indonesia sebagai negara ideal bagi korporasi yang memang memperlakukan CSR sebagai kosmetik. Yang penting, Laporan Sosial Tahunannya tampil mengkilap, lengkap dengan tampilan foto aktivitas sosial serta dana program pembangunan komunitas yang telah direalisasi.
Di pihak lain, kondisi itu juga membuat frustrasi korporasi yang berupaya menunjukkan itikad baik. Celakanya, bagi yang terakhir ini, walau dana dalam jumlah besar dikucurkan, manajemen CSR dibentuk, serta strategi dan program dibuat, nyatanya tuntutan serta demo dari masyarakat dan aktivis organisasi nonpemerintah masih tetap berlangsung. Sementara itu, sikap pemerintah sejauh ini masih memprihatinkan.
Secara teoretis CSR mengasumsikan korporasi sebagai agen pembangunan yang penting, khususnya dalam hubungan dengan pihak pemerintah dan kelompok masyarakat sipil. Dengan menggunakan alur pemikiran motivasi dasar, berbagai stakeholder kunci dapat memantau, bahkan menciptakan tekanan eksternal yang bisa "memaksa" korporasi mewujudkan konsep dan penjabaran CSR yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia.
Dari perspektif masyarakat sipil, pola kemitraan sangat menguntungkan karena kegiatan bisnis memiliki berbagai sumber daya penting dan kapabilitas yang dapat digabungkan untuk tujuan-tujuan pembangunan. Misalnya, pembangunan infrastruktur industri pertambangan di wilayah pedalaman mampu menyumbang secara signifikan pada penyediaan berbagai fasilitas publik, yang dapat dilihat dalam perkembangan kota Sangatta, Pekanbaru, dan Balikpapan.
Namun, peran masyarakat sipil dalam pendayagunaan berbagai sumber daya dan kapabilitas perlu disalurkan dan diperkuat oleh organisasi nonpemerintah dan pemerintah. Artinya, kemitraan adalah prasyarat dasar. Dalam khazanah kemitraan dikenal istilah "kompetensi inti pelengkap" (complementary core competencies). Kapasitas rekayasa teknis, logistik, finansial, dan sumber daya manusia yang dimiliki korporasi dapat dipadu dengan modal sosial, ekonomi, budaya, dan pengetahuan lokal. Tentu juga dengan kerangka pembangunan yang lebih luas yang dilakukan pemerintah.
Peningkatan posisi tawar masyarakat sipil masih harus diperjuangkan. Masyarakat sipil perlu memainkan peran lebih aktif dalam membentuk wacana tentang CSR. Hal ini mengisyaratkan kalangan organisasi nonpemerintah juga harus lebih memahami agenda CSR. Bukan hanya retorikanya, tetapi juga unsur-unsur terukurnya, seperti aspek legislasi dan berbagai indikator kuantitatif keberhasilan CSR dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada kenyataannya, peta pemahaman organisasi nonpemerintah terhadap masalah ini masih sangat bervariasi. Yang tergolong garis keras condong menentang CSR, karena dianggap produk neoliberal dalam rangka penaklukan masyarakat sipil. Ada yang berkompeten, memiliki komitmen, dan dapat berkolaborasi, tapi jumlahnya masih sangat kecil. Bagian terbesar mungkin malahan hanya free rider.
Dalam era kapitalisme global saat ini, eksistensi kapitalis seperti korporasi multinasional adalah keniscayaan. Menafikan keberadaan mereka dalam dinamika pembangunan di berbagai aspek adalah irasional. Sementara itu, menyiasati kehadiran korporasi dalam kerja sama kemitraan yang sejajar untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat bukanlah ilusi. Optimisme dan perjuangan mewujudkan hal itu lebih berarti dari sekadar asal berseberangan.
REFERENSI
http://www.infoanda.com/linksfollow
Kamis, 18 November 2010
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KLS : 4 EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
Corporate social responsibility merupakan suatu elemen penting dalam kerangka keberlanjutan usaha suatu industri yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Definisi secara luas yang di tulis sebuah organiasi dunia World Bisnis Council for Sustainable Development (WBCD) menyatakan bahwa CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarga. Sedangkan menurut Nuryana, 2005 CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prisip kesukarelaan dan kemitraan.
Bila kita telaah lebih dalam, CSR dapat dikatakan sebagai tabungan masa depan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang diperoleh bukan sekedar bentuk finansial melainkan rasa kepercayaan dari masyarakat sekitar dan stakeholders lainnya terhadap perusahaan. Kepercayaan inilah yang sebenarnya menjadi modal dasar agar perusahaan dapat terus melakukan aktivitasnya. Penelitian dari Sandra Waddock dan Samuel Graves (Ann, 1998) menemukan bahwa perusahaan yang memperlakukan stakeholders mereka dengan baik akan meningkatkan kelompok mereka sebagai suatu bentuk manajemen yang berkualitas.
Stakeholders bukan hanya masyarakat dalam arti sempit yaitu masyarakat yang tinggal disekitar lokasi perusahaan melainkan masyarakat dalam arti luas, misalnya pemerintah, investor, elit politik dan lain sebagainya. Bentuk kerjasama yang dibentuk antara perusahaan dan stakeholders hendaknya juga merupakan kerjasama yang dapat saling memberikan kesempatan untuk sama-sama maju dan berkembang. Program-program CSR yang dibuat untuk kesejahteraan masyarakat pada akhirnya akan berbalik arah yaitu memberikan keuntungan kembali bagi perusahaan tersebut. Sebagai contoh hubungan dengan pekerja misalnya, dengan tidak menggunakan pekerja di bawah umur, memperhatikan kesejahteraan pekerja beserta keluarganya, mendukung serikat pekerja dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakadilan pada pekerja dapat meningkatkan hubungan antara pekerja dan perusahaan. Dalam hal ini pekerja akan merasa lebih di hargai, nyaman dan hubungannya tidak sekedar dia bekerja menerima upah tetapi dapat menimbulkan loyalitas terhadap perusahaan. Hal ini akan meningkatkan kinerja dan produktivitas pekerja yang tentu saja akan meningkatkan produktivitas perusahaan.
Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa CSR berbeda dengan charity atau sumbangan sosial. CSR harus dijalankan di atas suatu program dengan memerhatikan kebutuhan dan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Sementara sumbangan sosial lebih bersifat sesaat dan berdampak sementara, sehingga bisa diibaratkan hanya sebagai pelipur lara. Semangat CSR diharapkan dapat mampu membantu menciptakan keseimbangan antara perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Pada dasarnya tanggung jawab sosial perusahaan ini diharapkan dapat kembali menjadi budaya bagi bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat dunia dalam kebersamaan mengatasi masalah sosial dan lingkungan.
Keputusan manajemen perusahaan untuk melaksanakan program-program CSR secara berkelanjutan, pada dasarnya merupakan keputusan yang rasional. Sebab implementasi program-program CSR akan menimbulkan efek lingkaran emas yang akan dinikmati oleh perusahaan dan seluruh stakeholder-nya. Melalui CSR, kesejahteraan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal maupun masyarakat luas akan lebih terjamin. Kondisi ini pada gilirannya akan menjamin kelancaran seluruh proses atau aktivitas produksi perusahaan serta pemasaran hasil-hasil produksi perusahaan. Sedangkan terjaganya kelestarian lingkungan dan alam selain menjamin kelancaran proses produksi juga menjamin ketersediaan pasokan bahan baku produksi yang diambil dari alam.
Kesejahteraan masyarakat akan mendorong peningkatan daya beli, sehingga memperkuat daya serap pasar terhadap output perusahaan. Sedangkan kelestarian faktor-faktor produksi serta kelancaran proses produksi yang terjaga akan meningkatkan efisiensi proses produksi. Dua faktor tersebut akan meningkatkan potensi peningkatan laba perusahaan, dan dengan sendirinya meningkatkan kemampuan perusahaan mengalokasikan sebagian dari keuntungannya untuk membiayai berbagai aktivitas CSR di tahun-tahun berikutnya.
Manfaat penerapan CSR yang dilaksanakan dengan berlandaskan pada nilai-nilai etis telah banyak dinikmati oleh berbagai perusahaan multinasional dari negara-negara Eropa. Kesediaan perusahaan-perusahaan multinasional dari Eropa untuk menerapkan CSR atas inisiatif sendiri telah membantu menciptakan deferensiasi pasar atas para pesaing mereka dari Jepang maupun AS. Selain itu juga menunjang upaya perusahaan dalam mengelola tenaga kerja, menjaga kesetiaan konsumen, mewujudkan kekuatan merek, mengurangi biaya-biaya menjadi lebih rendah, menekan risiko sosial dan bisnis, serta membangun kredibilitas usaha di mata publik maupun investor saham.
Karena itu para eksekutif perusahaan multinasional di Eropa semakin yakin bahwa perusahaan yang memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang semakin kuat akan mampu meraih kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki kepedulian atas tanggung jawab sosialnya. Adidas, Nestle, dan Volkswagen hanya merupakan sedikit contoh perusahaan multinasional dari Eropa yang berhasil memanfaatkan CSR untuk pengembangan jaringan bisnisnya.
Hal ini sejalan dengan penelitian di Bursa Efek Jakarta terhadap emiten-emiten yang melaksanakan program-program CSR menunjukkan, kegiatan CSR ternyata berbanding positif terhadap kinerja perusahaan dan imbal hasil saham. Karena CSR terdiri dari rangkaian program yang memperhatikan kepentingan seluruh stakeholder perusahaan dalam jangka panjang, dengan demikian CSR tidak dapat dipandang sebagai beban sosial melainkan justru menjadi investasi sosial perusahaan.
Sebab dalam jangka panjang manfaat positif dari program CSR yang berkelanjutan akan menunjang aktivitas bisnis perusahaan. Manfaat jangka panjang ini meningkatkan keyakinan para investor di bursa efek atas prospek perusahaan di masa mendatang. Prospek yang positif dengan sendirinya meningkatkan kemungkinan dan peluang naiknya nilai investasi di bursa efek yang dilakukan saat ini.
Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi jangan pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor dan masyarakat. Lebih dari itu ketika pembangunan perusahaan telah sesuai dengan kawasan peruntukannya, maka pengusaha perlu melaksanakan berbagai kewajiban untuk meminimalisir kerugian yang dialami konsumen, karyawan, investor, maupun kerusakan kualitas lingkungan hidup antara lain :
a. Kewajiban terhadap konsumen
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan produk yang aman.
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang spesifikasi produk yang
dijual perusahaan, antara lain dengan mencantumkan label yang benar.
- Konsumen memiliki hak untuk didengarkan, perusahaan dapat membuka kontak
pelanggan melalui kotak pos atau nomor telepon.
- Konsumen memiliki hak untuk dapat dapat memilih barang yang mereka beli.
- Kolusi dalam penetapan harga yang merugikan konsumen tidak dilakukan.
- Kampanye iklan tidak dilakukan secara berlebihan.
- Kampanye iklan diikuti oleh produksi dan distribusi produk sesuai dengan pesan-pesan
iklan.
- Kampanye iklan perlu memperhatikan faktor berikut ini: tidak menayangkan materi
iklan yang menonjolkan anak-anak sedang merokok, mencantumkan kandungan kalori lemah kolesterol dalam makanan, komponen vitamin, dan unsur-unsur minuman kesehatan, menayangkan dengan gencar produk konsumsi yang tidak layak dan tidak halal untuk dikonsumsi, memberikan iming-iming hadiah jika membeli produk dengan gencar, materi iklan dan film yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak dan bersifat pornografi.
b. Kewajiban terhadap karyawan
- Melakukan proses seleksi dan penempatan pegawai secara transparan dengan mengajak
para calon pegawai dari sekitar komunitas untuk berpartisipasi.
- Memberikan posisi jabatan dan balas jasa gaji dan pengupahan, serta promosi jabatan
tanpa memandang agama, gender, suku bangsa, senioritas dan asal negara.
- Mematuhi peraturan dan UU ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
c. Kewajiban terhadap investor
- Meniadakan berbagai potensi kecurangan yang mungkin timbul di perusahaan terhadap
investor.
- Menghindari praktek pembuatan laporan keuangan yang disemir dan tidak sesuai
dengan standar pelaporan akuntansi yang berlaku.
- Tidak melakukan perbuatan ilegal seperti mengeluarkan cek kosong dan proses
pencucian uang (money laundry).
- Tidak melakukan proses “insider trading” dalam menjual surat berharga perusahaan.
- Mematuhi ketentuan tentang GAAP (Generally Accepted Accounting Practices),
ketentuan pasar modal bagi para emiten dan pedoman GCG yang diberlakukan
perusahaan.
d. Kewajiban terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup
- Menjalankan program community social responsibility, khususnya yang berkaitan
dengan pelestarian kualitas lingkungan hidup.
- Memperhitungkan dampak lintas sektor dalam proses produksi dengan memanfaatkan
bahan baku alam secara berkelanjutan.
- Menerapkan prinsip SIDEC, Sustainabilitas, Interdependence, Diversitas, Equity,
Cohesion dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
- Mengembangkan pola hidup “kekitaan” ketimbang “keakuan” (Emil Salim).
- Menghasilkan proses produksi dengan mengoptimalkan upaya renewable resources,
daur ulang non-renewable resources, mengupayakan zero-waste clean technology; dan
pemanfaatan tataruang dan proses produksi dengan sedikit limbah dan polusi
Membangun Citra Perusahaan melalui Program CSR
Beberapa aspek yang merupakan unsur pembentuk citra dan reputasi Perusahaan antara lain :
1. kemampuan financial
2. mutu produk dan pelayanan
3. focus pada pelanggan
4. keunggualan dan kepekaan SDM
5. reliability
6. inovasi
7. penegakan good corporate governance (GCG)
REFERENSI
http://www.ppm-manajemen.ac.id/
http://www.arthagrahapeduli.org
http://rosita.staff.uns.ac.id
http://www.scribd.com
NPM : 10207813
KLS : 4 EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
Corporate social responsibility merupakan suatu elemen penting dalam kerangka keberlanjutan usaha suatu industri yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Definisi secara luas yang di tulis sebuah organiasi dunia World Bisnis Council for Sustainable Development (WBCD) menyatakan bahwa CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarga. Sedangkan menurut Nuryana, 2005 CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prisip kesukarelaan dan kemitraan.
Bila kita telaah lebih dalam, CSR dapat dikatakan sebagai tabungan masa depan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang diperoleh bukan sekedar bentuk finansial melainkan rasa kepercayaan dari masyarakat sekitar dan stakeholders lainnya terhadap perusahaan. Kepercayaan inilah yang sebenarnya menjadi modal dasar agar perusahaan dapat terus melakukan aktivitasnya. Penelitian dari Sandra Waddock dan Samuel Graves (Ann, 1998) menemukan bahwa perusahaan yang memperlakukan stakeholders mereka dengan baik akan meningkatkan kelompok mereka sebagai suatu bentuk manajemen yang berkualitas.
Stakeholders bukan hanya masyarakat dalam arti sempit yaitu masyarakat yang tinggal disekitar lokasi perusahaan melainkan masyarakat dalam arti luas, misalnya pemerintah, investor, elit politik dan lain sebagainya. Bentuk kerjasama yang dibentuk antara perusahaan dan stakeholders hendaknya juga merupakan kerjasama yang dapat saling memberikan kesempatan untuk sama-sama maju dan berkembang. Program-program CSR yang dibuat untuk kesejahteraan masyarakat pada akhirnya akan berbalik arah yaitu memberikan keuntungan kembali bagi perusahaan tersebut. Sebagai contoh hubungan dengan pekerja misalnya, dengan tidak menggunakan pekerja di bawah umur, memperhatikan kesejahteraan pekerja beserta keluarganya, mendukung serikat pekerja dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakadilan pada pekerja dapat meningkatkan hubungan antara pekerja dan perusahaan. Dalam hal ini pekerja akan merasa lebih di hargai, nyaman dan hubungannya tidak sekedar dia bekerja menerima upah tetapi dapat menimbulkan loyalitas terhadap perusahaan. Hal ini akan meningkatkan kinerja dan produktivitas pekerja yang tentu saja akan meningkatkan produktivitas perusahaan.
Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa CSR berbeda dengan charity atau sumbangan sosial. CSR harus dijalankan di atas suatu program dengan memerhatikan kebutuhan dan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Sementara sumbangan sosial lebih bersifat sesaat dan berdampak sementara, sehingga bisa diibaratkan hanya sebagai pelipur lara. Semangat CSR diharapkan dapat mampu membantu menciptakan keseimbangan antara perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Pada dasarnya tanggung jawab sosial perusahaan ini diharapkan dapat kembali menjadi budaya bagi bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat dunia dalam kebersamaan mengatasi masalah sosial dan lingkungan.
Keputusan manajemen perusahaan untuk melaksanakan program-program CSR secara berkelanjutan, pada dasarnya merupakan keputusan yang rasional. Sebab implementasi program-program CSR akan menimbulkan efek lingkaran emas yang akan dinikmati oleh perusahaan dan seluruh stakeholder-nya. Melalui CSR, kesejahteraan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal maupun masyarakat luas akan lebih terjamin. Kondisi ini pada gilirannya akan menjamin kelancaran seluruh proses atau aktivitas produksi perusahaan serta pemasaran hasil-hasil produksi perusahaan. Sedangkan terjaganya kelestarian lingkungan dan alam selain menjamin kelancaran proses produksi juga menjamin ketersediaan pasokan bahan baku produksi yang diambil dari alam.
Kesejahteraan masyarakat akan mendorong peningkatan daya beli, sehingga memperkuat daya serap pasar terhadap output perusahaan. Sedangkan kelestarian faktor-faktor produksi serta kelancaran proses produksi yang terjaga akan meningkatkan efisiensi proses produksi. Dua faktor tersebut akan meningkatkan potensi peningkatan laba perusahaan, dan dengan sendirinya meningkatkan kemampuan perusahaan mengalokasikan sebagian dari keuntungannya untuk membiayai berbagai aktivitas CSR di tahun-tahun berikutnya.
Manfaat penerapan CSR yang dilaksanakan dengan berlandaskan pada nilai-nilai etis telah banyak dinikmati oleh berbagai perusahaan multinasional dari negara-negara Eropa. Kesediaan perusahaan-perusahaan multinasional dari Eropa untuk menerapkan CSR atas inisiatif sendiri telah membantu menciptakan deferensiasi pasar atas para pesaing mereka dari Jepang maupun AS. Selain itu juga menunjang upaya perusahaan dalam mengelola tenaga kerja, menjaga kesetiaan konsumen, mewujudkan kekuatan merek, mengurangi biaya-biaya menjadi lebih rendah, menekan risiko sosial dan bisnis, serta membangun kredibilitas usaha di mata publik maupun investor saham.
Karena itu para eksekutif perusahaan multinasional di Eropa semakin yakin bahwa perusahaan yang memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang semakin kuat akan mampu meraih kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki kepedulian atas tanggung jawab sosialnya. Adidas, Nestle, dan Volkswagen hanya merupakan sedikit contoh perusahaan multinasional dari Eropa yang berhasil memanfaatkan CSR untuk pengembangan jaringan bisnisnya.
Hal ini sejalan dengan penelitian di Bursa Efek Jakarta terhadap emiten-emiten yang melaksanakan program-program CSR menunjukkan, kegiatan CSR ternyata berbanding positif terhadap kinerja perusahaan dan imbal hasil saham. Karena CSR terdiri dari rangkaian program yang memperhatikan kepentingan seluruh stakeholder perusahaan dalam jangka panjang, dengan demikian CSR tidak dapat dipandang sebagai beban sosial melainkan justru menjadi investasi sosial perusahaan.
Sebab dalam jangka panjang manfaat positif dari program CSR yang berkelanjutan akan menunjang aktivitas bisnis perusahaan. Manfaat jangka panjang ini meningkatkan keyakinan para investor di bursa efek atas prospek perusahaan di masa mendatang. Prospek yang positif dengan sendirinya meningkatkan kemungkinan dan peluang naiknya nilai investasi di bursa efek yang dilakukan saat ini.
Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi jangan pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor dan masyarakat. Lebih dari itu ketika pembangunan perusahaan telah sesuai dengan kawasan peruntukannya, maka pengusaha perlu melaksanakan berbagai kewajiban untuk meminimalisir kerugian yang dialami konsumen, karyawan, investor, maupun kerusakan kualitas lingkungan hidup antara lain :
a. Kewajiban terhadap konsumen
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan produk yang aman.
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang spesifikasi produk yang
dijual perusahaan, antara lain dengan mencantumkan label yang benar.
- Konsumen memiliki hak untuk didengarkan, perusahaan dapat membuka kontak
pelanggan melalui kotak pos atau nomor telepon.
- Konsumen memiliki hak untuk dapat dapat memilih barang yang mereka beli.
- Kolusi dalam penetapan harga yang merugikan konsumen tidak dilakukan.
- Kampanye iklan tidak dilakukan secara berlebihan.
- Kampanye iklan diikuti oleh produksi dan distribusi produk sesuai dengan pesan-pesan
iklan.
- Kampanye iklan perlu memperhatikan faktor berikut ini: tidak menayangkan materi
iklan yang menonjolkan anak-anak sedang merokok, mencantumkan kandungan kalori lemah kolesterol dalam makanan, komponen vitamin, dan unsur-unsur minuman kesehatan, menayangkan dengan gencar produk konsumsi yang tidak layak dan tidak halal untuk dikonsumsi, memberikan iming-iming hadiah jika membeli produk dengan gencar, materi iklan dan film yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak dan bersifat pornografi.
b. Kewajiban terhadap karyawan
- Melakukan proses seleksi dan penempatan pegawai secara transparan dengan mengajak
para calon pegawai dari sekitar komunitas untuk berpartisipasi.
- Memberikan posisi jabatan dan balas jasa gaji dan pengupahan, serta promosi jabatan
tanpa memandang agama, gender, suku bangsa, senioritas dan asal negara.
- Mematuhi peraturan dan UU ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
c. Kewajiban terhadap investor
- Meniadakan berbagai potensi kecurangan yang mungkin timbul di perusahaan terhadap
investor.
- Menghindari praktek pembuatan laporan keuangan yang disemir dan tidak sesuai
dengan standar pelaporan akuntansi yang berlaku.
- Tidak melakukan perbuatan ilegal seperti mengeluarkan cek kosong dan proses
pencucian uang (money laundry).
- Tidak melakukan proses “insider trading” dalam menjual surat berharga perusahaan.
- Mematuhi ketentuan tentang GAAP (Generally Accepted Accounting Practices),
ketentuan pasar modal bagi para emiten dan pedoman GCG yang diberlakukan
perusahaan.
d. Kewajiban terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup
- Menjalankan program community social responsibility, khususnya yang berkaitan
dengan pelestarian kualitas lingkungan hidup.
- Memperhitungkan dampak lintas sektor dalam proses produksi dengan memanfaatkan
bahan baku alam secara berkelanjutan.
- Menerapkan prinsip SIDEC, Sustainabilitas, Interdependence, Diversitas, Equity,
Cohesion dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
- Mengembangkan pola hidup “kekitaan” ketimbang “keakuan” (Emil Salim).
- Menghasilkan proses produksi dengan mengoptimalkan upaya renewable resources,
daur ulang non-renewable resources, mengupayakan zero-waste clean technology; dan
pemanfaatan tataruang dan proses produksi dengan sedikit limbah dan polusi
Membangun Citra Perusahaan melalui Program CSR
Beberapa aspek yang merupakan unsur pembentuk citra dan reputasi Perusahaan antara lain :
1. kemampuan financial
2. mutu produk dan pelayanan
3. focus pada pelanggan
4. keunggualan dan kepekaan SDM
5. reliability
6. inovasi
7. penegakan good corporate governance (GCG)
REFERENSI
http://www.ppm-manajemen.ac.id/
http://www.arthagrahapeduli.org
http://rosita.staff.uns.ac.id
http://www.scribd.com
Selasa, 16 November 2010
ETIKA BISNIS
ETIKA BISNIS
Pengertian Etika Bisnis
Cara –cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan,industri dan juga masyarakat.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.
Menurut K.Bertens ada 3 tujuan yang ingin di capai dalam etika bisnis, yaitu :
1. menanamkan atau meningkatkan kesadaran akan adanya dimensi etis dalam bisnis.
2. memperkenalkan argumentasi moral khususnya dibidang ekonomi dan bisnis, serta membantu perbisnisan / calon pebisnis dalam menyusun argumentasi yang tepat.
3. menbantu pembisnis /calon pembisnis, untuk menentukan sikap moral yang tepat didalam profesinya (kelak).
Ada tiga aspek pokok dari bisnis yaitu : dari sudut pandang ekonomi, hukum dan etika.
1. Sudut pandang ekonomis
Bisnis adalah kegiatan ekonomis yaitu adanya interaksi antara produsen/ perusahaan dengan pekerja, produsen dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah organisasi. Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis.
2. Sudut pandang moral
Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Dengan menghormati kepentingan dan hak orang lain, maka kita sendiri tidak akan dirugikan.
3. Sudut pandang hukum
Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terkait dengan hukum. Hukum Dagang atau hukum Bisnis, yang merupakan cabang penting dari ilmu modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional maupun internasional
Dari sudut pandang moral, setidaknya ada 3 tolak ukur yaitu : nurani , khaidah emas, penilaian umum.
a. Hati nurani
Suatu perbuatan adalah baik dan perbuatan yang lain buruk bila berlawanan
dengan hati nuraninya.Jika kita mengambil keputusan moral berdasarkan hati
nurani, keputusan diambil “dihadapan Tuhan”dan kita sadar dengan tindakan
tersebutmemenuhi kehendak Tuhan.
b. Kaidah emas
Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya prilaku moral adalah
mengukurnya dengan kaidah emas (positif),
c. Penilaian Umum
Cara ketiga dan barang kali paling ampuh untuk menentukan baik buruknya
suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkan kepada masyarakat umum
untuk menilai.
Peran Etika dalam Bisnis:
Menurut Richard De Gorge, bila perusahaan ingin sukses/ berhasil memerlukan 3 hal pokok yaitu:
Produk yang baik
Managemen yang baik
Memiliki etika
Haruslah diyakinin bahwa pada dasrnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena:
• Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
• Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
• Melindungi prinsip kebebasan berniaga
• Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
• Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
• Memperkuat sistem pengawasan
• Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.
10 PRINSIP PENERAPAN ETIKA BISNIS
Berikut ini adalah 10 Prinsip di dalam menerapkan Etika Bisnis yang positif:
Etika Bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi: Tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran.
Etika Bisnis itu berdasarkan pada fairness. Apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen diperlakukan dengan adil? Apakah setiap karyawan diberi kesempatan yang sama? Jika ya, maka etika bisnis telah diterapkan.
Etika Bisnis itu membutuhkan integritas. Integritas merujuk pada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan melaksanakan komitmen.
Etika Bisnis itu membutuhkan kejujuran. Bukan jamannya lagi bagi perusahaan untuk mengelabuhi pihak lain dan menyembunyika cacat produk. Jaman sekarang adalah era kejujuran. Pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya.
Etika Bisnis itu harus dapat dipercayai. Jika perusahaan Anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis Anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder Anda.
Etika Bisnis itu membutuhkan perencanaan bisnis. Sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realitas sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Etika bisnis tidak hidup di dalam ruang hampa. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis.
Etika Bisnis itu diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal dll. Singkatnya, ruang lingkup etika bisnis itu universal.
Etika Bisnis itu membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh. Etika adalah berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang beretika.
Etika Bisnis itu berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis. Rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal. Meski begitu, perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Etika Bisnis itu dimulai dari pimpinan. Ada pepatah, “Pembusukan ikan dimulai dari kepalanya.” Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.
Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, etika bisnis merupakan sebuah harga yang tidak dapat ditawar lagi. Seorang konsumen yang tidak puas, rata-rata akan mengeluh kepada 16 orang di sekitarnya. Dalam zaman informasi seperti ini, baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat dan massif. Memperlakukan karyawan, konsumen, pemasok, pemodal dan masyarakat umum secara etis, adil dan jujur adalah satu-satunya cara supaya kita dapat bertahan di dalam dunia bisnis sekarang.
REFERENSI
www.scribd.com
www.anneahira.com
images.susenoherman.multiply.multiplycontent.com
Pengertian Etika Bisnis
Cara –cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan,industri dan juga masyarakat.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.
Menurut K.Bertens ada 3 tujuan yang ingin di capai dalam etika bisnis, yaitu :
1. menanamkan atau meningkatkan kesadaran akan adanya dimensi etis dalam bisnis.
2. memperkenalkan argumentasi moral khususnya dibidang ekonomi dan bisnis, serta membantu perbisnisan / calon pebisnis dalam menyusun argumentasi yang tepat.
3. menbantu pembisnis /calon pembisnis, untuk menentukan sikap moral yang tepat didalam profesinya (kelak).
Ada tiga aspek pokok dari bisnis yaitu : dari sudut pandang ekonomi, hukum dan etika.
1. Sudut pandang ekonomis
Bisnis adalah kegiatan ekonomis yaitu adanya interaksi antara produsen/ perusahaan dengan pekerja, produsen dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah organisasi. Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis.
2. Sudut pandang moral
Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Dengan menghormati kepentingan dan hak orang lain, maka kita sendiri tidak akan dirugikan.
3. Sudut pandang hukum
Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terkait dengan hukum. Hukum Dagang atau hukum Bisnis, yang merupakan cabang penting dari ilmu modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional maupun internasional
Dari sudut pandang moral, setidaknya ada 3 tolak ukur yaitu : nurani , khaidah emas, penilaian umum.
a. Hati nurani
Suatu perbuatan adalah baik dan perbuatan yang lain buruk bila berlawanan
dengan hati nuraninya.Jika kita mengambil keputusan moral berdasarkan hati
nurani, keputusan diambil “dihadapan Tuhan”dan kita sadar dengan tindakan
tersebutmemenuhi kehendak Tuhan.
b. Kaidah emas
Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya prilaku moral adalah
mengukurnya dengan kaidah emas (positif),
c. Penilaian Umum
Cara ketiga dan barang kali paling ampuh untuk menentukan baik buruknya
suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkan kepada masyarakat umum
untuk menilai.
Peran Etika dalam Bisnis:
Menurut Richard De Gorge, bila perusahaan ingin sukses/ berhasil memerlukan 3 hal pokok yaitu:
Produk yang baik
Managemen yang baik
Memiliki etika
Haruslah diyakinin bahwa pada dasrnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena:
• Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
• Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
• Melindungi prinsip kebebasan berniaga
• Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
• Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
• Memperkuat sistem pengawasan
• Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.
10 PRINSIP PENERAPAN ETIKA BISNIS
Berikut ini adalah 10 Prinsip di dalam menerapkan Etika Bisnis yang positif:
Etika Bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi: Tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran.
Etika Bisnis itu berdasarkan pada fairness. Apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen diperlakukan dengan adil? Apakah setiap karyawan diberi kesempatan yang sama? Jika ya, maka etika bisnis telah diterapkan.
Etika Bisnis itu membutuhkan integritas. Integritas merujuk pada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan melaksanakan komitmen.
Etika Bisnis itu membutuhkan kejujuran. Bukan jamannya lagi bagi perusahaan untuk mengelabuhi pihak lain dan menyembunyika cacat produk. Jaman sekarang adalah era kejujuran. Pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya.
Etika Bisnis itu harus dapat dipercayai. Jika perusahaan Anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis Anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder Anda.
Etika Bisnis itu membutuhkan perencanaan bisnis. Sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realitas sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Etika bisnis tidak hidup di dalam ruang hampa. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis.
Etika Bisnis itu diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal dll. Singkatnya, ruang lingkup etika bisnis itu universal.
Etika Bisnis itu membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh. Etika adalah berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang beretika.
Etika Bisnis itu berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis. Rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal. Meski begitu, perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Etika Bisnis itu dimulai dari pimpinan. Ada pepatah, “Pembusukan ikan dimulai dari kepalanya.” Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.
Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, etika bisnis merupakan sebuah harga yang tidak dapat ditawar lagi. Seorang konsumen yang tidak puas, rata-rata akan mengeluh kepada 16 orang di sekitarnya. Dalam zaman informasi seperti ini, baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat dan massif. Memperlakukan karyawan, konsumen, pemasok, pemodal dan masyarakat umum secara etis, adil dan jujur adalah satu-satunya cara supaya kita dapat bertahan di dalam dunia bisnis sekarang.
REFERENSI
www.scribd.com
www.anneahira.com
images.susenoherman.multiply.multiplycontent.com
Jumat, 12 November 2010
ETIKA BISNIS
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KELAS : 4 EA03
TUGAS : ETIKA BISNIS
Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos ( tunggal) atau ta etha (jamak ) yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat. Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya
Pengertian etika yang pertama identik dengan pengertian moralitas
Moralitas berasal dari bahasa latin, mos (tunggal ) atau mores (jamak) yang berati ada istiadat atau kebiasaan.
Jadi etika dan moralitas mempunyai arti yang sama sebagai sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang konstan dan terulang dalam kurun waktu sehingga menjadi kebiasaan.
Pengertian etika yang kedua berbeda dengan moralitas. Etika inidi pahami sebagai filsafat moral atau ilmu yang menekankan pada pendekatan kritis dalam melihat dan memahami nilai dan norma moral serta permasalahan – permasalahan moral di masyarakat.
Pengertian Moralitas
Moralitas : adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa yang
benar dan salah berdasarkan standar moral.
Standar Moral : ialah standar yang berkaitan dengan persoalan yang dianggap
mempunyai konsekuensi serius, didasrkan pada penalaran yang baik
bukan otoritas kekuasaan, melebihi kepentingan sendiri, tidak memihak
dan pelanggarannya diasosiasikan dengan perasaan bersalah, malu,
menyesal dan lain-lain.
Tujuan Etika dan Norma
1. Mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib teratur, damai,dan sejahtera.
2. mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom.
Perkembangan sikap Moral
Anomi, tejadi pada masa anak-anak yang belum mengenal moral dan tidak peduli pada yang lain.
Heteronomi, merupakan sikap orang individu yang tergantung pada figur otoriter seperti orang tua dan guru.
Sosionomi , merupakan sikap moral individu yang tergantung pada kelompok.
Otonomi , merupakan sikap moral yang tertinggi dimana individu mengambil keputusan moral sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Teori – Teori Etika
1. Etika Deontologi : yaitu menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik
Contoh : manusia beribadah kepada Tuhan karena sudah merupakan kewajiban
manusia untuk menyembah Tuhannya.
2. Etika Teleologi : yaitu suatu tindakan dikatakan baik jika tujuannya baik dan
membawa akibat yang baik dan berguna.
REFERENSI
ristiuty.edublogs.org/files/2008/04/pertemuan-1.ppt
NPM : 10207813
KELAS : 4 EA03
TUGAS : ETIKA BISNIS
Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos ( tunggal) atau ta etha (jamak ) yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat. Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya
Pengertian etika yang pertama identik dengan pengertian moralitas
Moralitas berasal dari bahasa latin, mos (tunggal ) atau mores (jamak) yang berati ada istiadat atau kebiasaan.
Jadi etika dan moralitas mempunyai arti yang sama sebagai sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang konstan dan terulang dalam kurun waktu sehingga menjadi kebiasaan.
Pengertian etika yang kedua berbeda dengan moralitas. Etika inidi pahami sebagai filsafat moral atau ilmu yang menekankan pada pendekatan kritis dalam melihat dan memahami nilai dan norma moral serta permasalahan – permasalahan moral di masyarakat.
Pengertian Moralitas
Moralitas : adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa yang
benar dan salah berdasarkan standar moral.
Standar Moral : ialah standar yang berkaitan dengan persoalan yang dianggap
mempunyai konsekuensi serius, didasrkan pada penalaran yang baik
bukan otoritas kekuasaan, melebihi kepentingan sendiri, tidak memihak
dan pelanggarannya diasosiasikan dengan perasaan bersalah, malu,
menyesal dan lain-lain.
Tujuan Etika dan Norma
1. Mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib teratur, damai,dan sejahtera.
2. mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom.
Perkembangan sikap Moral
Anomi, tejadi pada masa anak-anak yang belum mengenal moral dan tidak peduli pada yang lain.
Heteronomi, merupakan sikap orang individu yang tergantung pada figur otoriter seperti orang tua dan guru.
Sosionomi , merupakan sikap moral individu yang tergantung pada kelompok.
Otonomi , merupakan sikap moral yang tertinggi dimana individu mengambil keputusan moral sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Teori – Teori Etika
1. Etika Deontologi : yaitu menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik
Contoh : manusia beribadah kepada Tuhan karena sudah merupakan kewajiban
manusia untuk menyembah Tuhannya.
2. Etika Teleologi : yaitu suatu tindakan dikatakan baik jika tujuannya baik dan
membawa akibat yang baik dan berguna.
REFERENSI
ristiuty.edublogs.org/files/2008/04/pertemuan-1.ppt
PENGUSAHA YANG TIDAK BERETIKA
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KLS : 4EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
PENGUSAHA YANG TIDAK BERETIKA
Belum reda heboh kasus tumbangnya perusahaan-perusahaan keuangan kelas dunia, bahkan efek 'domino' akan mengakibatkan makin banyak perusahaan yang tumbang, kita dikejutkan kasus produk susu made in China yang mengandung melamin. Dikabarkan, sejauh ini telah menewaskan empat anak dan sekitar 53.000 anak menderita sakit di China. Semula diperkirakan produk yang tercemar melamin ini hanya pada susu bubuk, tetapi ternyata juga pada susu cair, yoghurt, cokelat dan biskuit.
Yang mencengangkan kita, kasus ini bukan hanya pada satu-dua perusahaan, tetapi sudah mencakup produk-produk dari 20-an perusahaan China. Jika sudah demikian banyak perusahaan terlibat, kasusnya sudah bukan "tercemar" melamin, sudah bukan ketidak-sengajaan atau ketidak-hatihatian, tetapi logikanya merupakan praktek tidak terpuji dari pengusaha yang hanya mau mencari untung.
Melamin adalah sejenis bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi plastik dan pupuk. Jika dikonsumsi manusia, bisa menyebabkan timbulnya batu ginjal, dan akhirnya gagal ginjal. Penggunaan melamin diperkirakan adalah akal-akalan dari produsen untuk meningkatkan kadar protein dalam produk susu.
Tahun lalu juga ada kasus pasta gigi made in China yang mengandung bahan berbahaya. Di Indonesia ada kasus penggunaan formalin pada bakso dan ikan asin, yang bertujuan agar dagingnya lebih awet dan tidak cepat membusuk. Juga penggunaan bahan pewarna tekstil pada sirup dan kue. Mungkin masih banyak kasus penggunaan bahan berbahaya dalam industri makanan.
Sekelompok produsen atau pedagang tanpa memperdulikan keselamatan dan kesehatan konsumen dengan "kreatif" menciptakan trik-trik untuk mencari untung. Mereka adalah kategori pedagang yang tidak berorientasi pada pelanggan, tapi hanya mau mencari untung.
Kasus melamin ini hendaklah memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa 'tipu daya' untuk mencari untung akan berakhir dengan kerugian pada pelanggan (konsumen) dan pengusaha itu sendiri. Berbisnis dan mencari untung ada etikanya, bukan dengan menghalalkan segala cara.
(Jim Mintarja - Founder & Master Coach of ACME Success International)
REFERENSI
http://www.jimmintarja.com
NPM : 10207813
KLS : 4EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
PENGUSAHA YANG TIDAK BERETIKA
Belum reda heboh kasus tumbangnya perusahaan-perusahaan keuangan kelas dunia, bahkan efek 'domino' akan mengakibatkan makin banyak perusahaan yang tumbang, kita dikejutkan kasus produk susu made in China yang mengandung melamin. Dikabarkan, sejauh ini telah menewaskan empat anak dan sekitar 53.000 anak menderita sakit di China. Semula diperkirakan produk yang tercemar melamin ini hanya pada susu bubuk, tetapi ternyata juga pada susu cair, yoghurt, cokelat dan biskuit.
Yang mencengangkan kita, kasus ini bukan hanya pada satu-dua perusahaan, tetapi sudah mencakup produk-produk dari 20-an perusahaan China. Jika sudah demikian banyak perusahaan terlibat, kasusnya sudah bukan "tercemar" melamin, sudah bukan ketidak-sengajaan atau ketidak-hatihatian, tetapi logikanya merupakan praktek tidak terpuji dari pengusaha yang hanya mau mencari untung.
Melamin adalah sejenis bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi plastik dan pupuk. Jika dikonsumsi manusia, bisa menyebabkan timbulnya batu ginjal, dan akhirnya gagal ginjal. Penggunaan melamin diperkirakan adalah akal-akalan dari produsen untuk meningkatkan kadar protein dalam produk susu.
Tahun lalu juga ada kasus pasta gigi made in China yang mengandung bahan berbahaya. Di Indonesia ada kasus penggunaan formalin pada bakso dan ikan asin, yang bertujuan agar dagingnya lebih awet dan tidak cepat membusuk. Juga penggunaan bahan pewarna tekstil pada sirup dan kue. Mungkin masih banyak kasus penggunaan bahan berbahaya dalam industri makanan.
Sekelompok produsen atau pedagang tanpa memperdulikan keselamatan dan kesehatan konsumen dengan "kreatif" menciptakan trik-trik untuk mencari untung. Mereka adalah kategori pedagang yang tidak berorientasi pada pelanggan, tapi hanya mau mencari untung.
Kasus melamin ini hendaklah memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa 'tipu daya' untuk mencari untung akan berakhir dengan kerugian pada pelanggan (konsumen) dan pengusaha itu sendiri. Berbisnis dan mencari untung ada etikanya, bukan dengan menghalalkan segala cara.
(Jim Mintarja - Founder & Master Coach of ACME Success International)
REFERENSI
http://www.jimmintarja.com
Minggu, 10 Oktober 2010
RISET PEMASARAN
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KELAS : 4 EA 03
MATA KULIAH : Riset Pemasaran
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG PALING MEMPENGARUHI KEPUASAN KONSUMEN WARNET DI DAERAH PAMULANG
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi internet kini berkembang pesat. Menurut data IDC (Internet Indo Data Centra Indonesia ), ada sekitar 196 juta pengguna Internet di seluruh dunia sampai akhir tahun 1999, dan menjadi 502 juta pengguna pada tahun 2003. Saat ini pengguna internet di Indonesia sebanyak 20 juta orang diperkirakan akan bertambah sebanyak 5 juta orang di tahun 2007. Salah satu fenomena yang terjadi dengan pesatnya pertambahan pengguna internet di Indonesia adalah warung internet dan online game. Dari pengguna internet sebanyak 20 juta orang, 40% diantaranya mengakses internet dari warnet. Pada saat ini Awari (Asosiasi Warung Internet Indonesia) memperkirakan jumlah warnet yang tersebar di Indonesia telah mencapai lebih dari 10 ribu. Omset bisnis warung internet di Indonesia mencapai 180 miliar per bulan dengan margin keuntungan hanya 5%, dengan demikian para pengusaha warnet perlu mengetahui apakah konsumen telah puas terhadap produk yang telah ditawarkan atau dipasarkan. Tingkat persaingan yang sangat tinggi, juga dialami oleh warnet yang terletak di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang Sehubungan dengan hal ini, maka untuk memenangkan persaingan perusahaan perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan konsumen warnet puas.
Rumusan dan Batasan Masalah
Masalah yang akan dibahas oleh penulis disini adalah faktor-faktor apa saja yang menyebabkan konsumen warnet puas dan seberapa besarkah pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kepuasan konsumen warnet khususnya yang ada disekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor –faktor apa saja yang menyebabkan konsumen warnet puas dan seberapa besarkah pengaruh factor-faktor tersebut terhadap kepuasan konsumen di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang .
Manfaat Penelitian
Penulisan ilmiah ini bermanfaat untuk :
1.Bagi Penulis
Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ekonmi
2.Bagi Kampus
Untuk menambah wawasan tentang kepuasan konsumen dan untuk menambah
bahan informasi tentang menajemen pada rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi
Metode pengumpulan data
a) Riset kepustaka
b) Riset Lapangan
Data/ variable yang digunakan
Desain penelitian yang digunakan adalah gabungan antara riset eksploratori dan riset deskriptif. Penelitian ini diawali dengan penelitian eksploratori yang kemudian diteruskan dengan riset deskriptif.
Alat analisis yang digunakan
Alat analisis yang digunakan yaitu dengan Uji Validitas dan Reliabilitas, analisis korelasi, serta analisis regresi linier berganda.
BAB II
LANDASAN TEORI
Kerangka Teori
Perilaku Konsumen
Menurut John C. Mowen (1995:5), perilaku konsumen adalah sebagai berikut: “Consumer Behavior is defined as the study of the buying units and the exchange processes involved in acquiring, consuming and disposing of goods, services, experiences and ideas.” Studi tentang perilaku konsumen adalah studi mengenai bagaimana para individu membuat keputusan untuk menggunakan dana yang dimiliki untuk kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan konsumsi menyangkut bagaimana, dimana, mengapa, berapa banyak, serta berapa sering membeli.
Kepuasan Konsumen
Menurut John C. Mowen (2000:512), Kepuasan Konsumen adalah “Consumer Satisfaction is defined as the overall attitude regarding a good or service after its acquisition and use.” Definisi dari kepuasan konsumen disini adalah keseluruhan sikap yang timbul setelah membeli atau menggunakan sebuah produk atau jasa.
Atribut-Atribut Pembentuk Kepuasan Konsumen
Menurut Hawkins dan Lonney (jurnal Faktor-faktor yang mempengaruhi kesetiaan terhadap merk pada konsumen pasta gigi Pepsodent di Surabaya, 2003:102), atribut-atribut pembentuk customer satisfaction dikenal dengan “The Big Eight” yang terdiri dari:
a. Value to Price Relationship
Artinya bahwa hubungan antara harga dan nilai produk ditentukan oleh perbedaan antara nilai yang diterima pelanggan terhadap suatu produk yang dihasilkan oleh badan usaha.
RISET SEBELUMNYA
b. Product Quality
Artinya merupakan mutu dari semua komponen-komponen yang membentuk produk sehingga produk tersebut mempunyai nilai tambah.
c. Product Features
Artinya merupakan komponen-komponen fisik dari suatu produk yang menghasilkan.
d. Reliability
Artinya merupakan gabungan dari kemampuan suatu produk dari badan usaha yang dapat diandalkan, sehingga suatu produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh badan usaha.
e. Warranty
Artinya penawaran untuk pengembalian harga pembelian atau mengadakan perbaikan terhadap produk yang rusak dalam suatu kondisi dimana suatu produk mengalami kerusakan setelah pembelian.
f. Response to and Remedy of Problems
Artinya merupakan sikap dari karyawan di dalam memberikan tanggapan terhadap keluhan atau membantu pelanggan didalam mengatasi masalah yang terjadi.
g. Sales experience
Artinya merupakan hubungan semua antar pribadi antara karyawan dengan pelanggan khususnya dalam hal komunikasi yang berhubungan dengan pembelian.
h. Convenience of Acquisition
Artinya merupakan kemudahan yang diberikan oleh badan usaha kepada pelanggan terhadap produk yang dihasilkannya.
Pengertian Jasa
Menurut Kotler (2000:486) jasa adalah “setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.” Jasa merupakan pelayanan langsung dari produsen pemberi jasa kepada para konsumennya. Karena bersifat langsung, maka karakteristik atau ciri-ciri dari pelayanan jasa berbeda dengan produksi dan pemasaran barang.Pemasaran jasa bersifat sensitif dalam menghayati kebutuhan konsumennya. Para tenaga pemasar harus selalu dekat dan terus menerus memperhatikan para konsumennya.
BABIII
METODE PENELITIAN
Obyek Penelitian
Dalam penelitian ini obyek yang diteliti adalah pelanggan atau pengunjung warung internet di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang. Warung internet yang disurvey berjumlah 10 (sepuluh) warnet yaitu Kyoto, Q net, Jaya net, Pamulang net, D-base, Telkom, Meganet, Logos, Gravity, dan Heroes. Penelitian dilakukan dengan melakukan penyebaran kuesioner selama dua hari berturut-turut di warung internet tersebut
Data / Variabel yang digunakan
Data penelitian yang digunakan adalah gabungan antara riset eksploratori dan riset deskriptif. Penelitian ini diawali dengan penelitian eksploratori yang kemudian diteruskan dengan riset deskriptif. Menurut Malhotra (2004:78) descriptive research adalah : “A type of conclusive research that has as its major objective the description of something – usually market characteristics or functions. Thus, a descriptive design requires a clear specification of the who, what, when, where, why and way (the six Ws) of the research”. Berdasarkan teori tersebut maka pertanyaan dalam kuesioner penelitian diarahkan untuk menjawab keenam W tersebut.
Pembatasan Ruang Lingkup Penelitian Dan Pemilihan Atribut Yang Akan Diteliti
Berdasarkan data dari Asosiasi Pengusaha Warnet Komunitas Telematika (APWKOMITEL) (http://www.apwkomitel.org/warnetjakarta.htm), di Jakarta sendiri tercatat 133 warnet dan jumlah ini diyakini hanya separuh dari total keseluruhan warnet yang ada dan jumlahnya terus berkembang. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka penulis memutuskan untuk membatasi ruang lingkup penelitian menjadi sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang. Dasar pertimbangan lain adalah karena penulis melihat banyaknya warnet yang terus bermunculan di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang.
Pemilihan Atribut Yang Akan Diteliti
Di dalam survey tersebut terdapat atribut seperti frekuensi kunjungan, fasilitas, kecepatan akses, suasana, pelayanan, dan harga yang dibayarkan. Pertimbangan lain yang dilakukan penulis adalah karena penulis juga merupakan salah satu pelanggan warnet yang menggunakan fasilitas dari warnet secara berkala. Berdasarkan survey yang sudah ada dan pengalaman penulis sebagai pelanggan warnet, maka penulis memutuskan untuk memilih atribut yang diteliti berdasarkan survey yang sudah ada ditambah dengan atribut lokasi yang dianggap penulis dapat mempengaruhi kepuasan konsumen warnet. Atribut lokasi ini dianggap penting oleh penulis karena lokasi warnet yang dekat dan mudah didatangi bisa menjadi salah satu faktor penyebab kepuasan konsumen. Frekuensi kunjungan akan menjadi ukuran untuk tingkat kepuasan konsumen. Selanjutnya enam atribut yang akan diteliti yaitu, lokasi, fasilitas, kecepatan akses, suasana, pelayanan dan harga yang dibayarkan akan diteliti dengan menggunakan daftar pertanyaan berupa kuosioner.
Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dimana pemilihan anggota populasi untuk masuk dalam sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan subyektif peneliti. Pertimbangan dibuat berdasarkan faktor biaya, waktu, lokasi, informasi yang dibutuhkan, dan sebagainya. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan dalam metode non probability sampling adalah judgement sampling.
.
Sampel Penelitian
Responden yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah para pengunjung warung internet di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang sebanyak 60 orang.
Uji Validitas dan Reliabilitas Uji Validitas
Menurut Supramono dan Haryanto (2005:780) validitas menjawab pertanyaan apakah instrumen penelitian yang telah disusun benar – benar telah akurat, sehingga mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Nilai validitas diwakili oleh r (Corrected Item – Total Correlation) yang merupakan hasil dari perhitungan SPSS yaitu: Jika r ≥ r tabel, maka item variable valid Jika r ≤ r tabel, maka item variable itu tidak valid
Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang dapat menghasilkan hasil pengukuran yang relatif sama apabila instrumen itu dipakai untuk mengukur obyek yang sama pada dua atau lebih waktu yang berbeda. Teknik yang digunakan adalah koefisien Alpha Cronbach dimana besaran koefisien alpha yang diperoleh sama dengan besaran koefisien korelasi yaitu bergerak dari -1 sampai dengan +1 dan ditafsirkan secara sama dengan penafsiran atas koefisien korelasi (Aritonang, 1998:139) . Besaran koefisien Alpha (α) dihitung dengan mengunakan rumus sebagai berikut:
α = b(V1 – Σ Vi )
( b – 1 )Vt
Keterangan:
B = Banyaknya butir instrumen
Vt = variasi skor total
Vi = variasi butir i
Perhitungan untuk menentukan besaran korelasi Alpha maka penulis akan mencoba menghitung dengan menggunakan SPSS. Nilai reliabilitas diwakili oleh r(α ) ≥ 0,7 maka item tersebut reliable. Apabila (α ) ≤ 0,7 maka item variable tersebut tidak reliable.
Analisis Korelasi
Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor khususnya antara Y dengan x1, Y dengan x2, Y dengan x3, Y dengan x4, Y dengan x5, Y dengan x6. Hasil dari analisis korelasi ini akan menunjukkan hubungan antara masing-masing faktor (x) dengan kepuasan konsumen (Y). Dan hasil analisis korelasi ini akan dibuktikan lebih jauh dalam analisis regresi linear berganda.
Analisis Regresi linear berganda
Metode ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel jika terdapat lebih dari 2 variabel dengan persamaan:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6
Dimana :
Y = Kepuasan konsumen
X1 = Lokasi
X2 = Harga
X3 = Fasilitas
X4 = Kecepatan akses
X5 = Suasana
X6 = Pelayanan
Pengukuran varibael paling penting bagi kepuasan konsumen dilakukan dengan mempelajari bentuk-bentuk regresi secara step wise analysis.
Pengujian Koefisien
Pengujian koefisien dengan tabel t, dengan rumus sebagai berikut :
r n-2
to = , mengikuti fungsi t dengan derajat kebebasan v = n
√ (1 – r2)
Kriteria Penilaian:
Jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak.
Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima.
riset sbelumnya:
http://www.ubm.ac.id/manajemen
NPM : 10207813
KELAS : 4 EA 03
MATA KULIAH : Riset Pemasaran
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG PALING MEMPENGARUHI KEPUASAN KONSUMEN WARNET DI DAERAH PAMULANG
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi internet kini berkembang pesat. Menurut data IDC (Internet Indo Data Centra Indonesia ), ada sekitar 196 juta pengguna Internet di seluruh dunia sampai akhir tahun 1999, dan menjadi 502 juta pengguna pada tahun 2003. Saat ini pengguna internet di Indonesia sebanyak 20 juta orang diperkirakan akan bertambah sebanyak 5 juta orang di tahun 2007. Salah satu fenomena yang terjadi dengan pesatnya pertambahan pengguna internet di Indonesia adalah warung internet dan online game. Dari pengguna internet sebanyak 20 juta orang, 40% diantaranya mengakses internet dari warnet. Pada saat ini Awari (Asosiasi Warung Internet Indonesia) memperkirakan jumlah warnet yang tersebar di Indonesia telah mencapai lebih dari 10 ribu. Omset bisnis warung internet di Indonesia mencapai 180 miliar per bulan dengan margin keuntungan hanya 5%, dengan demikian para pengusaha warnet perlu mengetahui apakah konsumen telah puas terhadap produk yang telah ditawarkan atau dipasarkan. Tingkat persaingan yang sangat tinggi, juga dialami oleh warnet yang terletak di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang Sehubungan dengan hal ini, maka untuk memenangkan persaingan perusahaan perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan konsumen warnet puas.
Rumusan dan Batasan Masalah
Masalah yang akan dibahas oleh penulis disini adalah faktor-faktor apa saja yang menyebabkan konsumen warnet puas dan seberapa besarkah pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kepuasan konsumen warnet khususnya yang ada disekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor –faktor apa saja yang menyebabkan konsumen warnet puas dan seberapa besarkah pengaruh factor-faktor tersebut terhadap kepuasan konsumen di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang .
Manfaat Penelitian
Penulisan ilmiah ini bermanfaat untuk :
1.Bagi Penulis
Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ekonmi
2.Bagi Kampus
Untuk menambah wawasan tentang kepuasan konsumen dan untuk menambah
bahan informasi tentang menajemen pada rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi
Metode pengumpulan data
a) Riset kepustaka
b) Riset Lapangan
Data/ variable yang digunakan
Desain penelitian yang digunakan adalah gabungan antara riset eksploratori dan riset deskriptif. Penelitian ini diawali dengan penelitian eksploratori yang kemudian diteruskan dengan riset deskriptif.
Alat analisis yang digunakan
Alat analisis yang digunakan yaitu dengan Uji Validitas dan Reliabilitas, analisis korelasi, serta analisis regresi linier berganda.
BAB II
LANDASAN TEORI
Kerangka Teori
Perilaku Konsumen
Menurut John C. Mowen (1995:5), perilaku konsumen adalah sebagai berikut: “Consumer Behavior is defined as the study of the buying units and the exchange processes involved in acquiring, consuming and disposing of goods, services, experiences and ideas.” Studi tentang perilaku konsumen adalah studi mengenai bagaimana para individu membuat keputusan untuk menggunakan dana yang dimiliki untuk kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan konsumsi menyangkut bagaimana, dimana, mengapa, berapa banyak, serta berapa sering membeli.
Kepuasan Konsumen
Menurut John C. Mowen (2000:512), Kepuasan Konsumen adalah “Consumer Satisfaction is defined as the overall attitude regarding a good or service after its acquisition and use.” Definisi dari kepuasan konsumen disini adalah keseluruhan sikap yang timbul setelah membeli atau menggunakan sebuah produk atau jasa.
Atribut-Atribut Pembentuk Kepuasan Konsumen
Menurut Hawkins dan Lonney (jurnal Faktor-faktor yang mempengaruhi kesetiaan terhadap merk pada konsumen pasta gigi Pepsodent di Surabaya, 2003:102), atribut-atribut pembentuk customer satisfaction dikenal dengan “The Big Eight” yang terdiri dari:
a. Value to Price Relationship
Artinya bahwa hubungan antara harga dan nilai produk ditentukan oleh perbedaan antara nilai yang diterima pelanggan terhadap suatu produk yang dihasilkan oleh badan usaha.
RISET SEBELUMNYA
b. Product Quality
Artinya merupakan mutu dari semua komponen-komponen yang membentuk produk sehingga produk tersebut mempunyai nilai tambah.
c. Product Features
Artinya merupakan komponen-komponen fisik dari suatu produk yang menghasilkan.
d. Reliability
Artinya merupakan gabungan dari kemampuan suatu produk dari badan usaha yang dapat diandalkan, sehingga suatu produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh badan usaha.
e. Warranty
Artinya penawaran untuk pengembalian harga pembelian atau mengadakan perbaikan terhadap produk yang rusak dalam suatu kondisi dimana suatu produk mengalami kerusakan setelah pembelian.
f. Response to and Remedy of Problems
Artinya merupakan sikap dari karyawan di dalam memberikan tanggapan terhadap keluhan atau membantu pelanggan didalam mengatasi masalah yang terjadi.
g. Sales experience
Artinya merupakan hubungan semua antar pribadi antara karyawan dengan pelanggan khususnya dalam hal komunikasi yang berhubungan dengan pembelian.
h. Convenience of Acquisition
Artinya merupakan kemudahan yang diberikan oleh badan usaha kepada pelanggan terhadap produk yang dihasilkannya.
Pengertian Jasa
Menurut Kotler (2000:486) jasa adalah “setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.” Jasa merupakan pelayanan langsung dari produsen pemberi jasa kepada para konsumennya. Karena bersifat langsung, maka karakteristik atau ciri-ciri dari pelayanan jasa berbeda dengan produksi dan pemasaran barang.Pemasaran jasa bersifat sensitif dalam menghayati kebutuhan konsumennya. Para tenaga pemasar harus selalu dekat dan terus menerus memperhatikan para konsumennya.
BABIII
METODE PENELITIAN
Obyek Penelitian
Dalam penelitian ini obyek yang diteliti adalah pelanggan atau pengunjung warung internet di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang. Warung internet yang disurvey berjumlah 10 (sepuluh) warnet yaitu Kyoto, Q net, Jaya net, Pamulang net, D-base, Telkom, Meganet, Logos, Gravity, dan Heroes. Penelitian dilakukan dengan melakukan penyebaran kuesioner selama dua hari berturut-turut di warung internet tersebut
Data / Variabel yang digunakan
Data penelitian yang digunakan adalah gabungan antara riset eksploratori dan riset deskriptif. Penelitian ini diawali dengan penelitian eksploratori yang kemudian diteruskan dengan riset deskriptif. Menurut Malhotra (2004:78) descriptive research adalah : “A type of conclusive research that has as its major objective the description of something – usually market characteristics or functions. Thus, a descriptive design requires a clear specification of the who, what, when, where, why and way (the six Ws) of the research”. Berdasarkan teori tersebut maka pertanyaan dalam kuesioner penelitian diarahkan untuk menjawab keenam W tersebut.
Pembatasan Ruang Lingkup Penelitian Dan Pemilihan Atribut Yang Akan Diteliti
Berdasarkan data dari Asosiasi Pengusaha Warnet Komunitas Telematika (APWKOMITEL) (http://www.apwkomitel.org/warnetjakarta.htm), di Jakarta sendiri tercatat 133 warnet dan jumlah ini diyakini hanya separuh dari total keseluruhan warnet yang ada dan jumlahnya terus berkembang. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka penulis memutuskan untuk membatasi ruang lingkup penelitian menjadi sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang. Dasar pertimbangan lain adalah karena penulis melihat banyaknya warnet yang terus bermunculan di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang.
Pemilihan Atribut Yang Akan Diteliti
Di dalam survey tersebut terdapat atribut seperti frekuensi kunjungan, fasilitas, kecepatan akses, suasana, pelayanan, dan harga yang dibayarkan. Pertimbangan lain yang dilakukan penulis adalah karena penulis juga merupakan salah satu pelanggan warnet yang menggunakan fasilitas dari warnet secara berkala. Berdasarkan survey yang sudah ada dan pengalaman penulis sebagai pelanggan warnet, maka penulis memutuskan untuk memilih atribut yang diteliti berdasarkan survey yang sudah ada ditambah dengan atribut lokasi yang dianggap penulis dapat mempengaruhi kepuasan konsumen warnet. Atribut lokasi ini dianggap penting oleh penulis karena lokasi warnet yang dekat dan mudah didatangi bisa menjadi salah satu faktor penyebab kepuasan konsumen. Frekuensi kunjungan akan menjadi ukuran untuk tingkat kepuasan konsumen. Selanjutnya enam atribut yang akan diteliti yaitu, lokasi, fasilitas, kecepatan akses, suasana, pelayanan dan harga yang dibayarkan akan diteliti dengan menggunakan daftar pertanyaan berupa kuosioner.
Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dimana pemilihan anggota populasi untuk masuk dalam sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan subyektif peneliti. Pertimbangan dibuat berdasarkan faktor biaya, waktu, lokasi, informasi yang dibutuhkan, dan sebagainya. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan dalam metode non probability sampling adalah judgement sampling.
.
Sampel Penelitian
Responden yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah para pengunjung warung internet di sekitar pertigaan Reni Jaya Pamulang sebanyak 60 orang.
Uji Validitas dan Reliabilitas Uji Validitas
Menurut Supramono dan Haryanto (2005:780) validitas menjawab pertanyaan apakah instrumen penelitian yang telah disusun benar – benar telah akurat, sehingga mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Nilai validitas diwakili oleh r (Corrected Item – Total Correlation) yang merupakan hasil dari perhitungan SPSS yaitu: Jika r ≥ r tabel, maka item variable valid Jika r ≤ r tabel, maka item variable itu tidak valid
Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang dapat menghasilkan hasil pengukuran yang relatif sama apabila instrumen itu dipakai untuk mengukur obyek yang sama pada dua atau lebih waktu yang berbeda. Teknik yang digunakan adalah koefisien Alpha Cronbach dimana besaran koefisien alpha yang diperoleh sama dengan besaran koefisien korelasi yaitu bergerak dari -1 sampai dengan +1 dan ditafsirkan secara sama dengan penafsiran atas koefisien korelasi (Aritonang, 1998:139) . Besaran koefisien Alpha (α) dihitung dengan mengunakan rumus sebagai berikut:
α = b(V1 – Σ Vi )
( b – 1 )Vt
Keterangan:
B = Banyaknya butir instrumen
Vt = variasi skor total
Vi = variasi butir i
Perhitungan untuk menentukan besaran korelasi Alpha maka penulis akan mencoba menghitung dengan menggunakan SPSS. Nilai reliabilitas diwakili oleh r(α ) ≥ 0,7 maka item tersebut reliable. Apabila (α ) ≤ 0,7 maka item variable tersebut tidak reliable.
Analisis Korelasi
Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor khususnya antara Y dengan x1, Y dengan x2, Y dengan x3, Y dengan x4, Y dengan x5, Y dengan x6. Hasil dari analisis korelasi ini akan menunjukkan hubungan antara masing-masing faktor (x) dengan kepuasan konsumen (Y). Dan hasil analisis korelasi ini akan dibuktikan lebih jauh dalam analisis regresi linear berganda.
Analisis Regresi linear berganda
Metode ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel jika terdapat lebih dari 2 variabel dengan persamaan:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6
Dimana :
Y = Kepuasan konsumen
X1 = Lokasi
X2 = Harga
X3 = Fasilitas
X4 = Kecepatan akses
X5 = Suasana
X6 = Pelayanan
Pengukuran varibael paling penting bagi kepuasan konsumen dilakukan dengan mempelajari bentuk-bentuk regresi secara step wise analysis.
Pengujian Koefisien
Pengujian koefisien dengan tabel t, dengan rumus sebagai berikut :
r n-2
to = , mengikuti fungsi t dengan derajat kebebasan v = n
√ (1 – r2)
Kriteria Penilaian:
Jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak.
Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima.
riset sbelumnya:
http://www.ubm.ac.id/manajemen
Minggu, 03 Oktober 2010
REVIEW JURNAL
Nama : Nur Fitriani
Kelas : 4 EA 03
NPM : 10207813
Tugas Riset Pemasaran (R eview Jurnal)
1. Tema / Topik : Bauran Pemasaran
2. Judul, Pengarang.& Tahun
a) judul : PERAN BAURAN PEMASARAN TERHADAP PERILAKU
PEMBELIAN KONSUMEN
Nama : Hotniar Siringoringo
Tahun : 2004
b) judul : PENGARUH PELAKSANAAN BAURAN PEMASARAN TERHADAP
PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA JAMU DI
BANDA ACEH
Nama : Rusydi Abubakar
Tahun : 2005
c) judul : “Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan
Pembelian Album Band Indie Kota Malang”
(Studi Pada Siswa AMP, Siswa SMA, Dan Mahasiswa Di Kota
Malang)
Nama : Faizal Abadi
Tahun : 2007
3. Latar belakang masalah
Era pasar bebas dunia tahun 2020,akan terjadi liberaliasi ekonomi yang berpengaruh terhadap stuktur pasar yang tidak mengenal lagi batas-batas antar negara. Persaingan tidak hanya pada skala kota dan wilayah akan tetapi persaingan kualitas dari pada kuantitas poduk dan pelayanan. Namun selain tantangan dan persaingan terdapat peluang bagi pelaku ekonomi untuk ikut memberikan kegiatan pemasaran yang makin luas. Dalm berbagai usaha bisnis yang berkmbng saat ini, baik yang meghsilkan barang maupun jaa, pern pemasaran sangatlah penting karena merupakan salah satu fakto kunci penentu kebrhasilan bisnis. Dengan katalin : pemasaran merupakan inti seluruh aktivitas bisnis.Ini berkitan dengan fungsi pemasaran,sebagai penghubung antara prusahaan dan konsumen (C.M.Lingga Purnama,2001 :1). Liberalisasi perdagangan merupakan tuntututan adanya globalisasi, yaitu suatu pelaksanaan regim kesepakatn system perdagangan dunia, hilangnya batas-batas negara yang bias menghambta kelancarn arus barang, jasa, modal dan finansial secara internaioanl.Ada dua sisi dari libralisasi perdgnagn, sisi pertama bahwa liberalisasi membrikan peluang (opportunities), melalui penurunan hambtan-hambatan tariff dannon tariff dn meningkatk akses produk-produk domstik ke pasar internaional. Sisi kedua, liberlisi perdagnagn juga menjadi ancaman (threat), karena perdagangan bebas. menuntut pnghapusan subsidi danproteksi sehingga dapat membanjirkannay produk-produk asing di pasar dalam negeri. Program pemasaran yang efektif meramu semua unsur-uns0,38ur marketing mix menjadi suatu program terpadu yang dirancang untuk mencapai sasaran perusahaan. Pengambilan keputusan tentang produk,harga, promosi,dan tempat penjualan hendaknya dapat menciptakan program pemasaran yang kohesif di pasar sasaran. Dengan demikian program pemasaran menggabungkan semua kemampuan pemasaran perusahaan tersebut akan menjadi sekumpulan kegiatan yang menentukan posisi perusahaan terhadap pesaing, dalam rangka bersaing merebut pasar sasaran. Permintaan obat tradisional (jamu) makin meningkat. Omset penjualan jamu meningkat 40 prsen setiap tahun. Pada tahun 2000 nilai penjualan jamu diperkirakan Rp. 800 milliar. Dengan peningkatan sekitar 38 % berarti nilai penjualan menmbus Rp. 1,2 triliun. Adapun hingga akhir tahun 2002, diperkirakan terjadi kenaikan setara, setidaknya menembus angka penjualan Rp. 1,8 triliun. Yang menggembirakan konsumsi terbesar jamu tersebut adalah pasar dalam negeri. Artinya masih banyak konsumen jamu loyal di negeri ini. Hal ini juga dikuatkan temuan survei MARS (Marketing Research Specialist) baru-baru ini., bahwa lebih dari 85,40 % konsumen jamu adalah konsumen loyal. Disebutkan hanya 12,36 % bisa dibujuk untuk pindah. ke merek lain, dan hanya 2,24 % yang berencana atau siap-siap pindah ke merek lain. Persaingan bisnis industri jamu yang semakin ketat, memaksa setiap perusahaan selalu berebut perhatian konsumen melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan, dengan memperhatikan kecenderungan perubahan sosial, menganalisis kiat-kiat pesaing dan mengamati perubahan teknologi,ekonomi,politik dan sosial. Jika ada pelanggan yang menghentikan pembeliannya atau pindah ke produk lain, perlu disikapi sebagai suatu perubahan perilaku konsumen. Perubahan perilaku konsumen semacam ini harus dilihat sebagai kenyataan yang buruk. Berdasarkan uraikan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul yang berkaitan dengan “ Pengaruh Pelaksanaan Bauran Pemasaran terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen pada Jamu di Banda Aceh”
Adapun perumusan masalah sebagai berikut:
Sejauh mana pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran oleh industri jamu terhadap proses pengambilan keputusan pembelian konsumen produk jamu di Banda Aceh. Dan bauran pemasaran yang mana pengaruhnya paling besar terhadap pengambilan keputusan pembelian konsumen pada industri jamu.
Metedologi
Penelitian ini menganalisa pengaruh bauran pemasaran industri jamu terhadap proses keputusan pembeli konsumen. Objek penelitian untuk variable bebas/independent variable adalah bauran pemasaran dengan sub variable yaitu : produk,harga.promosi dan tempat.
Objek penelitian lainnya sebagai variabel terikat/Dependent Variabel adalah keputusan pembelian konsumen. Yang dijadikan respon adalah pengguna produk jamu. Untuk menganalisa objek penelitian ini dipergunakan pendekatan deskriptif dan variatif, melalui analisis jalur (Path Analysis).
Manajemen penelitian ini merupakan pendekatan Ilmu Ekonomi Terutama dari ilmu uang memfokuskan pada bidang Manajemen Pemasaran secara khusus pada aspek bauran pemasaran dan pengaruhnya terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada industri jamu di Banda Aceh.
Variabel-varibel dalam penelitian pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran terhadap proses keputusan-keputusan pembelian konsumen pada indutri jamu Di Banda Aceh terdiri dari :
1. Variabel bebas/independent variabel (Variabel X) adalah bauran pemasaran. Sub
variable : produk (X1),harga (X2), promosi(X3) dan tempat (X4).
2. Produk terikat/Dependent variabel (variabel Y) adalah proses keputusan
pembelian konsumen.
Unit observasi pada penelitian ini adalah industri jamu Kota Banda Aceh untuk mendapatkan data sekunder,konsumen produk jamu yang ada di Banda Aceh untuk mendapatkan data primer sebagai unit analisis dalam penelitian ini.
1. Dalam penelitian ini ukuran sample untuk konsumen (responden) ditentukan
berdasarkan bentuk pengujian statistik yang akan digunakan untuk menguji
hipotesis. Hipotesis akan diuji dengan menggunakan Analisis Jalur (Path
Analysis). Dengan demikian ukuran sample minimal untuk analisis jalur ini,
dapat ditentukan melalui rumus ukuran sample minimal untuk ukuran korelasi
koefisien yang dilakukan secara iteratif (perhitungan berulang-ulang)
2.Apabila ukuran sample minimal pada iterasi pertama dan iterasi kedua harganya
sampai dengan bilangan yang satuannya sama, maka iterasi berhenti. Apabila
belum sama, lakukan iterasi ketiga dengan menggunakan rumus 4b, demikian
seterusnya sampai ukuran sample yang akan ditentukan sudah sama baru berhenti.
3. Berdasarkan keterangan di atas dalam penelitian ini diambil :
Hasil dan kesimpulan
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan analisa jalur (path analysis). Pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran (X) terdiri dari produk (X1),harga (X2), promosi (X3), dan tempat (X4) di mana semua variabel tersebut adalah variabel bebas (independent). Sedangkan variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini pengambilan keputusan pembelian konsumen (Y), disamping itu terdapat variabel residual yang diberi lambang (ε). Nilai koefisien jalur dari persamaan struktural tersebut, perlu dilakukan pengujian signifikannya, untuk mengetahui kebermaknaan variabel bebas Xi mempengaruhi variabel tidak bebas (Y), melalui dua langkah pengujian koefisien jalur, yaitu langkah pertama pengujian hipotesis secara simultan, sedangkan langkah kedua dilakukan pengujian hipotesi secara parsial. Pengujian secara simultan berfungsi menilai kebermaknaan seluruh koefisien jalur variabel bebas terhadap koefisien jalur variabel tidak bebas, dan pengujian secara parsial, menilai kebermaknaan masing-masing koefisien jalur dari variable bebas terhadap koefisien jalur dari variabel tidak bebas. Secara statistik, dalam pengujian hipotesis secara simultan digunakan uji F (Bahren-Fisher), sedangkan secara parsial dilakukan uji t-student. Hasil analisis pengujian secara simultan menunjukkan bahwa variable bebas mempengaruhi variable tidak bebas, artinya bahwa variable produk jamu (X1), harga jamu (X2), promosi jamu (X3),dan tempat penjualan jamu (X4) berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian konsumen. Secara matematis, hasil pengujian tersebut dirumuskan dalam persamaan :
Y=0,452748 X1 + 0,332349 X2 + 0,529537 X3 + 0,50156 X4
Hubungan matematis ini menunjukkan nilai Fhit sebesar 158,8573796, sedangkan nilai F0,05 adalah sebesar 2,407, sehingga Fhit > F0,05, berarti Ho ditolak (signifikan). Besarnya pengaruh variable bebas terhadap variable tidak bebas dapat dilihat melalui nilai koefisien determinasi (R2). Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh adalah sebesar 0,7428, yang berarti bahwa variasi keputusan pembelian konsumen pada industri jamu dipengaruhi oleh produk jamu (X1), harga(X2), promosi jamu (X3) dan tempat penjualan jamu (X4) sebesar 74,28 persen. Sedangkan sisanya sebesar 25,72 persen ditentukan oleh variable lainnya. Dengan kata lain, sebenarnya keputusan pembelian konsumen pada industri jamu tidak hanya ditentukan oleh variabel-variabel tersebut,tetapi ditentukan juga oleh faktor-faktor lainnya. Secara statistik,hasil analisis dan pengujian hipotesis secara simultan menunjukkan hasil yang signifikan, untuk itu perlu dilakukan pengujian hipotesis secara parsial melalui uji t-student. Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variable bebas (Xi) terhadap variable tidak bebas (Y) disajikan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka dapat ditarik beberapa kesimpualan sebagai berikut :
1. Dari pengujian statistik ternyata pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran
produk industri jamu di Banda Aceh secara simultan berpengaruh positif
(58,11%) hal ini dicerminkan dari tanggapan/pertimbangan konsumen atas
masing-masing indikator bauran pemasaran yang meliputi produk, harga,
promosi dan distribusi atau tempat industri jamu di Banda Aceh. Dan jika
dianalisis secara parsial produk berpengaruh positif,harga berpengaruh
positif,promosi berpengaruh positif dan distribusi atau tempat berpengaruh
negatif terhadap keputusan pembelian konsumen. Dan juga yang tidak bisa
diabaikan oleh industri jamu di Banda Aceh yaitu faktor lain yang mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen yaitu sebesar (41,89%)
2. Pengaruh bauran pemasaran terhadap proses keputusan pembelian konsumen
yang paling dominan dari unsur bauran yang terdiri dari :
A. Bauran produk yang dilaksanakan oleh industri jamu mempunyai pengaruh
secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada industri jamu di
Banda Aceh (19,98%)
B. Bauran harga yang dilaksanakan oleh industri jamu mempunyai pengaruh
secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada industri jamu di
Banda Aceh (8,53%).
C.Bauran promosi yang dilaksanakan oleh industri jamu mempunyai pengaruh
secara signifikan terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada industri
jamu di Banda Aceh (28,60%)
D. Ditribusi atau tempat yang dilaksanakan oleh industri jamu tidak mempunyai
pengaruh non signifikan terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada
industri jamu di Banda Aceh (1,00%)
Saran untuk lanjutan
Berdasarkan review jurnal diatas dalam pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran, sebagai produsen harus mengetahui karakteristik dari pasar tersebut, serta memberikan suatu keuntungan bagi konsumen dalam memasarkan produk mereka dengan cara melakukan sebuah promosi.
Kelas : 4 EA 03
NPM : 10207813
Tugas Riset Pemasaran (R eview Jurnal)
1. Tema / Topik : Bauran Pemasaran
2. Judul, Pengarang.& Tahun
a) judul : PERAN BAURAN PEMASARAN TERHADAP PERILAKU
PEMBELIAN KONSUMEN
Nama : Hotniar Siringoringo
Tahun : 2004
b) judul : PENGARUH PELAKSANAAN BAURAN PEMASARAN TERHADAP
PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA JAMU DI
BANDA ACEH
Nama : Rusydi Abubakar
Tahun : 2005
c) judul : “Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan
Pembelian Album Band Indie Kota Malang”
(Studi Pada Siswa AMP, Siswa SMA, Dan Mahasiswa Di Kota
Malang)
Nama : Faizal Abadi
Tahun : 2007
3. Latar belakang masalah
Era pasar bebas dunia tahun 2020,akan terjadi liberaliasi ekonomi yang berpengaruh terhadap stuktur pasar yang tidak mengenal lagi batas-batas antar negara. Persaingan tidak hanya pada skala kota dan wilayah akan tetapi persaingan kualitas dari pada kuantitas poduk dan pelayanan. Namun selain tantangan dan persaingan terdapat peluang bagi pelaku ekonomi untuk ikut memberikan kegiatan pemasaran yang makin luas. Dalm berbagai usaha bisnis yang berkmbng saat ini, baik yang meghsilkan barang maupun jaa, pern pemasaran sangatlah penting karena merupakan salah satu fakto kunci penentu kebrhasilan bisnis. Dengan katalin : pemasaran merupakan inti seluruh aktivitas bisnis.Ini berkitan dengan fungsi pemasaran,sebagai penghubung antara prusahaan dan konsumen (C.M.Lingga Purnama,2001 :1). Liberalisasi perdagangan merupakan tuntututan adanya globalisasi, yaitu suatu pelaksanaan regim kesepakatn system perdagangan dunia, hilangnya batas-batas negara yang bias menghambta kelancarn arus barang, jasa, modal dan finansial secara internaioanl.Ada dua sisi dari libralisasi perdgnagn, sisi pertama bahwa liberalisasi membrikan peluang (opportunities), melalui penurunan hambtan-hambatan tariff dannon tariff dn meningkatk akses produk-produk domstik ke pasar internaional. Sisi kedua, liberlisi perdagnagn juga menjadi ancaman (threat), karena perdagangan bebas. menuntut pnghapusan subsidi danproteksi sehingga dapat membanjirkannay produk-produk asing di pasar dalam negeri. Program pemasaran yang efektif meramu semua unsur-uns0,38ur marketing mix menjadi suatu program terpadu yang dirancang untuk mencapai sasaran perusahaan. Pengambilan keputusan tentang produk,harga, promosi,dan tempat penjualan hendaknya dapat menciptakan program pemasaran yang kohesif di pasar sasaran. Dengan demikian program pemasaran menggabungkan semua kemampuan pemasaran perusahaan tersebut akan menjadi sekumpulan kegiatan yang menentukan posisi perusahaan terhadap pesaing, dalam rangka bersaing merebut pasar sasaran. Permintaan obat tradisional (jamu) makin meningkat. Omset penjualan jamu meningkat 40 prsen setiap tahun. Pada tahun 2000 nilai penjualan jamu diperkirakan Rp. 800 milliar. Dengan peningkatan sekitar 38 % berarti nilai penjualan menmbus Rp. 1,2 triliun. Adapun hingga akhir tahun 2002, diperkirakan terjadi kenaikan setara, setidaknya menembus angka penjualan Rp. 1,8 triliun. Yang menggembirakan konsumsi terbesar jamu tersebut adalah pasar dalam negeri. Artinya masih banyak konsumen jamu loyal di negeri ini. Hal ini juga dikuatkan temuan survei MARS (Marketing Research Specialist) baru-baru ini., bahwa lebih dari 85,40 % konsumen jamu adalah konsumen loyal. Disebutkan hanya 12,36 % bisa dibujuk untuk pindah. ke merek lain, dan hanya 2,24 % yang berencana atau siap-siap pindah ke merek lain. Persaingan bisnis industri jamu yang semakin ketat, memaksa setiap perusahaan selalu berebut perhatian konsumen melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan, dengan memperhatikan kecenderungan perubahan sosial, menganalisis kiat-kiat pesaing dan mengamati perubahan teknologi,ekonomi,politik dan sosial. Jika ada pelanggan yang menghentikan pembeliannya atau pindah ke produk lain, perlu disikapi sebagai suatu perubahan perilaku konsumen. Perubahan perilaku konsumen semacam ini harus dilihat sebagai kenyataan yang buruk. Berdasarkan uraikan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul yang berkaitan dengan “ Pengaruh Pelaksanaan Bauran Pemasaran terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen pada Jamu di Banda Aceh”
Adapun perumusan masalah sebagai berikut:
Sejauh mana pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran oleh industri jamu terhadap proses pengambilan keputusan pembelian konsumen produk jamu di Banda Aceh. Dan bauran pemasaran yang mana pengaruhnya paling besar terhadap pengambilan keputusan pembelian konsumen pada industri jamu.
Metedologi
Penelitian ini menganalisa pengaruh bauran pemasaran industri jamu terhadap proses keputusan pembeli konsumen. Objek penelitian untuk variable bebas/independent variable adalah bauran pemasaran dengan sub variable yaitu : produk,harga.promosi dan tempat.
Objek penelitian lainnya sebagai variabel terikat/Dependent Variabel adalah keputusan pembelian konsumen. Yang dijadikan respon adalah pengguna produk jamu. Untuk menganalisa objek penelitian ini dipergunakan pendekatan deskriptif dan variatif, melalui analisis jalur (Path Analysis).
Manajemen penelitian ini merupakan pendekatan Ilmu Ekonomi Terutama dari ilmu uang memfokuskan pada bidang Manajemen Pemasaran secara khusus pada aspek bauran pemasaran dan pengaruhnya terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada industri jamu di Banda Aceh.
Variabel-varibel dalam penelitian pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran terhadap proses keputusan-keputusan pembelian konsumen pada indutri jamu Di Banda Aceh terdiri dari :
1. Variabel bebas/independent variabel (Variabel X) adalah bauran pemasaran. Sub
variable : produk (X1),harga (X2), promosi(X3) dan tempat (X4).
2. Produk terikat/Dependent variabel (variabel Y) adalah proses keputusan
pembelian konsumen.
Unit observasi pada penelitian ini adalah industri jamu Kota Banda Aceh untuk mendapatkan data sekunder,konsumen produk jamu yang ada di Banda Aceh untuk mendapatkan data primer sebagai unit analisis dalam penelitian ini.
1. Dalam penelitian ini ukuran sample untuk konsumen (responden) ditentukan
berdasarkan bentuk pengujian statistik yang akan digunakan untuk menguji
hipotesis. Hipotesis akan diuji dengan menggunakan Analisis Jalur (Path
Analysis). Dengan demikian ukuran sample minimal untuk analisis jalur ini,
dapat ditentukan melalui rumus ukuran sample minimal untuk ukuran korelasi
koefisien yang dilakukan secara iteratif (perhitungan berulang-ulang)
2.Apabila ukuran sample minimal pada iterasi pertama dan iterasi kedua harganya
sampai dengan bilangan yang satuannya sama, maka iterasi berhenti. Apabila
belum sama, lakukan iterasi ketiga dengan menggunakan rumus 4b, demikian
seterusnya sampai ukuran sample yang akan ditentukan sudah sama baru berhenti.
3. Berdasarkan keterangan di atas dalam penelitian ini diambil :
Hasil dan kesimpulan
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan analisa jalur (path analysis). Pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran (X) terdiri dari produk (X1),harga (X2), promosi (X3), dan tempat (X4) di mana semua variabel tersebut adalah variabel bebas (independent). Sedangkan variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini pengambilan keputusan pembelian konsumen (Y), disamping itu terdapat variabel residual yang diberi lambang (ε). Nilai koefisien jalur dari persamaan struktural tersebut, perlu dilakukan pengujian signifikannya, untuk mengetahui kebermaknaan variabel bebas Xi mempengaruhi variabel tidak bebas (Y), melalui dua langkah pengujian koefisien jalur, yaitu langkah pertama pengujian hipotesis secara simultan, sedangkan langkah kedua dilakukan pengujian hipotesi secara parsial. Pengujian secara simultan berfungsi menilai kebermaknaan seluruh koefisien jalur variabel bebas terhadap koefisien jalur variabel tidak bebas, dan pengujian secara parsial, menilai kebermaknaan masing-masing koefisien jalur dari variable bebas terhadap koefisien jalur dari variabel tidak bebas. Secara statistik, dalam pengujian hipotesis secara simultan digunakan uji F (Bahren-Fisher), sedangkan secara parsial dilakukan uji t-student. Hasil analisis pengujian secara simultan menunjukkan bahwa variable bebas mempengaruhi variable tidak bebas, artinya bahwa variable produk jamu (X1), harga jamu (X2), promosi jamu (X3),dan tempat penjualan jamu (X4) berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian konsumen. Secara matematis, hasil pengujian tersebut dirumuskan dalam persamaan :
Y=0,452748 X1 + 0,332349 X2 + 0,529537 X3 + 0,50156 X4
Hubungan matematis ini menunjukkan nilai Fhit sebesar 158,8573796, sedangkan nilai F0,05 adalah sebesar 2,407, sehingga Fhit > F0,05, berarti Ho ditolak (signifikan). Besarnya pengaruh variable bebas terhadap variable tidak bebas dapat dilihat melalui nilai koefisien determinasi (R2). Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh adalah sebesar 0,7428, yang berarti bahwa variasi keputusan pembelian konsumen pada industri jamu dipengaruhi oleh produk jamu (X1), harga(X2), promosi jamu (X3) dan tempat penjualan jamu (X4) sebesar 74,28 persen. Sedangkan sisanya sebesar 25,72 persen ditentukan oleh variable lainnya. Dengan kata lain, sebenarnya keputusan pembelian konsumen pada industri jamu tidak hanya ditentukan oleh variabel-variabel tersebut,tetapi ditentukan juga oleh faktor-faktor lainnya. Secara statistik,hasil analisis dan pengujian hipotesis secara simultan menunjukkan hasil yang signifikan, untuk itu perlu dilakukan pengujian hipotesis secara parsial melalui uji t-student. Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variable bebas (Xi) terhadap variable tidak bebas (Y) disajikan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka dapat ditarik beberapa kesimpualan sebagai berikut :
1. Dari pengujian statistik ternyata pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran
produk industri jamu di Banda Aceh secara simultan berpengaruh positif
(58,11%) hal ini dicerminkan dari tanggapan/pertimbangan konsumen atas
masing-masing indikator bauran pemasaran yang meliputi produk, harga,
promosi dan distribusi atau tempat industri jamu di Banda Aceh. Dan jika
dianalisis secara parsial produk berpengaruh positif,harga berpengaruh
positif,promosi berpengaruh positif dan distribusi atau tempat berpengaruh
negatif terhadap keputusan pembelian konsumen. Dan juga yang tidak bisa
diabaikan oleh industri jamu di Banda Aceh yaitu faktor lain yang mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen yaitu sebesar (41,89%)
2. Pengaruh bauran pemasaran terhadap proses keputusan pembelian konsumen
yang paling dominan dari unsur bauran yang terdiri dari :
A. Bauran produk yang dilaksanakan oleh industri jamu mempunyai pengaruh
secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada industri jamu di
Banda Aceh (19,98%)
B. Bauran harga yang dilaksanakan oleh industri jamu mempunyai pengaruh
secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada industri jamu di
Banda Aceh (8,53%).
C.Bauran promosi yang dilaksanakan oleh industri jamu mempunyai pengaruh
secara signifikan terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada industri
jamu di Banda Aceh (28,60%)
D. Ditribusi atau tempat yang dilaksanakan oleh industri jamu tidak mempunyai
pengaruh non signifikan terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada
industri jamu di Banda Aceh (1,00%)
Saran untuk lanjutan
Berdasarkan review jurnal diatas dalam pengaruh pelaksanaan bauran pemasaran, sebagai produsen harus mengetahui karakteristik dari pasar tersebut, serta memberikan suatu keuntungan bagi konsumen dalam memasarkan produk mereka dengan cara melakukan sebuah promosi.
Langganan:
Postingan (Atom)