Cara Cepat Menghilangkan Stres di Kantor
Beban kerja, kesibukan atau seabrek masalah di kantor tak jarang membuat kita dilanda stres. Namun semua itu bisa diatasi, asal tahu caranya.
Jangan sampai stres yang melanda justru membuat kinerja Anda menurun. Ada beberapa cara untuk menghilangkan stres yang dirasakan di kantor. Ini dia!
1. Tarik nafas panjang
Cara ini adalah cara paling mudah untuk menenangkan diri. Telah banyak penelitian yang membuktikan, menarik nafas panjang dapat membuat aliran darah serta oksigen di otak kembali teratur. Sehingga saat menarik nafas panjang, seseorang akan merasakan kenyamanan dan rasa rileks. Berhentilah sejenak dari pekerjaan, lalu tariklah nafas panjang selama 5-10 menit. Anda akan merasa lebih tenang, dan stres yang melanda akan mereda.
2. Bergerak
Beranjaklah dari kursi Anda, lalu berjalan-jalanlah sejenak. Jika memungkinkan, keluarlah dari gedung kantor sesaat untuk menikmati terpaan angin dan sinar matahari. Bergerak akan membantu otot-otot Anda yang kaku menjadi lebih santai dan rileks. Hal itu juga bisa membantu menghilangkan stres.
3. Tertawa
Tertawa bisa merangsang hormon endorfin atau lebih dikenal dengan hormon "bahagia". Dengan tertawa, segala beban Anda akan terasa lebih ringan. Melihat video lucu, membaca buku humor atau bersenda gurau sesaat dengan rekan kerja dapat menjadi pilihan Anda.
4. Gunakan sandal jepit
Ini terkesan sederhana, namun dengan sedikit bergaya santai, Anda akan merasa lebih tenang. Tak perlu memakai sandal jepit dari rumah, cukup ganti sepatu Anda dengan sandal yang telah Anda sediakan di kantor. Anda akan merasa lebih rileks.
5. Ganti suasana
Jika memungkinkan, coba minta izin dengan atasan Anda untuk bekerja dari tempat lain. Misalnya kedai kopi yang nyaman. Suasana yang berbeda akan membuat pikiran Anda lebih terbuka.
Cara Tepat Minta Naik Gaji
Jika Anda merasa perusahaaan tempat Anda bekerja belum memberikan apresiasi yang cukup terhadap kinerja, meminta kenaikan gaji bukanlah hal yang salah. Namun ada sopan santunnya. Agar tak salah melangkah, coba ikuti kiat-kiat berikut.
Mencari tahu peraturan perusahaan
Yang paling penting dilakukan pertama kali adalah mencari tahu peraturan perusahaan. Kapan waktu perusahaan menaikkan gaji karyawan? Parameter apa yang digunakan untuk menaikkan gaji karyawan?
Membandingkan gaji
Setelah mengenal peraturan perusahaan, yang harus Anda lakukan adalah melakukan perbandingan gaji dengan orang lain yang memiliki tanggung jawab serta jabatan yang sama dengan Anda dari perusahaan lain. Dengan ini, Anda dapat menemukan rentang gaji yang tepat untuk kemudian diajukan kepada atasan.
Daftar keberhasilan
Anda harus memiliki alasan yang kuat saat meminta kenaikan gaji. Untuk itu, susunlah daftar keberhasilan dan pencapaian Anda dalam kerja. Rangkumlah hal tersebut dalam sebuah dokumentasi yang rapi, jelas serta menarik. Sehingga atasan juga mengetahui alasan jelas untuk menaikkan gaji Anda.
Atur pertemuan
Setelah semua persiapan matang, aturlah jadwal pertemuan dengan atasan. Cari waktu yang tepat. Jangan sampai Anda mengatur jadwal saat pekerjaan tengah banyak, atau perusahaan diguncang masalah. Meminta gaji di saat suasana hati atasan buruk hanya akan membuat Anda tertimpa masalah.
Langsung pada pokok masalah
Saat pertemuan, utarakan maksud Anda dengan jelas, jangan bertele-tele karena malah bisa menimbulkan makna yang bias. Komunikasikan secara profesional namun santai. Jangan lupa juga untuk menyebutkan nominal jelas kenaikan gaji yang Anda minta. Hal ini dapat berupa persentase ataupun jumlah dalam rupiah.
Jangan mengancam
Meminta kenaikan gaji tak perlu dengan cara mengintimidasi. Misalnya menyombongkan diri bahwa Anda mampu diterima di perusahaan lain dengan gaji yang lebih besar. Ini malah hanya membuat Anda terlihat buruk di hadapan atasan.
Senin, 10 Oktober 2011
Tips Kesehatan Wanita
Masker Wajah Alami Buatan Sendiri
Meski banyak masker siap pakai yang kini ditawarkan di pasaran, sesungguhnya Anda dapat membuat masker sendiri dengan mudah. Selain murah, berkhasiat, bahan alami yang dipakai juga tidak memiliki efek berbahaya bagi kulit.
Berikut beberapa jenis masker yang bisa Anda buat sendiri juga dapat diaplikasikan di semua jenis kulit.
Masker putih telur
Campurkan dua sendok makan putih telur dengan dua sendok makan yoghurt tanpa rasa. Aduk hingga merata, lalu oleskan ke kutit wajah Anda. Setelah lima menit, basuh wajah dengan handuk yang telah direndam di air hangat.
Manfaat masker ini adalah untuk menambah kelembapan serta kehalusan kulit wajah.
Masker oatmeal
Campurkan satu sendok makan oatmeal dengan satu sendok yoghurt tanpa rasa. Aduk hingga merata. Setelah itu teteskan dua hingga tiga tetes madu. Lalu campurkan kembali hingga merata. Oleskan masker tadi pada wajah Anda dan diamkan selama 10 menit. Setelah itu basuhlah dengan handuk yang telah direndam dengan air hangat.
Selain melembapkan dan menghaluskan kulit, masker ini juga berfungsi untuk mengganti sel-sel kulit yang mati dengan sel yang baru, sehingga kulit Anda akan tampak bercahaya.
Masker gula
Masker gula ini termasuk yang paling sederhana, karena hanya membutuhkan dua sendok makan gula serta tiga sendok makan air hangat. Campurkan kedua bahan hingga merata, lalu gosok masker pada kulit wajah, hingga kadar airnya habis. Setelah itu basuh wajah dengan handuk yang telah direndam di air hangat.
Layaknya scrub, masker alami ini dapat membantu mengangkat sel kulit mati pada kulit wajah, serta membantu kulit mengalami pengelupasan yang lebih alami dan aman. Selain itu, masker ini juga mampu membersihkan kulit hingga ke dalam pori-pori.
Mudah bukan? Silakan mencoba!
Meski banyak masker siap pakai yang kini ditawarkan di pasaran, sesungguhnya Anda dapat membuat masker sendiri dengan mudah. Selain murah, berkhasiat, bahan alami yang dipakai juga tidak memiliki efek berbahaya bagi kulit.
Berikut beberapa jenis masker yang bisa Anda buat sendiri juga dapat diaplikasikan di semua jenis kulit.
Masker putih telur
Campurkan dua sendok makan putih telur dengan dua sendok makan yoghurt tanpa rasa. Aduk hingga merata, lalu oleskan ke kutit wajah Anda. Setelah lima menit, basuh wajah dengan handuk yang telah direndam di air hangat.
Manfaat masker ini adalah untuk menambah kelembapan serta kehalusan kulit wajah.
Masker oatmeal
Campurkan satu sendok makan oatmeal dengan satu sendok yoghurt tanpa rasa. Aduk hingga merata. Setelah itu teteskan dua hingga tiga tetes madu. Lalu campurkan kembali hingga merata. Oleskan masker tadi pada wajah Anda dan diamkan selama 10 menit. Setelah itu basuhlah dengan handuk yang telah direndam dengan air hangat.
Selain melembapkan dan menghaluskan kulit, masker ini juga berfungsi untuk mengganti sel-sel kulit yang mati dengan sel yang baru, sehingga kulit Anda akan tampak bercahaya.
Masker gula
Masker gula ini termasuk yang paling sederhana, karena hanya membutuhkan dua sendok makan gula serta tiga sendok makan air hangat. Campurkan kedua bahan hingga merata, lalu gosok masker pada kulit wajah, hingga kadar airnya habis. Setelah itu basuh wajah dengan handuk yang telah direndam di air hangat.
Layaknya scrub, masker alami ini dapat membantu mengangkat sel kulit mati pada kulit wajah, serta membantu kulit mengalami pengelupasan yang lebih alami dan aman. Selain itu, masker ini juga mampu membersihkan kulit hingga ke dalam pori-pori.
Mudah bukan? Silakan mencoba!
Tips Kesehatan Wanita
Saat Nyeri Haid Datang Kurangi yang Gurih Perbanyak Serat
TRIBUNnews.com
Menjelang jadwal menstruasi datang, biasanya kita mulai merasa pusing, lemas, sedikit nyeri di perut bagian bawah, atau malas beraktivitas. Perempuan yang lain akan merasa tubuh jadi lemas dan cepat lelah, berat badan bertambah, berjerawat, sampai pinggang terasa pegal. Inilah tanda-tanda Anda sedang mengalami PMS, alias premenstrual syndrome.
"Yang paling sering terjadi adalah perempuan jadi mudah marah, emosi labil, dan nafsu makannya meningkat," tutur dr Ryan Thamrin, konsultan masalah reproduksi seksual, saat acara "Shine with Charm" di STIE Perbanas, Jakarta Selatan, Selasa (4/10/2011) lalu.
Menurut Ryan, ada beberapa trik yang bisa digunakan untuk mengurangi keluhan PMS ini, khususnya dalam hal asupan makanan. Contohnya:
Mengurangi makanan gurih. Lebih baik hindari makanan yang bersifat gurih atau asin, seperti kentang goreng, kacang-kacangan, atau makanan berbumbu lainnya. Kandungan garam yang tinggi dalam tubuh akan mempercepat proses pelepasan air berlebih di dalam tubuh, sehingga tubuh cepat terasa lemas.
Menambah konsumsi serat. Serat dari sayuran dan buah-buahan bisa membantu mengurangi keluhan PMS. Pisang, misalnya, mengandung vitamin B6 yang mampu mengurangi gejala PMS seperti payudara yang menegang, retensi air, dan mood yang berubah-ubah. Sedangkan nenas, kaya akan vitamin A, B, dan C, serta mangan. Mineral ini telah terbukti mampu meningkatkan mood dan mengurangi retensi air, sehingga Anda terbebas dari problem perut kembung.
Memperbanyak minum air putih. Hindari minum terlalu banyak gula, kafein, cokelat, dan es. Kondisi dingin dalam tubuh tidak baik untuk aliran darah. Sebaiknya minum air putih hangat untuk memperlancar aliran darah.
Mengonsumsi zat besi. Saat menstruasi, kita kehilangan 12-15 mg elemen zat besi. Karena itu, saat menstruasi Anda perlu minum vitamin penambah darah. Selain dengan mengonsumsi vitamin, Anda bisa memenuhi kebutuhan zat besi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Beberapa jenis makanan yang mengandung zat besi adalah daging sapi, kambing, ayam, ikan, ikan tuna, telur, oatmeal, serta berbagai sayuran berwarna hijau.
Konsumsi vitamin C. Untuk memperkuat daya tahan tubuh, sebaiknya tambahkan makanan yang mengandung kalsium dan vitamin C. Selain jeruk, nenas, mangga, atau pepaya, sumber vitamin C ada pada strawberry, brokoli, semangka, kembang kol, kubis, dan tomat.
TRIBUNnews.com
Menjelang jadwal menstruasi datang, biasanya kita mulai merasa pusing, lemas, sedikit nyeri di perut bagian bawah, atau malas beraktivitas. Perempuan yang lain akan merasa tubuh jadi lemas dan cepat lelah, berat badan bertambah, berjerawat, sampai pinggang terasa pegal. Inilah tanda-tanda Anda sedang mengalami PMS, alias premenstrual syndrome.
"Yang paling sering terjadi adalah perempuan jadi mudah marah, emosi labil, dan nafsu makannya meningkat," tutur dr Ryan Thamrin, konsultan masalah reproduksi seksual, saat acara "Shine with Charm" di STIE Perbanas, Jakarta Selatan, Selasa (4/10/2011) lalu.
Menurut Ryan, ada beberapa trik yang bisa digunakan untuk mengurangi keluhan PMS ini, khususnya dalam hal asupan makanan. Contohnya:
Mengurangi makanan gurih. Lebih baik hindari makanan yang bersifat gurih atau asin, seperti kentang goreng, kacang-kacangan, atau makanan berbumbu lainnya. Kandungan garam yang tinggi dalam tubuh akan mempercepat proses pelepasan air berlebih di dalam tubuh, sehingga tubuh cepat terasa lemas.
Menambah konsumsi serat. Serat dari sayuran dan buah-buahan bisa membantu mengurangi keluhan PMS. Pisang, misalnya, mengandung vitamin B6 yang mampu mengurangi gejala PMS seperti payudara yang menegang, retensi air, dan mood yang berubah-ubah. Sedangkan nenas, kaya akan vitamin A, B, dan C, serta mangan. Mineral ini telah terbukti mampu meningkatkan mood dan mengurangi retensi air, sehingga Anda terbebas dari problem perut kembung.
Memperbanyak minum air putih. Hindari minum terlalu banyak gula, kafein, cokelat, dan es. Kondisi dingin dalam tubuh tidak baik untuk aliran darah. Sebaiknya minum air putih hangat untuk memperlancar aliran darah.
Mengonsumsi zat besi. Saat menstruasi, kita kehilangan 12-15 mg elemen zat besi. Karena itu, saat menstruasi Anda perlu minum vitamin penambah darah. Selain dengan mengonsumsi vitamin, Anda bisa memenuhi kebutuhan zat besi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Beberapa jenis makanan yang mengandung zat besi adalah daging sapi, kambing, ayam, ikan, ikan tuna, telur, oatmeal, serta berbagai sayuran berwarna hijau.
Konsumsi vitamin C. Untuk memperkuat daya tahan tubuh, sebaiknya tambahkan makanan yang mengandung kalsium dan vitamin C. Selain jeruk, nenas, mangga, atau pepaya, sumber vitamin C ada pada strawberry, brokoli, semangka, kembang kol, kubis, dan tomat.
Sabtu, 07 Mei 2011
TUGAS 4
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KLS : 4 EA03
TGS : 4
Exercise 37
1. The record that was roduced by this company became gold record.
2. Checking accounts that require a minimum balance are very common now.
3. The professor to whom you spoke yesterday is not here today.
4. John whom grades are the highest in the school has received a scholarship.
5. Felipe bought the camera that has there lenses.
6. Frank the man whom we are going to nominate for the office of treasurer.
7. The doctor is with the patient whom leg was broken in an accident.
8. Jane is the woman whom is going to China next year.
9. Janet wants a typewriter that self-corrects.
10. This book I found that last week contains some usseful information.
11. Mr. Bryant whom team has lost the game looks very sad.
12. James wrote an article that indicated he disliked the president.
13. The director of the program whom graduated from Harvard University is planning to retire next year.
14. This is the book that I have been looking for all year.
15. William whom brother is lawyer wants to become a judge.
Exercise 38
1. George is the man chosen to represent the committee at the convention.
2. All of the money accepted has already been released.
3. The papers on the table belong to Patricia.
4. The man brought to the police station confessed to the crime.
5. The girl drinking coffee is Mery Allen.
6. John’s wife, a professor, has written several papers on this subject.
7. The man talking to the policeman is my uncle.
8. The book on the top shelf is the one that I need.
9. The number of students counted is quite high.
10. Leo Evans, a doctor, eats in this restaurant every day.
Example Letter of aplication/CV:
Dear,
Head of the Personnel Division
PT. Karya Indah Retail
Jl. Pejompongan 15 A
Jakarta
Sincerely,
In response to your advertisement in the Kompas daily publication January 5, 2011 to the position of secretary, I would like to offer myself for the position.
I was twenty-two years and has worked as a staff typist for two years. After graduating from the Academy Secretary, I attended a job training for secretarial work for three months. Now I feel have the expertise necessary to fill the vacancies you offer.
For further information, I hereby attach a curriculum vitae, a statement from the academy, and a piece of my latest photos.
I hope you will consider this proposal, and gave me a chance to interview.
Sincerely,
Florentina Putri
Curriculum Vitae
Full Name : Florentina Putri
Sex : Female
Place, Date of Birth: Probolinggo, August 5, 1989
Nationality : Indonesia
Marital Status : Single
Height, Weight : 165 cm, 53 kg
Health : Perfect
Religion : Moslem
Address : Perum Bojong Depok Baru 1, Blok ZT No.3, Cibinong 16913
Mobile : 0817 9854 203
Phone : 021 - 87903802
E-mail : putri.flo@gmail.com
Educational Background
1994 – 1995 : Kindergarten graduate Islam Al Ghifari
1995 – 2001 : graduate school 01 Probolinggo
2001 – 2004 : Junior high school graduates 05 Probolinggo
2004 – 2007 : Senior High School graduate Muhammadiyah 25, Jakata
2007 -2010 : graduate Academy Secretary
Course & Education
1998 - 1999 : Computer & Internet Course at Puskom Gilland Ganesha, Jakarta
1999 - 2002 : English Language Course at LBA Gilland Ganesha, Jakarta
Working Experience
Working at PT. Post Indonesia
Period : 2005-2006
Position : staff typist
NPM : 10207813
KLS : 4 EA03
TGS : 4
Exercise 37
1. The record that was roduced by this company became gold record.
2. Checking accounts that require a minimum balance are very common now.
3. The professor to whom you spoke yesterday is not here today.
4. John whom grades are the highest in the school has received a scholarship.
5. Felipe bought the camera that has there lenses.
6. Frank the man whom we are going to nominate for the office of treasurer.
7. The doctor is with the patient whom leg was broken in an accident.
8. Jane is the woman whom is going to China next year.
9. Janet wants a typewriter that self-corrects.
10. This book I found that last week contains some usseful information.
11. Mr. Bryant whom team has lost the game looks very sad.
12. James wrote an article that indicated he disliked the president.
13. The director of the program whom graduated from Harvard University is planning to retire next year.
14. This is the book that I have been looking for all year.
15. William whom brother is lawyer wants to become a judge.
Exercise 38
1. George is the man chosen to represent the committee at the convention.
2. All of the money accepted has already been released.
3. The papers on the table belong to Patricia.
4. The man brought to the police station confessed to the crime.
5. The girl drinking coffee is Mery Allen.
6. John’s wife, a professor, has written several papers on this subject.
7. The man talking to the policeman is my uncle.
8. The book on the top shelf is the one that I need.
9. The number of students counted is quite high.
10. Leo Evans, a doctor, eats in this restaurant every day.
Example Letter of aplication/CV:
Dear,
Head of the Personnel Division
PT. Karya Indah Retail
Jl. Pejompongan 15 A
Jakarta
Sincerely,
In response to your advertisement in the Kompas daily publication January 5, 2011 to the position of secretary, I would like to offer myself for the position.
I was twenty-two years and has worked as a staff typist for two years. After graduating from the Academy Secretary, I attended a job training for secretarial work for three months. Now I feel have the expertise necessary to fill the vacancies you offer.
For further information, I hereby attach a curriculum vitae, a statement from the academy, and a piece of my latest photos.
I hope you will consider this proposal, and gave me a chance to interview.
Sincerely,
Florentina Putri
Curriculum Vitae
Full Name : Florentina Putri
Sex : Female
Place, Date of Birth: Probolinggo, August 5, 1989
Nationality : Indonesia
Marital Status : Single
Height, Weight : 165 cm, 53 kg
Health : Perfect
Religion : Moslem
Address : Perum Bojong Depok Baru 1, Blok ZT No.3, Cibinong 16913
Mobile : 0817 9854 203
Phone : 021 - 87903802
E-mail : putri.flo@gmail.com
Educational Background
1994 – 1995 : Kindergarten graduate Islam Al Ghifari
1995 – 2001 : graduate school 01 Probolinggo
2001 – 2004 : Junior high school graduates 05 Probolinggo
2004 – 2007 : Senior High School graduate Muhammadiyah 25, Jakata
2007 -2010 : graduate Academy Secretary
Course & Education
1998 - 1999 : Computer & Internet Course at Puskom Gilland Ganesha, Jakarta
1999 - 2002 : English Language Course at LBA Gilland Ganesha, Jakarta
Working Experience
Working at PT. Post Indonesia
Period : 2005-2006
Position : staff typist
Senin, 11 April 2011
TUGAS BHS.INGGRIS
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
note taking about events theft in public transport
at that time my friend and I went to visit a unuversitas in Jakarta, to ask for information about campus tersebut. After we get information, we were back home by using a bus metromini. Finally our bus had arrived at the terminal stops. then we continue the journey home by using public transportation. state of public transport in the extremely hot and stuffy, I and Rina separate seat with Weny. At the time in public transport Weny been busy receiving phone. nostrils Weny already a father with a carrying bag and next to me and Rina also have a father. Me and Rina feels weird when you are there beside us on the move, because there is seating next to us that when saliva was the father of the waste on our side. After the father had moved, there is a masseuse who suddenly massaging his may friends feet .After handyman friend massage it out of public transportation, which in addition Weny father was screaming and we were shocked. he even told my friend, he said his Hp was taken as a masseur, but his Weny felt Hp was in his pocket. Father still in the bag was suggested to us down and chase it masseur. we got out of public transportation and without the property Hp Weny realize is lost. We also catch public transportation that we had climbed. It turns out the suspicious person was the thief.
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
MEMO
From : human resources development division staff
To : Chairman of the BEM FK UG
Date : 8 April 2008
Nature : an open and immediate
Things : an invitation LKKM
BEM LKMM PM UG will hold on 12-15 December 2009. I think it's great for regeneration. The plan we will send five representatives cadre of participants from the youngest generation of students. It costs 50,000-per person. If approved please sms me soon. I'll make proposalnya.Thanks Bro
EXERCISE 35 : PASSIVE VOICE (HAL 131)
1.The President are being called somebody everyday.
2. The other members are being John.
3. Mr. Waatson would be called somebody tonight.
4. Considerable damage has been coused by the fire.
5. The suppliers shaal the teacher bought for this class.
EXERCISE 36 : CAUSATIVE VERBS (HAL 135)
1. Leave 2. Repaired
3. Typed 4. Call
5. Painted 6. Write
7. Lie 8. Sent
9. Cut 10. Signed
11. Leave 12. Washed
13. To fix 14. Published
15. To find
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
note taking about events theft in public transport
at that time my friend and I went to visit a unuversitas in Jakarta, to ask for information about campus tersebut. After we get information, we were back home by using a bus metromini. Finally our bus had arrived at the terminal stops. then we continue the journey home by using public transportation. state of public transport in the extremely hot and stuffy, I and Rina separate seat with Weny. At the time in public transport Weny been busy receiving phone. nostrils Weny already a father with a carrying bag and next to me and Rina also have a father. Me and Rina feels weird when you are there beside us on the move, because there is seating next to us that when saliva was the father of the waste on our side. After the father had moved, there is a masseuse who suddenly massaging his may friends feet .After handyman friend massage it out of public transportation, which in addition Weny father was screaming and we were shocked. he even told my friend, he said his Hp was taken as a masseur, but his Weny felt Hp was in his pocket. Father still in the bag was suggested to us down and chase it masseur. we got out of public transportation and without the property Hp Weny realize is lost. We also catch public transportation that we had climbed. It turns out the suspicious person was the thief.
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
MEMO
From : human resources development division staff
To : Chairman of the BEM FK UG
Date : 8 April 2008
Nature : an open and immediate
Things : an invitation LKKM
BEM LKMM PM UG will hold on 12-15 December 2009. I think it's great for regeneration. The plan we will send five representatives cadre of participants from the youngest generation of students. It costs 50,000-per person. If approved please sms me soon. I'll make proposalnya.Thanks Bro
EXERCISE 35 : PASSIVE VOICE (HAL 131)
1.The President are being called somebody everyday.
2. The other members are being John.
3. Mr. Waatson would be called somebody tonight.
4. Considerable damage has been coused by the fire.
5. The suppliers shaal the teacher bought for this class.
EXERCISE 36 : CAUSATIVE VERBS (HAL 135)
1. Leave 2. Repaired
3. Typed 4. Call
5. Painted 6. Write
7. Lie 8. Sent
9. Cut 10. Signed
11. Leave 12. Washed
13. To fix 14. Published
15. To find
TUGAS BHS.INGGRIS
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
note taking about events theft in public transport
at that time my friend and I went to visit a unuversitas in Jakarta, to ask for information about campus tersebut. After we get information, we were back home by using a bus metromini. Finally our bus had arrived at the terminal stops. then we continue the journey home by using public transportation. state of public transport in the extremely hot and stuffy, I and Rina separate seat with Weny. At the time in public transport Weny been busy receiving phone. nostrils Weny already a father with a carrying bag and next to me and Rina also have a father. Me and Rina feels weird when you are there beside us on the move, because there is seating next to us that when saliva was the father of the waste on our side. After the father had moved, there is a masseuse who suddenly massaging his may friends feet .After handyman friend massage it out of public transportation, which in addition Weny father was screaming and we were shocked. he even told my friend, he said his Hp was taken as a masseur, but his Weny felt Hp was in his pocket. Father still in the bag was suggested to us down and chase it masseur. we got out of public transportation and without the property Hp Weny realize is lost. We also catch public transportation that we had climbed. It turns out the suspicious person was the thief.
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
MEMO
From : human resources development division staff
To : Chairman of the BEM FK UG
Date : 8 April 2008
Nature : an open and immediate
Things : an invitation LKKM
BEM LKMM PM UG will hold on 12-15 December 2009. I think it's great for regeneration. The plan we will send five representatives cadre of participants from the youngest generation of students. It costs 50,000-per person. If approved please sms me soon. I'll make proposalnya.Thanks Bro
EXERCISE 35 : PASSIVE VOICE (HAL 131)
1. The President are being called somebody everyday
2. The other members are being John
3. Mr. Waatson would be called somebody tonight
4. Considerable damage has been coused by the fire
5. The suppliers shaal the teacher bought for this class
EXERCISE 36 : CAUSATIVE VERBS (HAL 135)
1. Leave 2. Repaired
3. Typed 4. Call
5. Painted 6. Write
7. Lie 8. Sent
9. Cut 10. Signed
11. Leave 12. Washed
13. To fix 14. Published
15. To find
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
note taking about events theft in public transport
at that time my friend and I went to visit a unuversitas in Jakarta, to ask for information about campus tersebut. After we get information, we were back home by using a bus metromini. Finally our bus had arrived at the terminal stops. then we continue the journey home by using public transportation. state of public transport in the extremely hot and stuffy, I and Rina separate seat with Weny. At the time in public transport Weny been busy receiving phone. nostrils Weny already a father with a carrying bag and next to me and Rina also have a father. Me and Rina feels weird when you are there beside us on the move, because there is seating next to us that when saliva was the father of the waste on our side. After the father had moved, there is a masseuse who suddenly massaging his may friends feet .After handyman friend massage it out of public transportation, which in addition Weny father was screaming and we were shocked. he even told my friend, he said his Hp was taken as a masseur, but his Weny felt Hp was in his pocket. Father still in the bag was suggested to us down and chase it masseur. we got out of public transportation and without the property Hp Weny realize is lost. We also catch public transportation that we had climbed. It turns out the suspicious person was the thief.
UNIT 6 : Note taking and Memos (Hal 52-59)
MEMO
From : human resources development division staff
To : Chairman of the BEM FK UG
Date : 8 April 2008
Nature : an open and immediate
Things : an invitation LKKM
BEM LKMM PM UG will hold on 12-15 December 2009. I think it's great for regeneration. The plan we will send five representatives cadre of participants from the youngest generation of students. It costs 50,000-per person. If approved please sms me soon. I'll make proposalnya.Thanks Bro
EXERCISE 35 : PASSIVE VOICE (HAL 131)
1. The President are being called somebody everyday
2. The other members are being John
3. Mr. Waatson would be called somebody tonight
4. Considerable damage has been coused by the fire
5. The suppliers shaal the teacher bought for this class
EXERCISE 36 : CAUSATIVE VERBS (HAL 135)
1. Leave 2. Repaired
3. Typed 4. Call
5. Painted 6. Write
7. Lie 8. Sent
9. Cut 10. Signed
11. Leave 12. Washed
13. To fix 14. Published
15. To find
Senin, 21 Maret 2011
TUGAS B.INGGRIS (PART 2)
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU CLIFT
EXERCISE 33 (Hal 121) Because / Because of
1. Because of
2. Because of
3. Because of
4. Because
5. Because
6. Because
7. Because of
8. Because of
9. Because of
10. Because of
EXERCISE 34 (Hal 124) So / Such
1. So
2. Such
3. Such
4. So
5. So
6. Such
7. Such
8. So
9. Such
10. So
11. So
12. So
13. So
14. Such
15. Such
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
invitation letter :Invite Halal bihalal
INVITATION
NO: 060 / YDC / X / 2007
Dear.
Mr. / Mrs. / Mr.
Famly Mr.Anwar Furqon
Jl Bungur 5.Blok A no.34
Subject: Invitation Gathering / Halal bihalal in the framework of celebration of Idul Fitri 1428 H
With Respect
Yayasan Darussalam Cendrawasih and RW 11 invites all residents and the surrounding complex of department of foreign affairs to attend the occasion: / lawful gatherings in commemoration of the feast of Idul Fitri 1428 H, which will be held on:
Day / Date: Saturday, October 27, 2007
Time : 19:30 s / d completed
Venue : Multipurpose Building Jl. Bird of Paradise IV
So, for your attention and presence of Mr / Mrs / Mr / Ms we thank you.
Jakarta, October 20, 2007
H. Sofyan Habib
Chairman of the Committee Secretary
NPM : 10207813
TUGAS BUKU CLIFT
EXERCISE 33 (Hal 121) Because / Because of
1. Because of
2. Because of
3. Because of
4. Because
5. Because
6. Because
7. Because of
8. Because of
9. Because of
10. Because of
EXERCISE 34 (Hal 124) So / Such
1. So
2. Such
3. Such
4. So
5. So
6. Such
7. Such
8. So
9. Such
10. So
11. So
12. So
13. So
14. Such
15. Such
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
invitation letter :Invite Halal bihalal
INVITATION
NO: 060 / YDC / X / 2007
Dear.
Mr. / Mrs. / Mr.
Famly Mr.Anwar Furqon
Jl Bungur 5.Blok A no.34
Subject: Invitation Gathering / Halal bihalal in the framework of celebration of Idul Fitri 1428 H
With Respect
Yayasan Darussalam Cendrawasih and RW 11 invites all residents and the surrounding complex of department of foreign affairs to attend the occasion: / lawful gatherings in commemoration of the feast of Idul Fitri 1428 H, which will be held on:
Day / Date: Saturday, October 27, 2007
Time : 19:30 s / d completed
Venue : Multipurpose Building Jl. Bird of Paradise IV
So, for your attention and presence of Mr / Mrs / Mr / Ms we thank you.
Jakarta, October 20, 2007
H. Sofyan Habib
Chairman of the Committee Secretary
Senin, 21 Februari 2011
BUKU CLIFT
EXERCEISE 54 (hal 202)
1.A beautiful angel adorned their Chirstmas tree
2.I have your notes here, but I cannot find mine
3.The rescuers were a welcome sight for those trapped on the snow-covered mountain
4.Who’s supposed to supply the refreshments for tonight’s meeting?
5.It is a costume in the United States to eat turkey on thaks giving
6.Whether we drive or fly depends on the length of our vacation
7.Pasquale is of French descent , but his cousin is English
8.Dr Hipple will not be coming to the meeting because he has too many papers to grade
9.Although my mother never eats dessert , I prefer something sweet
10.I guess they’re not interested because we have not heard from them
11.Doris and Marge teach kindergarten ; the latter works in Putnam
12.Isaac Asimov’s scientist books are more easiiy understood than most scientists
13.The fender on Sean’s bike came loose and had to be tightened
14.Nobody had any stationery , so we had to use notebook paper to write the letter
15.The hikers had passed many hours waiting to be rescued
16.Lisa had to quit eating apples after the orthodontist put braces on her teeth
17.After any war , the world desires a lasting peace
18.Albert Einstein expressed his principle of relativity
19.Marcia was quite tired after the long walk to class
20.You must remember to cite your references when you write a paper
EXERCISE 56 (hal 214)
1.during 41.on
2.on 42.in
3.at 43.in
4.on 44.in
5.in 45.at
6.at 47.on
7.from 48.at
8.out of 49.in
9.at 50.at
10.in 51.on
11.out of 52.at
12.on 53.present
13.in 54.on
14.in 55.right
15.out of 56.at
16.at 57.in
17.on 58.in
18.at 59.on
19.in 60.from
20.at 61.at
21.present 62.on
22.in 63.at
23.in 64.at
24.at 65.at
25.on 66.in
26.in 67.at
27.at 68.in
28.on 69.of
29.in 70.at
30.at 71.of
31.on 72.course
32.at 73.of
33.in 74.at
34.at 75.during
35.on 76.on
36.in 77.of
37.on 78.at
38.in
39.at
40.in
1.A beautiful angel adorned their Chirstmas tree
2.I have your notes here, but I cannot find mine
3.The rescuers were a welcome sight for those trapped on the snow-covered mountain
4.Who’s supposed to supply the refreshments for tonight’s meeting?
5.It is a costume in the United States to eat turkey on thaks giving
6.Whether we drive or fly depends on the length of our vacation
7.Pasquale is of French descent , but his cousin is English
8.Dr Hipple will not be coming to the meeting because he has too many papers to grade
9.Although my mother never eats dessert , I prefer something sweet
10.I guess they’re not interested because we have not heard from them
11.Doris and Marge teach kindergarten ; the latter works in Putnam
12.Isaac Asimov’s scientist books are more easiiy understood than most scientists
13.The fender on Sean’s bike came loose and had to be tightened
14.Nobody had any stationery , so we had to use notebook paper to write the letter
15.The hikers had passed many hours waiting to be rescued
16.Lisa had to quit eating apples after the orthodontist put braces on her teeth
17.After any war , the world desires a lasting peace
18.Albert Einstein expressed his principle of relativity
19.Marcia was quite tired after the long walk to class
20.You must remember to cite your references when you write a paper
EXERCISE 56 (hal 214)
1.during 41.on
2.on 42.in
3.at 43.in
4.on 44.in
5.in 45.at
6.at 47.on
7.from 48.at
8.out of 49.in
9.at 50.at
10.in 51.on
11.out of 52.at
12.on 53.present
13.in 54.on
14.in 55.right
15.out of 56.at
16.at 57.in
17.on 58.in
18.at 59.on
19.in 60.from
20.at 61.at
21.present 62.on
22.in 63.at
23.in 64.at
24.at 65.at
25.on 66.in
26.in 67.at
27.at 68.in
28.on 69.of
29.in 70.at
30.at 71.of
31.on 72.course
32.at 73.of
33.in 74.at
34.at 75.during
35.on 76.on
36.in 77.of
37.on 78.at
38.in
39.at
40.in
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU CLIFT
EXERCISE 26 ( hal 107)
1.Rita plays good the violin
2.That is an intense novel
3.The sun is brightly shining
4.The girls speak fluent french
5.The boys speak Spanish fluently
6.The table has a smoothly surface
7.We must accurate figure our income tax returns
8.We don’t like to drink bitter tea
9.The plane soon will arrive
10.He had an accident because he was driving too fastly
EXERCISE 27 (hal 109)
1.Your cold sound terribly
2.The pianist plays very good
3.The food in the restaurant always tastes well
4.The campers remained calmly despite the thunderstorm
5.They became sickly after eating the contaminated food
6.Profesor Calandra looked quick at the students sketches
7.Paco was working diligent on the project
8.Paul protested vehemently about the new proposals
9.Our neighbors appeared relaxed after their vacation
10.The music sounded too noisy to be classical
EXERCISE 28 (hal 114)
1.Jhon and his friends left soonest as the profesor had finished his lecture
2.His job is more important than his friend’s
3.He plays the guitar as well as Andres Segovia
4.A new house is much more expensive than an older one
5.Last week was hotter as this week
6.Martha is more talented than her cousin
7.Bill’s descriptions are more colorful than his wife’s
8.Nobody is happier than Maria Elena
9.The boys felt worse than the girls about losing the game
10.A greyhound runs faster than a Chihuahua
EXERCISE 29 (hal 114)
1.The Empire State Building is taller from the statue of liberty
2.California is farther from New York as Pennsylvania
3.His assignment is different than mine
4.Louie reads more quickly from his sister
5.No animal is so big as King Kong
6.That report is less impressive than the Government’s
7.Sam wears the same shirt as his teammates
8.Dave paints much more realistically as his professor
9.The twins have less money at the end of the month as they have at the beginning
10.Her sports car is different than Nancy’s
EXERCISE 30 (hal 117)
1.Of the four dresses, I like the red one better
2.Phil is the happiest person that we know
3.Pat’s car is faster than Dan’s
4.This is the creamier ice cream I have had in a long time
5.This poster is colorfuler than the one in the hall
6.Does fred feel better today than he did yesterday?
7.This vegetable soup tastes very good
8.While trying to balance the baskets on her head, the woman walked more awkwardly than her daughter
9.Jane is the less athletic of all the women
10.My cat is the prettier of the two
NPM : 10207813
TUGAS BUKU CLIFT
EXERCISE 26 ( hal 107)
1.Rita plays good the violin
2.That is an intense novel
3.The sun is brightly shining
4.The girls speak fluent french
5.The boys speak Spanish fluently
6.The table has a smoothly surface
7.We must accurate figure our income tax returns
8.We don’t like to drink bitter tea
9.The plane soon will arrive
10.He had an accident because he was driving too fastly
EXERCISE 27 (hal 109)
1.Your cold sound terribly
2.The pianist plays very good
3.The food in the restaurant always tastes well
4.The campers remained calmly despite the thunderstorm
5.They became sickly after eating the contaminated food
6.Profesor Calandra looked quick at the students sketches
7.Paco was working diligent on the project
8.Paul protested vehemently about the new proposals
9.Our neighbors appeared relaxed after their vacation
10.The music sounded too noisy to be classical
EXERCISE 28 (hal 114)
1.Jhon and his friends left soonest as the profesor had finished his lecture
2.His job is more important than his friend’s
3.He plays the guitar as well as Andres Segovia
4.A new house is much more expensive than an older one
5.Last week was hotter as this week
6.Martha is more talented than her cousin
7.Bill’s descriptions are more colorful than his wife’s
8.Nobody is happier than Maria Elena
9.The boys felt worse than the girls about losing the game
10.A greyhound runs faster than a Chihuahua
EXERCISE 29 (hal 114)
1.The Empire State Building is taller from the statue of liberty
2.California is farther from New York as Pennsylvania
3.His assignment is different than mine
4.Louie reads more quickly from his sister
5.No animal is so big as King Kong
6.That report is less impressive than the Government’s
7.Sam wears the same shirt as his teammates
8.Dave paints much more realistically as his professor
9.The twins have less money at the end of the month as they have at the beginning
10.Her sports car is different than Nancy’s
EXERCISE 30 (hal 117)
1.Of the four dresses, I like the red one better
2.Phil is the happiest person that we know
3.Pat’s car is faster than Dan’s
4.This is the creamier ice cream I have had in a long time
5.This poster is colorfuler than the one in the hall
6.Does fred feel better today than he did yesterday?
7.This vegetable soup tastes very good
8.While trying to balance the baskets on her head, the woman walked more awkwardly than her daughter
9.Jane is the less athletic of all the women
10.My cat is the prettier of the two
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU CLIFT
EXERCISE 21 (hal 97)
1.Henry talks to his dog as if it understood him.
2.If they had left the house earlier, they become so late getting to the airport that they could not chek their baggage.
3.If I finish the dress before Saturday, I give it to my sister for her birthday.
4.If I had seen the movie. I told you about it last night.
5.Had Bob not interfered in his sister’s marital problems, there become peace between them.
6.He wold give you the money if he had it.
7.I wish they stopped making so much noise so that I could concentrate.
8.She would call you immediately if she needed help.
9.Had they arrived at the sale early, they found a better selection.
10.We hope that you enjoyed the party last night.
11.If you have enough time, please painted the chair before you leave.
12.We could go for a drive if today were Saturday.
13.If she wins the prize, it will be because she write very well.
14.Mike wished that the editors permited him to copy some of their material.
15.Joel wishes that he spent his vacation on the Gulf coast next year.
16.I aceepted if they invaite me to the party.
17.If your mother bought that car for you, willyou be happy?
18.If he decided earlier, he could have left on the afternoon flight.
19.Had we known your address, we wrote you a letter.
20.If the roofer doesn’t come soon, the rain leaked inside.
21.Because Rose did so poorly on the exam, she wishes that she studied harder last night.
22.My dog always wakes me up if he heard strange noises.
23.If you see mary today, please ask her to call me.
24.If he get the raise, it will be because he does a good job.
25.The teacher will not accept our work if we turned it in late.
26.Mrs. Wood always talks to her tenth-grade students as though they was adults.
27.If he had left alredy, he called us.
28.If they had known him, they talked to him.
29.He would understand it if you explained it to him more slowly.
30.I could understand the French teacher if she spoke more slowly.
NPM : 10207813
TUGAS BUKU CLIFT
EXERCISE 21 (hal 97)
1.Henry talks to his dog as if it understood him.
2.If they had left the house earlier, they become so late getting to the airport that they could not chek their baggage.
3.If I finish the dress before Saturday, I give it to my sister for her birthday.
4.If I had seen the movie. I told you about it last night.
5.Had Bob not interfered in his sister’s marital problems, there become peace between them.
6.He wold give you the money if he had it.
7.I wish they stopped making so much noise so that I could concentrate.
8.She would call you immediately if she needed help.
9.Had they arrived at the sale early, they found a better selection.
10.We hope that you enjoyed the party last night.
11.If you have enough time, please painted the chair before you leave.
12.We could go for a drive if today were Saturday.
13.If she wins the prize, it will be because she write very well.
14.Mike wished that the editors permited him to copy some of their material.
15.Joel wishes that he spent his vacation on the Gulf coast next year.
16.I aceepted if they invaite me to the party.
17.If your mother bought that car for you, willyou be happy?
18.If he decided earlier, he could have left on the afternoon flight.
19.Had we known your address, we wrote you a letter.
20.If the roofer doesn’t come soon, the rain leaked inside.
21.Because Rose did so poorly on the exam, she wishes that she studied harder last night.
22.My dog always wakes me up if he heard strange noises.
23.If you see mary today, please ask her to call me.
24.If he get the raise, it will be because he does a good job.
25.The teacher will not accept our work if we turned it in late.
26.Mrs. Wood always talks to her tenth-grade students as though they was adults.
27.If he had left alredy, he called us.
28.If they had known him, they talked to him.
29.He would understand it if you explained it to him more slowly.
30.I could understand the French teacher if she spoke more slowly.
Letters of congratulation
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
UNIT 4: Letters of congratulation
Congratulatins promotion Letter
Mike punting,
72- road,
Top Street, Singapur.
Dear friend Juwita,
I am feeling very happy today to congratulate you as you got promotion. I got the news two days before that you are promoted from the post of junior manager to the post of senior manager. You really deserved that promotion.
You were a employe of that company since 10 years. In these 10 years you have served the company a lot. With your skills, hard work, intelligence you have contributed to the companies success. Due to all these reasons you had to get promotion.
Personally I am very happy to see you getting successful in your life. This time also it was very delightful to hear about your success. I hope god bless you and give you pink of health. I will always ask god to give you everything that you need in your life. He may bless you with lot of happiness in your future.
Give my love to your children and regards to your parents.
Your's affectionately,
JOUIS PRADIPTA
NPM : 10207813
TUGAS BUKU BUSINESS COMUNICATION
UNIT 4: Letters of congratulation
Congratulatins promotion Letter
Mike punting,
72- road,
Top Street, Singapur.
Dear friend Juwita,
I am feeling very happy today to congratulate you as you got promotion. I got the news two days before that you are promoted from the post of junior manager to the post of senior manager. You really deserved that promotion.
You were a employe of that company since 10 years. In these 10 years you have served the company a lot. With your skills, hard work, intelligence you have contributed to the companies success. Due to all these reasons you had to get promotion.
Personally I am very happy to see you getting successful in your life. This time also it was very delightful to hear about your success. I hope god bless you and give you pink of health. I will always ask god to give you everything that you need in your life. He may bless you with lot of happiness in your future.
Give my love to your children and regards to your parents.
Your's affectionately,
JOUIS PRADIPTA
Selasa, 04 Januari 2011
MASALAH POKOK DALAM ETIKA BISNIS
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KLS : 4 EA03
TUGAS: ETIKA BISNIS
MASALAH POKOK DALAM ETIKA BISNIS
Andaikan anda adalah seorang direktur teknik yang harus menerapkan teknologi baru. Anda tahu teknologi ini diperlukan dapat meningkatkan efisiensi industri, namun pada saat yang sama juga membuat banyak pegawai yang setia akan kehilangan pekerjaan, karena teknologi ini hanya memerlukan sedikit tenaga kerja saja. Bagaimana sikap anda? Dilema moral ini menunjukkan bahwa masalah etika juga meliputi kehidupan bisnis. Perusahaan dituntut untuk menetapkan patokan etika yang dapat diserap oleh masyarakat dalam pengambilan keputusannya. Sedangkan di pihak lain, banyak masyarakat menganggap etika itu hanya demi kepentingan perusahaan sendiri. Tantangan yang dihadapi serta kesadaran akan keterbatasan perusahaan dalam memperkirakan dan mengendalikan setiap keputusannya membuat perusahaan semakin sadar tentang tantangan etika yang harus dihadapi.
INOVASI, PERUBAHAN DAN LAPANGAN KERJA
Aspek bisnis yang paling menimbulkan pertanyaan menyangkut etika adalah inovasi dan perubahan. Sering terjadi tekanan untuk berubah membuat perusahaan atau masyarakat tidak mempunyai pilihan lain. Perusahaan harus menanam modal pada mesin dan pabrik baru yang biasanya menimbulkan masalah karena ketidakcocokan antara keahlian tenaga kerja yang dimiliki dan yang dibutuhkan oleh teknologi baru. Sedangkan perusahaan yang mencoba menolak perubahan teknologi biasanya menghadapi ancaman yang cukup besar sehingga memperkuat alasan perlunya melakukan perubahan. Keuntungan ekonomis dari inovasi dan perubahan biasanya digunakan sebagai pembenaran yang utama.
Sayangnya biaya sosial dari perubahan jarang dibayar oleh para promotor inovasi. Biaya tersebut berupa hilangnya pekerjaan, perubahan dalam masyarakat, perekonomian, dan lingkungan. Biaya-biaya ini tak mudah diukur. Tantangan sosial yang paling mendasar berasal dari masyarakat yang berdiri di luar proses. Dampak teknologi baru bukan mustahil tak dapat diprediksi. Kewaspadaan dan keterbukaan yang berkesinambungan merupakan tindakan yang penting dalam usaha perusahaan memenuhi kewajibannya.
Dampak inovasi dan perubahan terhadap tenaga kerja menimbulkan banyak masalah dibanding aspek pembangunan lainnya. Banyak pegawai menganggap inovasi mengecilkan kemampuan mereka. Hal ini mengubah kondisi pekerjaan serta sangat mengurangi kepuasan kerja. Perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk menyediakan lapangan kerja dan menciptakan tenaga kerja yang mampu bekerja dalam masa perubahan. Termasuk di dalamnya adalah
mendukung, melatih, dan mengadakan sumber daya untuk menjamin orang-orang yang belum bekerja memiliki keahlian dan dapat bersaing untuk menghadapi dan mempercepat perubahan.
PASAR DAN PEMASARAN
Monopoli adalah contoh yang paling ekstrem dari distorsi dalam pasar. Ada banyak alasan untuk melakukan konsentrasi industri, misal, meningkatkan kemampuan berkompetisi, memudahkan permodalan, hingga semboyan “yang terkuat adalah yang menang”. Penyalahgunaan kekuatan pasar melalui monopoli merupakan perhatian klasik terhadap bagaimana pasar dan pemasaran dilaksanakan. Kecenderungan untuk berkonsentrasi dan kekuatan nyata dari perusahaan raksasa harus dilihat secara hati-hati.
Banyak kritik diajukan pada aspek pemasaran, misal, penyalahgunaan kekuatan pembeli, promosi barang yang berbahaya, menyatakan nilai yang masih diragukan, atau penyalahgunaan spesifik lain, seperti iklan yang berdampak buruk bagi anak-anak. Diperlukan kelompok penekan untuk mengkritik tingkah laku perusahaan. Negara pun dapat menentukan persyaratan dan standar.
PENGURUS DAN GAJI DIREKSI
Unsur kepengurusan adalah bagian penting dari agenda kebijaksanaan perusahaan karena merupakan kewajiban yang nyata dalam bertanggungjawab terhadap barang dan dana orang lain. Perusahaan wajib melaksanakan pengurusan manajemen dengan tekun atas semua harta yang dipertanggungjawabkan pada pemberi tugas. Tugas terutama berada pada pundak direksi yang diharapkan bertindak loyal, dapat dipercaya, serta ahli dalam menjalankan tugasnya. Mereka tidak boleh menyalahgunakan posisinya. Mereka bertanggung jawab pada perusahaan juga undang-undang. Dalam hal ini auditing memegang peranan penting dalam mempertahankan stabilitas antara kebutuhan manajer untuk menjalankan tugasnya dan hak pemegang saham untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan para manajer. Perdebatan mengenai gaji direksi terjadi karena adanya ketidakadilan dalam proses penentuannya, ruang gerak yang dimungkinkan bagi direksi, kurang jelasnya hubungan antara kinerja organisasi dan penggajian, paket-paket tambahan tersembunyi dan kelemahan dalam pengawasan. Tampaknya gaji para direksi meningkat, sementara tingkat pertumbuhan pendapatan rata-rata cenderung menurun, dan nilai saham berfluktuasi. Hal ini menimbulkan kritik dan kesadaran untuk menyoroti kenaikan gaji para eksekutif senior. Informasi dan pembatasan eksternal merupakan unsur penting dalam upaya menyelesaikan penyalahgunaan yang terjadi.
TANTANGAN MULTINASIONAL
Sering terjadi, perusahaan internasional mengambil tindakan yang tak dapat diterima secara lokal. Banyak pertanyaan mendasar bagi perusahaan multinasional, seperti kemungkinan masuknya nilai moral budaya ke budaya masyarakat lain, atau kemungkinan perusahaan mengkesploitasi lubang-lubang perundang-undangan dalam sebuah negara demi kepentingan mereka. Dalam prakteknya, perusahaan internasional mempengaruhi perkembangan ekonomi sosial masyarakat suatu negara. Mereka dapat mensukseskan aspirasi negara atau justru malah membuat frustasi dengan menghambat tujuan nasional. Hal ini meningkatkan kewajiban bagi perorangan maupun industri untuk melaksanakan aturan kode etik secara internal maupun eksternal.
REFERENSI
(Sumber: Tom Cannon, Coporate Responsibility)
NPM : 10207813
KLS : 4 EA03
TUGAS: ETIKA BISNIS
MASALAH POKOK DALAM ETIKA BISNIS
Andaikan anda adalah seorang direktur teknik yang harus menerapkan teknologi baru. Anda tahu teknologi ini diperlukan dapat meningkatkan efisiensi industri, namun pada saat yang sama juga membuat banyak pegawai yang setia akan kehilangan pekerjaan, karena teknologi ini hanya memerlukan sedikit tenaga kerja saja. Bagaimana sikap anda? Dilema moral ini menunjukkan bahwa masalah etika juga meliputi kehidupan bisnis. Perusahaan dituntut untuk menetapkan patokan etika yang dapat diserap oleh masyarakat dalam pengambilan keputusannya. Sedangkan di pihak lain, banyak masyarakat menganggap etika itu hanya demi kepentingan perusahaan sendiri. Tantangan yang dihadapi serta kesadaran akan keterbatasan perusahaan dalam memperkirakan dan mengendalikan setiap keputusannya membuat perusahaan semakin sadar tentang tantangan etika yang harus dihadapi.
INOVASI, PERUBAHAN DAN LAPANGAN KERJA
Aspek bisnis yang paling menimbulkan pertanyaan menyangkut etika adalah inovasi dan perubahan. Sering terjadi tekanan untuk berubah membuat perusahaan atau masyarakat tidak mempunyai pilihan lain. Perusahaan harus menanam modal pada mesin dan pabrik baru yang biasanya menimbulkan masalah karena ketidakcocokan antara keahlian tenaga kerja yang dimiliki dan yang dibutuhkan oleh teknologi baru. Sedangkan perusahaan yang mencoba menolak perubahan teknologi biasanya menghadapi ancaman yang cukup besar sehingga memperkuat alasan perlunya melakukan perubahan. Keuntungan ekonomis dari inovasi dan perubahan biasanya digunakan sebagai pembenaran yang utama.
Sayangnya biaya sosial dari perubahan jarang dibayar oleh para promotor inovasi. Biaya tersebut berupa hilangnya pekerjaan, perubahan dalam masyarakat, perekonomian, dan lingkungan. Biaya-biaya ini tak mudah diukur. Tantangan sosial yang paling mendasar berasal dari masyarakat yang berdiri di luar proses. Dampak teknologi baru bukan mustahil tak dapat diprediksi. Kewaspadaan dan keterbukaan yang berkesinambungan merupakan tindakan yang penting dalam usaha perusahaan memenuhi kewajibannya.
Dampak inovasi dan perubahan terhadap tenaga kerja menimbulkan banyak masalah dibanding aspek pembangunan lainnya. Banyak pegawai menganggap inovasi mengecilkan kemampuan mereka. Hal ini mengubah kondisi pekerjaan serta sangat mengurangi kepuasan kerja. Perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk menyediakan lapangan kerja dan menciptakan tenaga kerja yang mampu bekerja dalam masa perubahan. Termasuk di dalamnya adalah
mendukung, melatih, dan mengadakan sumber daya untuk menjamin orang-orang yang belum bekerja memiliki keahlian dan dapat bersaing untuk menghadapi dan mempercepat perubahan.
PASAR DAN PEMASARAN
Monopoli adalah contoh yang paling ekstrem dari distorsi dalam pasar. Ada banyak alasan untuk melakukan konsentrasi industri, misal, meningkatkan kemampuan berkompetisi, memudahkan permodalan, hingga semboyan “yang terkuat adalah yang menang”. Penyalahgunaan kekuatan pasar melalui monopoli merupakan perhatian klasik terhadap bagaimana pasar dan pemasaran dilaksanakan. Kecenderungan untuk berkonsentrasi dan kekuatan nyata dari perusahaan raksasa harus dilihat secara hati-hati.
Banyak kritik diajukan pada aspek pemasaran, misal, penyalahgunaan kekuatan pembeli, promosi barang yang berbahaya, menyatakan nilai yang masih diragukan, atau penyalahgunaan spesifik lain, seperti iklan yang berdampak buruk bagi anak-anak. Diperlukan kelompok penekan untuk mengkritik tingkah laku perusahaan. Negara pun dapat menentukan persyaratan dan standar.
PENGURUS DAN GAJI DIREKSI
Unsur kepengurusan adalah bagian penting dari agenda kebijaksanaan perusahaan karena merupakan kewajiban yang nyata dalam bertanggungjawab terhadap barang dan dana orang lain. Perusahaan wajib melaksanakan pengurusan manajemen dengan tekun atas semua harta yang dipertanggungjawabkan pada pemberi tugas. Tugas terutama berada pada pundak direksi yang diharapkan bertindak loyal, dapat dipercaya, serta ahli dalam menjalankan tugasnya. Mereka tidak boleh menyalahgunakan posisinya. Mereka bertanggung jawab pada perusahaan juga undang-undang. Dalam hal ini auditing memegang peranan penting dalam mempertahankan stabilitas antara kebutuhan manajer untuk menjalankan tugasnya dan hak pemegang saham untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan para manajer. Perdebatan mengenai gaji direksi terjadi karena adanya ketidakadilan dalam proses penentuannya, ruang gerak yang dimungkinkan bagi direksi, kurang jelasnya hubungan antara kinerja organisasi dan penggajian, paket-paket tambahan tersembunyi dan kelemahan dalam pengawasan. Tampaknya gaji para direksi meningkat, sementara tingkat pertumbuhan pendapatan rata-rata cenderung menurun, dan nilai saham berfluktuasi. Hal ini menimbulkan kritik dan kesadaran untuk menyoroti kenaikan gaji para eksekutif senior. Informasi dan pembatasan eksternal merupakan unsur penting dalam upaya menyelesaikan penyalahgunaan yang terjadi.
TANTANGAN MULTINASIONAL
Sering terjadi, perusahaan internasional mengambil tindakan yang tak dapat diterima secara lokal. Banyak pertanyaan mendasar bagi perusahaan multinasional, seperti kemungkinan masuknya nilai moral budaya ke budaya masyarakat lain, atau kemungkinan perusahaan mengkesploitasi lubang-lubang perundang-undangan dalam sebuah negara demi kepentingan mereka. Dalam prakteknya, perusahaan internasional mempengaruhi perkembangan ekonomi sosial masyarakat suatu negara. Mereka dapat mensukseskan aspirasi negara atau justru malah membuat frustasi dengan menghambat tujuan nasional. Hal ini meningkatkan kewajiban bagi perorangan maupun industri untuk melaksanakan aturan kode etik secara internal maupun eksternal.
REFERENSI
(Sumber: Tom Cannon, Coporate Responsibility)
Rabu, 01 Desember 2010
“ANALISIS PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN “ ( Studi pada bakso bignyo di Pamulang)”
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
TUGAS : RISET PEMASARAN
“ANALISIS PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS
LAYANAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN “
( Studi pada bakso bignyo di Pamulang)”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di dalam kehidupan manusia pasti akan mengalami perubahan , baik di bidang politik , ekonomi , sosial , budaya, dan juga berpengaruh terhadap pola perilaku persaingan bisnisnya. Hal ini menimbulkan persaingan yang ketat dalam dunia bisnis. Setiap perusahaan pada umumnya ingin berhasil dalam menjalankan usaha-usahanya. Usaha-usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan adalah
salah satunya melalui kegiatan pemasaran, yaitu suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan penawaran, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. (Kotler 2000:9). Sejak dahulu makanan menempati urutan teratas dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan ke dalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Dengan alasan itu, manusia tidak dapat melepaskan kebutuhannya untuk makan karena hanya dengan makan manusia dapat
melangsungkan hidupnya. Dalam menikmati hidangan atau makanan, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memenuhinya. Cara tersebut dapat dengan memilih rumah makan yang indah dengan pelayanan yang mewah, dengan harapan bahwa konsumen akan merasa puas setelah ia mengorbankan sejumlah uang yang cukup besar di rumah makan yang cukup mewah itu. Di samping itu, adapula yang cenderung
memilih rumah makan yang biasa tetapi memberikan kepuasan dalam rasa
makanan yang disantapnya. Sebagian konsumen ada yang beranggapan dari pada
makan makanan yang mewah serta mahal tetapi tidak cukup lezat rasanya, lebih
baik memilih rumah makan yang biasa tetapi cukup lezat sesuai dengan selera
mereka. Selain pelayanan, harga juga merupakan variabel penting dalam pemasaran.
Harga yang rendah atau harga yang terjangkau menjadi pemicu untuk
meningkatkan kinerja pemasaran (Ferdinand, 2002:11). Faktor lokasi / tempat juga merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu bisnis. Menurut Jeni Raharjani (2005 : 5), strategi lokasi / tempat adalah salah satu determinan yang paling penting dalam perilaku konsumen, perusahaan harus memilih lokasi yang strategis dalam menempatkan tokonya (Rumah Makan) di suatu kawasan / daerah yang dekat dengan keramaian dan aktiivitas masyarakat. Karena apabila terjadi kesalahan dalam memilih lokasi / tempat akan berpengaruh besar pada kelangsungan hidup pemilik rumah makan.
Atas dasar latar belakang masalah tersebut, maka dalam penelitian ini dapat
ditarik judul “ANALISIS PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS
LAYANAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN “
( Studi pada bakso bignyo di Pamulang)”
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini permasalahan yang dihadapi dalam proses penelitian
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian bakso bignyo di
Pamulang
2. Apakah pengaruh kualitas layanan terhadap keputusan pembelian di bakso bignyo di
Pamulang
1.3 Tujuan Penelitian
Suatu penelitian dilakukan tentunya memiliki beberapa tujuan. Adapun
yang menjadi tujuan dalam peneliitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap keputusan
pembelian bakso bignyo di Pamulang
2. Untuk mengetahui pengaruh kualitas layanan terhadap keputusan
pembelian bakso bignyo di Pamulang
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan bagi manajemen
untuk menentukan langkah-langkah yang tepat dalam upaya meningkatkan
volume penjualan dengan memperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian.
2. Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan penelitian
dan masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
keputusan pembelian.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Pemasaran
Definisi pemasaran adalah proses sosial dimana dengan proses itu, individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler,2005:10). Sedangkan menurut Alma (2004:1), pemasaran adalah segala kegiatan untuk menyampaikan barang-barang ke tangan (rumah tangga) dan ke konsumen industri, tetapi tidak termasuk kegiatan perubahan bentuk barang. Banyak orang mengira bahwa pemasaran hanya sekedar penjualan atau periklanan. Namun, penjualan dan periklanan hanyalah gunung es pemasaran. Sekarang, pemasaran harus dipahami tidak dalam pengertian lama (katakan danjual), tetapi dalam pengertian baru yaitu memuaskan kebutuhan pelanggan. Jika pemasaran memahami kebutuhan pelanggan dengan baik, mengembangkan produk yang mempunyai nilai superior, memetapkan harga, mendistribusikan,dan mempromosikan produknya dengan efektif, produk-produk ini akan terjual dengan mudah. Jadi penjualan dan periklanan hanyalah bagian dari bauran pemasaran yang lebih besar dalam satu perangkat pemasaran yang bekerja bersama-sama untuk mempengaruhi pasar (Kotler dan Amstrong, 2001:7).
2.1.2 Proses Keputusan Pembelian
Pengertian keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan
keputusan dimana konsumen benar-benar membeli (Kotler, 2001). Proses keputusan pembelian merupakan suatu perilaku konsumen untuk menentukan suatu proses pengembangan keputusan dalam membeli suatu produk. Proses tersebut merupakan sebuah penyelesaian masalah harga yang terdiri dari lima tahap (Kotler, 1999).
• Pengenalan masalah
Merupakan tahap pertama di proses keputusan pembelian dimana konsumen mengenali
masalah atau kebutuhan
• Pencarian informasi
Pada tahap ini konsumen digerakkan untuk mencari lebih banyak informasi, konsumen
bisa lebih mudah melakukan pencarian informasi aktif, ketika lebih banyak informasi
diperoleh maka kesadaran dan pengetahuan konsumen tentang barang atau jasa akan
semakin meningkat.
• Penilaian alternatif
Konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek-merek alternatif dalam
himpunan pikiran.
• Keputusan pembelian
Pada tahap ini konsumen secara aktual membeli suatu produk.
• Perilaku setalah pembelian
Setelah pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau
ketidakpuasan tertentu. Jika produk sesuai harapan maka konsumen puas. Jika melebihi
harapan maka konsumen sangat puas. Jika kurang memenuhi harapan maka konsumen
tidak puas. Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen dengan suatu produk akan
mempengaruhi perilaku selanjutnya. Bila konsumen puas, dia akan menunjukkan
probabilitas yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi.
2.1.3 Kualitas Produk
Pada hakekatnya seseorang membeli produk bukan hanya sekedar ia
ingin memiliki produk. Para konsumen membeli barang atau jasa karena barang
atau jasa tersebut dipergunakan sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan (Sofjan Assauri, 2002). Menurut (Kotler & Amstrong, 2001) produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan.
2.1.3.1 Konsep kualitas produk
Definisi dari kualitas produk adalah mencerminkan kemampuan produk
untuk menjalankan tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam pengemasan dan reparasi produk dan cirri-ciri lainnya (Kotler dan Amstrong,1997). Menurut Adam & Ebert (1992; 256), menyatakan bahwa “Quality is the customer’s perception”. Artinya bahwa pelanggan menilai baik buruknya kualitas suatu produk itu berdasarkan persepsinya. Suatu produk dikatakan berkualitas jika memenuhi kebutuhan dan keinginan pembeli. Kualitas ditentukan oleh pelanggan,
dan pengalaman mereka terhadap produk atau jasa. Adapun tujuan kualitas produk adalah sebagai berikut Kotler (2002:29) :
a. Mengusahakan agar barang hasil produksi dapat mencapai standar yang
telah ditetapkan.
b. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
c. Mengusahakan agar biaya desain dari produksi tertentu menjadi sekecil
mungkin.
d. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.
2.1.4 Kualitas Layanan
Keberhasilan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang
berkualitas dapat ditentukan dengan pendekatan service quality yang telah
dikembangkan oleh Parasuraman, Berry dan Zenthaml (dalam Lupiyoadi,2006:181).
Menurut Zeithaml et al (1990), dari hasil penelitian pada 12 fokus grup di
Amerika menghasilkan adanya 10 dimensi kualitas jasa pelayanan dan selanjutnya
disederhanakan menjadi 5 dimensi, yaitu :
1. Reliability (keandalan) adalah kemampuan untuk melaksanakan
pelayanan yang semestinya secara tepat.
2. Responsiveness (ketanggapan) adalah keinginan untuk membantu
konsumen dan memberikan pelayanan yang cepat dan seharga.
3. Empathy (empati) adalah rasa memperhatikan dan memelihara pada
masing-masing pelanggan.
4. Assurance (kepastian) adalah pengetahuan dan keramahan karyawan
serta kemampuan untuk memberikan kesan dapat dipercaya dan penuh
keyakinan.
5. Tangible (keberwujudan) adalah penampilan fasilitas-fasilitas fisik,
peralatan, personil, dan perlengkapan-perlengkapan komunikasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.1 Variabel Penelitian
Variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau
kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007 : 2). Variabel-variabel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel terikat (dependent variable)
Variabel dependen adalah variabel yang menjadi pusat perhatian
utama peneliti. Hakekat sebuah masalah mudah terlihat dnegan mengenali
berbagai variabel dependen yang digunakan dalam sebuah model.
Variabilitas dari atau atas faktor inilah yang berusaha untuk dijelaskan
oleh seorang peneliti (Ferdinand, 2006:26). Dalam penelitian ini yang
menjadi variabel dependen adalah : keputusan pembelian (Y)
2. Variabel tidak terikat (independent variable)
Variabel independen yang dilambangkan dengan (X) adalah
variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik yang pengaruhnya
positif maupun yang pengaruhnya negatif (Ferdinand, 2006:26). Variabel
independen dalam penelitian ini adalah :
a. Kualitas produk (X1)
b. Kualitas layanan (X2)
3.1.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah melekatkan arti pada suatu variabel dengan
cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang perlu untuk mengukur variabel itu.
Pengertian operasional variabel ini kemudian diuraikan menjadi indikator empiris
yang meliputi :
A. Variabel terikat (dependent variable)
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah :
keputusan pembelian ( Y ), dengan indikator sebagai berikut :
• Yakin
• Pertimbangan dalam membeli
• Sesuai keinginan dan kebutuhan
B. Variabel bebas (independent variable)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah :
1. Kualitas produk (X1)
Kualitas produk dapat disimpulkan sebagai penilaian konsumen
mengenai baik buruknya kualitas suatu produk. Memiliki indikator
sebagai berikut :
• Rasanya enak (X11)
• Makanan yang disajikan higienis (X12)
• Porsinya pas (X13)
2. Kualitas layanan (X2)
Kualitas layanan yang dimaksud adalah suatu kondisi dimana
produk mampu memenuhi kebutuhan orang yang
menggunakannya. Indikator dari variabel ini adalah :
• Pelayanannya cepat (X21)
• Pelayanan pegawai ramah (X22)
• Fasilitasnya baik (X23)
3.2 Penentuan Sampel
Sampel menurut Sugiyono (2004 : 73), ialah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Besarnya sampel yang
dibutuhkan sangat ditentukan oleh derajat keakuratan yang dibutuhkan oleh
peneliti dalam menaksir mean populasi dari pengamatan sampelnya ( Saleh, 2001:152 ).
3.3 Jenis dan sumber data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder.
1. Data primer
Data primer merupakan hasil tabulasi dari jawaban responden. Data
tersebut dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti yang diperoleh
langsung dari responden. Data primer didapatkan dengan menggunakan
instrumen kuesioner. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan
pertanyaan tertutup dan terbuka.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung, baik
berupa keterangan maupun literatur yang ada hubungannya dengan
penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil
penjualan Soto Angkring Mas Boed.
3.4 Metode pengumpulan data
1. Kuesioner (daftar pertanyaan)
Metode ini dilakuan dengan mengajukan daftar pertanyaan yang
bersifat tertutup dan terbuka kepada responden.
3.5 Metode analisis data
2. Observasi
Observasi merupakan metode penelitian dimana peneliti melakukan
pengamatan secara langsung pada obyek penelitian.
3. Studi pustaka
Metode pencarian informasi dari buku-buku dan sumber-sumber lai
yang relevan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.
3.5.1 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif merupakan bentuk analisis yang berdasarkan dari data
yang dinyatakan dalam bentuk uraian. Analisis kualitatif ini digunakan untuk
membahas dan menerangkan hasil penelitian tentang berbagai gejala atau kasus
yang dapat diuraikan dengan kalimat.
Untuk mendapatkan data kuantitatif, digunakan skala Likert yang
diperoleh dari daftar pertanyaan yang digolongkan ke dalam lima tingkatan
sebagai berikut (Sugiyono,2004:87), misalnya :
a. Untuk jawaban a sangat tidak setuju diberi nilai = 1
b. Untuk jawaban b tidak setuju diberi nilai = 2
c. Untuk jawaban c netral diberi nilai = 3
d. Untuk jawaban d setuju diberi nilai = 4
e. Untuk jawaban e sangat setuju diberi nilai = 5
Dengan program SPSS (Statistical Package for Social Science) alat
analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dikemukakan
mengenai pengaruh kualitas produk, dan kualitas layanan terhadap
Keputusan Pembelian adalah sebagai berikut :
3.5.2.1 Uji Analisis Data
1. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang
merupakan indikator dari suatu variabel. Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara one shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukuran hanya
sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (a).
Suatu variabel dikatakan reliable jika nilai Cronbach Alpha (a) >0,6.
2. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya
suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan
dan kuesioner mampu untuk mengungkap sesuatu yang akan diukur
oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2005).
3.5.2.2 Uji Asumsi Klasik
1. Uji multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas
(independen) (Santoso, 2004).
2. Uji Heterokedastisitas
Uji ini dilakukan untuk menganalisis apakah dalam model
regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual suatu
pengamatan ke pengamatan lain.
3. Uji Normalitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.
3.5.2.3 Analisis Regresi Linear Berganda
Model regresi adalah model yang digunakan untuk menganalisis
pengaruh dari berbagai variabel independen terhadap satu variabel dependen
(Ferdinand, 2006).
Formula untuk regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e
Dimana :
Y = keputusan pembelian
a = Konstanta
X1 = Kualitas produk
X2 = Kualitas Layanan
b1 = koefisien regresi untuk variabel kualitas produk
b2 = koefisien regresi untuk variabel kualitas layanan
e = error
3.5.2.4 Pengujian Hipotesis
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat dinilai
dengan godness of fit-nya.Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak), sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima
(Ghozali, 2005).
1. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan sebuah model menerangkan variasi variabel dependen.
2. Uji F
Dalam penelitian ini, uji F digunakan untuk mengetahui tingkat
siginifikansi pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama
(simultan) terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005:84). Dalam penelitian ini,
hipotesis yang digunakan adalah :
Dasar pengambilan keputusannya (Ghozali, 2005:84) adalah dengan
menggunakan angka probabilitas signifikansi, yaitu:
a. Apabila probabilitas signifikansi > 0.05, maka Ho diterima dan Ha
ditolak.
b. Apabila probabilitas signifikansi < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha
diterima.
3. Uji Parsial (Uji t)
Untuk menentukan koefisien spesifik yang mana yang tidak sama dengan
nol, uji tambahan diperlukan yaitu dengan menggunakan uji t.
Dasar pengambilan keputusan (Ghozali, 2005:84) adalah dengan
menggunakan angka probabilitas signifikansi, yaitu :
a. Apabila angka probabilitas signifikani > 0.05, maka Ho diterima dan Ha
ditolak.
b. Apabila angka probabilitas signifikansi < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha
diterima.
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS
4.1 Gambaran Umum Responden
Responden dalam penelitian ini adalah konsumen bakso bignyo di Pamulang.
Responden yang menjadi objek penelitian ini
berjumlah 100 orang. Ini sesuai dengan metode pengambilan sampel yang dipakai
dalam penelitian ini yaitu accidental sampling. Metode ini digunakan karena
konsumen tersebar luas di beberapa wilayah di Pamulang. Berdasarkan data dari
100 responden, melalui daftar pertanyaan didapat kondisi responden tentang
umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan pendapatan per bulan.
Penggolongan yang dilakukan kepada responden dalam penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui secara jelas dan akurat mengenai gambaran responden sebagai
objek penelitian ini. Gambaran umum responden dalam penelitian ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
4.1.1. Deskripsi Responden berdasarkan Umur
Dalam penelitian ini informasi mengenai umur adalah informasi yang
sangat penting. Hal ini dikarenakan perbedaan umur pada setiap konsumen atau
secara khususnya masing-masing responden akan mempengaruhi pengetahuan
dan sikap dalam melakukan keputusan pembelian atau lebih ke selera dan
kepantasan dalam melakukan pembelian.
Tabel 4.1
Kategori Umur Responden
No Umur Jumlah Presentase
1 < 20 tahun 29 29
2 20 – 29 tahun 40 40
3 29,5 – 39 tahun 16 16
4 39,5 – 49 tahun 10 10
5 > 50 tahun 5 5
Total 100 100
Sumber : data primer yang diolah, 2010
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa untuk umur responden yang
terbanyak adalah yang berumur antara 20 – 29 tahun sebanyak 40 (40%), diikuti
dengan usia responden kurang dari 20 tahun sebanyak 29 orang (29%). Proporsi
demikian menunjukkan adanya distribusi umur yang mencolok adalah pada umur
yang masih relative muda. Hal ini disebabkan karena pada umur tersebut biasanya
seseorang memiliki kesenangan yang cukup banyak dibanding pada umur tua.
4.1.2. Deskripsi Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Informasi mengenai jenis kelamin dalam penelitian ini merupakan salah
hal yang penting juga karena dapat mempengaruhi kebutuhan sehingga akan
berpengaruh pada pilihan dalam keputusan pembelian.
Tabel 4.2
Jenis Kelamin Responden
No Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase
1 Laki-laki 58 58
2 Perempuan 42 42
Total 100 100
Sumber : Data primer yang diolah, 2010
Diketahui bahwa untuk jenis kelamin laki-laki memiliki jumlah yang lebih
banyak dibanding jenis kelamin perempuan yaitu 58 laki-laki dan 42 perempuan.
Hal ini nampaknya menunjukkan bahwa laki-laki memiliki aktivitas dan
keinginan kuliner yang lebih besar dibanding perempuan.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Analisis Deskriptif
Analisis ini bertujuan untuk meninjau jawaban dari responden terhadap masingmasing
pertanyaan yang menjadi instrumen penelitian ini. Dalam hal ini
dikemukakan mengenai deskripsi jawaban responden terhadap variabel-variabel
yang diteliti, sehingga akan dapat diketahui intensitas kondisi masing-masing
variabel.
4.2.1.1. Deskripsi Variabel Kualitas Produk
Kualitas pelayanan menunjukkan kualitas dari produk soto dan makanan lain
yang ditawarkan oleh ”Bakso Bignyo di Pamulang” kepada pelanggan. Pengukuran
variabel kualitas pelayanan dilakukan dengan 3 item. Hasil penelitian diperoleh
sebagai berikut :
Tabel 4.6
Tanggapan Responden Mengenai Kualitas Produk
No Indikator Skor Jml Rata-rata
STS TS N S SS
1 Rasa yang enak 0 3 20 59 18 392 3,92
2 Penyajian yang higienis 0 4 27 49 20 385 3,85
3 Porsi yang pas 0 4 21 64 11 382 3,82
Jumlah 1159 11.59
Rata-rata 386.3 3.86
Sumber : Data primer yang diolah 2010
Keterangan :
1. Indikator 1
Nilai rata-rata = [(0x1) + (6x2) + (46x3) + (39x4) + (9x5)] : 100
= 351 : 100 = 3,51
2. Indikator 2
Nilai rata-rata = [(0x1) + (7x2) + (45x3) + (38x4) + (10x5)] :100
= 351 : 100 = 3,51
3. Indikator 3
Nilai rata-rata = [(0x1) + (6x2) + (46x3) + (41x4) + (7x5)] :100
= 349 : 100 = 3,49
4. Keputusan pembelian (Y)
Nilai rata-rata = (3,51 + 3,51+ 3,49) : 3 = 3,50
Tanggapan respoden sebagaimana pada tabel 4.10 menunjukkan bahwa
sebagian besar responden memberikan tanggapan setuju terhadap ketiga indikator
variabel Keputusan pembelian yang dilakukan yaitu dengan skor rata-rata sebesar
3,50. Berdasarkan kategori rentang skor, maka rata-rata tersebut berada pada
tingkatan skor yang baik.
4.2.2. Pengujian Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk menguji sejauh mana ketepatan alat
pengukur dapat mengungkapkan konsep gejala/kejadian yang diukur. Pengujian
validitas dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Uji
reliabilitas digunakan untuk menguji sejauh mana keandalan suatu alat pengukur
untuk dapat digunakan lagi untuk penelitian yang sama.
Tabel 4.11
Hasil Pengujian Validitas
No Indikator r hitung r tabel Keterangan
1 Kualitas Produk
- Indikator 1 0,721 0,197 valid
- Indikator 2 0,833 0,197 valid
- Indikator 3 0,801 0,197 valid
2 Kualitas Pelayanan
- Indikator 1 0,795 0,197 valid
- Indikator 2 0,859 0,197 valid
- Indikator 3 0,789 0,197 valid
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa semua indikator yang digunakan untuk
mengukur variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai
koefisien korelasi yang lebih besar dari rtable untuk sampel sebanyak 100 orang
yaitu 0,197. Nilai r hitung disajikan pada Tabel 4.10 Dari hasil tersebut
menunjukkan bahwa semua indikator tersebut adalah valid.
2. Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan rumus Alpha. Hasil pengujian reliabilitas untuk masing-masing
variabel yang diringkas pada tabel 4.12 berikut ini:
Tabel 4.12
Hasil Pengujian Reliabilitas
Variabel Alpha Keterangan
Kualitas Produk 0,688 Reliabel
Kualitas Layanan 0,747 Reliabel
Sumber : Data primer yang diolah, 2010
Hasil uji reliabilitas tersebut menunjukkan bahwa semua variabel
mempunyai koefisien Alpha yang cukup besar yaitu diatas 0,60 sehingga dapat
dikatakan semua konsep pengukur masing-masing variabel dari kuesioner
adalah reliabel sehingga untuk selanjutnya item-item pada masing-masing
konsep variabel sebagai alat ukur.
4.2.3. Uji Asumsi Klasik
Suatu model regresi yang baik
harus bebas dari masalah penyimpangan terhadap asumsi klasik. Berikut ini
adalah pengujian terhadap asumsi klasik dalam model regresi.
4.2.3.1. Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan dengan menggunakan pengujian
terhadap nilai residual. Sedangkan pengujian dilakukan dengan menggunakan P-P
Plot.
4.2.3.2. Uji Multikolonieritas
Suatu variabel menunjukkan gejala multikolonieritas bisa dilihat dari nilai
VIF (Variance Inflation Factor) yang tinggi pada variabel-variabel bebas suatu
model regresi dan nilai tolerance yang rendah. Nilai VIF yang lebih besar dari 10
dan tolerance di bawah 0,1 menunjukkan adanya gejala multikolonieritas dalam
model regresi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan
sebagai prediktor model regresi menunjukkan nilai VIF di bawah 10 dan
tolerance di atas 0,1. Hal ini berarti bahwa variabel-variabel bebas yang
digunakan dalam penelitian tidak menunjukkan adanya gejala multikolinieritas,
yang berarti variabel bebas dapat digunakan sebagai variabel independen sebagai
prediktor yang independen.
4.2.3.3. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan scatter plot.
Jika tidak terdapat pola yang teratur pada titik-titik residualnya, maka dapat
disimpulkan tidak adanya masalah heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas menunjukkan tidak ada pola tertentu, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y, maka tidakterjadi heteroskedastisitas.
4.2.4. Analisis Regresi Linier
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier untuk pembuktian
hipotesis penelitian. Analisis ini akan menggunakan input berdasarkan data yang
diperoleh dari kuesioner. Perhitungan statistik dalam analisis regresi linier
berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
bantuan program komputer SPSS for Windows versi 13.0.
Model persamaan regresi yang dapat dituliskan dari hasil tersebut dalam
bentuk persamaan regresi bentuk standard adalah sebagai berikut :
Y = 0,260 X1 + 0,253 X2
Persamaan regresi tersebut dapat dejelaskan sebagai berikut :
a. Koefisien regresi variabel X1 (kualitas produk) diperoleh dengan tanda
koefisien positif. Hal ini berarti bahwa kualitas produk yang lebih baik akan
meningkatkan keputusan pembelian.
b. Koefisien regresi variabel X2 (kualitas pelayanan) diperoleh dengan tanda
koefisien positif. Hal ini berarti bahwa kualitas pelayanan yang lebih baik
akan meningkatkan keputusan pembelian.
4.2.5. Uji F
Hasil pengujian diperoleh nilai F hitung sebesar 28,205 dengan signifikansi
0,000. Dengan menggunakan batas signifikansi 0,05, nilai signifikansi tersebut
lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa Kualitas produk dan kualitas layanan bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Keputusan pembelian
4.2.6. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel terikatnya.
Hasil perhitungan regresi dapat diketahui bahwa koefisien determinasi
(adjusted R2) yang diperoleh sebesar 0,524. Hal ini berarti 52,4% keputusan
pembelian dapat dipengaruhi oleh kualitas produk dan kualitas pelayanan, dan sisanya 47,6% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model regresi ini.
4.2.7. Uji t
Kemaknaan pengaruh kedua prediktor sebagaimana pada model tersebut
selanjutnya dibuktikan dengan pengujian hipotesis.
1. Hasil pengujian diperoleh nilai t hitung untuk variabel Kualitas Produk
terhadap Keputusan pembelian menunjukkan nilai t hitung = 3,150 dengan
signifikansi 0,002. Dengan menggunakan batas signifikansi 0,05, nilai
signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan arah koefisien positif,
dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa
Kualitas produk memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap
Keputusan pembelian dapat diterima. Hipotesis 1 diterima.
2. Hasil pengujian diperoleh nilai t hitung untuk variabel Kualitas Pelayanan
terhadap Keputusan pembelian menunjukkan nilai t hitung = 2,813 dengan
signifikansi 0,006. Dengan menggunakan batas signifikansi 0,05, nilai
signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan arah koefisien positif,
dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa
Kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap
Keputusan pembelian dapat diterima. Hipotesis 2 diterima.
4.3 Pembahasan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli Bakso Bignyo di Pamulang,
yang dilihat dari atribut kualitas produk dan kualitas layanan
tempat semua mampu mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian
Bakso bignyo di Pamulang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas produk memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil ini
memberikan bukti empiris bahwa kualitas produk yang diberikan oleh Bakso
Bignyo meliputi rasa yang enak, penyajiannya yang higienis, dan porsinya yang
pas dapat mempengaruhi keputusan pembelian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas layanan memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil ini
memberikan bukti empiris bahwa kualitas layanan yang diberikan oleh Bakso
Bignyo meliputi pelayanannya yang cepat, pelayanan pegawai yang ramah, dan
fasilitas yang baik dapat mempengaruhi keputusan pembelian.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat
disimpulkan sebagai berikut ini :
1. Hasil analisis diperoleh bahwa variabel kualitas produk (X1) memiliki
koefisien regresi sebesar 0,260 (bertanda positif) terhadap keputusan
pembelian (Y) dan nilai thitung sebesar 3,150 dengan tingkat signifikansi
0,002 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa kualitas produk (X1) berpengaruh
positif terhadap keputusan pembelian (Y). Dengan demikian Hipotesis 1
yang menyatakan bahwa kualitas produk (X1) berpengaruh positif
terhadap keputusan pembelian (Y) dapat diterima.
2. Hasil analisis diperoleh bahwa variabel kualitas layanan (X2) memiliki
koefisien regresi sebesar 0,253 (bertanda positif) terhadap keputusan
pembelian (Y) dan nilai thitung sebesar 2,813 dengan tingkat signifikansi
0,006 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa kualitas layanan (X2) berpengaruh
positif terhadap keputusan pembelian (Y). Dengan demikian Hipotesis 2
yang menyatakan bahwa kualitas layanan (X2) berpengaruh positif
terhadap keputusan pembelian (Y) dapat diterima.
Saran
Dari hasil pengamatan diatas warung Bakso Bignyo di Pamulang menambahkan menu bakso yang baru dan memberikan promosi gratisan sehingga dapat menarik para pembelinya.
Referensi :
http://eprints.undip.ac_SAPUTRO_-_skripsi.PDF
http://www.ubm.ac.id/manajemen
http://eprints.undip.ac_ ika putri iswayanti
NPM : 10207813
TUGAS : RISET PEMASARAN
“ANALISIS PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS
LAYANAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN “
( Studi pada bakso bignyo di Pamulang)”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di dalam kehidupan manusia pasti akan mengalami perubahan , baik di bidang politik , ekonomi , sosial , budaya, dan juga berpengaruh terhadap pola perilaku persaingan bisnisnya. Hal ini menimbulkan persaingan yang ketat dalam dunia bisnis. Setiap perusahaan pada umumnya ingin berhasil dalam menjalankan usaha-usahanya. Usaha-usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan adalah
salah satunya melalui kegiatan pemasaran, yaitu suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan penawaran, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. (Kotler 2000:9). Sejak dahulu makanan menempati urutan teratas dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan ke dalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Dengan alasan itu, manusia tidak dapat melepaskan kebutuhannya untuk makan karena hanya dengan makan manusia dapat
melangsungkan hidupnya. Dalam menikmati hidangan atau makanan, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memenuhinya. Cara tersebut dapat dengan memilih rumah makan yang indah dengan pelayanan yang mewah, dengan harapan bahwa konsumen akan merasa puas setelah ia mengorbankan sejumlah uang yang cukup besar di rumah makan yang cukup mewah itu. Di samping itu, adapula yang cenderung
memilih rumah makan yang biasa tetapi memberikan kepuasan dalam rasa
makanan yang disantapnya. Sebagian konsumen ada yang beranggapan dari pada
makan makanan yang mewah serta mahal tetapi tidak cukup lezat rasanya, lebih
baik memilih rumah makan yang biasa tetapi cukup lezat sesuai dengan selera
mereka. Selain pelayanan, harga juga merupakan variabel penting dalam pemasaran.
Harga yang rendah atau harga yang terjangkau menjadi pemicu untuk
meningkatkan kinerja pemasaran (Ferdinand, 2002:11). Faktor lokasi / tempat juga merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu bisnis. Menurut Jeni Raharjani (2005 : 5), strategi lokasi / tempat adalah salah satu determinan yang paling penting dalam perilaku konsumen, perusahaan harus memilih lokasi yang strategis dalam menempatkan tokonya (Rumah Makan) di suatu kawasan / daerah yang dekat dengan keramaian dan aktiivitas masyarakat. Karena apabila terjadi kesalahan dalam memilih lokasi / tempat akan berpengaruh besar pada kelangsungan hidup pemilik rumah makan.
Atas dasar latar belakang masalah tersebut, maka dalam penelitian ini dapat
ditarik judul “ANALISIS PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS
LAYANAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN “
( Studi pada bakso bignyo di Pamulang)”
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini permasalahan yang dihadapi dalam proses penelitian
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian bakso bignyo di
Pamulang
2. Apakah pengaruh kualitas layanan terhadap keputusan pembelian di bakso bignyo di
Pamulang
1.3 Tujuan Penelitian
Suatu penelitian dilakukan tentunya memiliki beberapa tujuan. Adapun
yang menjadi tujuan dalam peneliitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap keputusan
pembelian bakso bignyo di Pamulang
2. Untuk mengetahui pengaruh kualitas layanan terhadap keputusan
pembelian bakso bignyo di Pamulang
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan bagi manajemen
untuk menentukan langkah-langkah yang tepat dalam upaya meningkatkan
volume penjualan dengan memperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian.
2. Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan penelitian
dan masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
keputusan pembelian.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Pemasaran
Definisi pemasaran adalah proses sosial dimana dengan proses itu, individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler,2005:10). Sedangkan menurut Alma (2004:1), pemasaran adalah segala kegiatan untuk menyampaikan barang-barang ke tangan (rumah tangga) dan ke konsumen industri, tetapi tidak termasuk kegiatan perubahan bentuk barang. Banyak orang mengira bahwa pemasaran hanya sekedar penjualan atau periklanan. Namun, penjualan dan periklanan hanyalah gunung es pemasaran. Sekarang, pemasaran harus dipahami tidak dalam pengertian lama (katakan danjual), tetapi dalam pengertian baru yaitu memuaskan kebutuhan pelanggan. Jika pemasaran memahami kebutuhan pelanggan dengan baik, mengembangkan produk yang mempunyai nilai superior, memetapkan harga, mendistribusikan,dan mempromosikan produknya dengan efektif, produk-produk ini akan terjual dengan mudah. Jadi penjualan dan periklanan hanyalah bagian dari bauran pemasaran yang lebih besar dalam satu perangkat pemasaran yang bekerja bersama-sama untuk mempengaruhi pasar (Kotler dan Amstrong, 2001:7).
2.1.2 Proses Keputusan Pembelian
Pengertian keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan
keputusan dimana konsumen benar-benar membeli (Kotler, 2001). Proses keputusan pembelian merupakan suatu perilaku konsumen untuk menentukan suatu proses pengembangan keputusan dalam membeli suatu produk. Proses tersebut merupakan sebuah penyelesaian masalah harga yang terdiri dari lima tahap (Kotler, 1999).
• Pengenalan masalah
Merupakan tahap pertama di proses keputusan pembelian dimana konsumen mengenali
masalah atau kebutuhan
• Pencarian informasi
Pada tahap ini konsumen digerakkan untuk mencari lebih banyak informasi, konsumen
bisa lebih mudah melakukan pencarian informasi aktif, ketika lebih banyak informasi
diperoleh maka kesadaran dan pengetahuan konsumen tentang barang atau jasa akan
semakin meningkat.
• Penilaian alternatif
Konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek-merek alternatif dalam
himpunan pikiran.
• Keputusan pembelian
Pada tahap ini konsumen secara aktual membeli suatu produk.
• Perilaku setalah pembelian
Setelah pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau
ketidakpuasan tertentu. Jika produk sesuai harapan maka konsumen puas. Jika melebihi
harapan maka konsumen sangat puas. Jika kurang memenuhi harapan maka konsumen
tidak puas. Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen dengan suatu produk akan
mempengaruhi perilaku selanjutnya. Bila konsumen puas, dia akan menunjukkan
probabilitas yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi.
2.1.3 Kualitas Produk
Pada hakekatnya seseorang membeli produk bukan hanya sekedar ia
ingin memiliki produk. Para konsumen membeli barang atau jasa karena barang
atau jasa tersebut dipergunakan sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan (Sofjan Assauri, 2002). Menurut (Kotler & Amstrong, 2001) produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan.
2.1.3.1 Konsep kualitas produk
Definisi dari kualitas produk adalah mencerminkan kemampuan produk
untuk menjalankan tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam pengemasan dan reparasi produk dan cirri-ciri lainnya (Kotler dan Amstrong,1997). Menurut Adam & Ebert (1992; 256), menyatakan bahwa “Quality is the customer’s perception”. Artinya bahwa pelanggan menilai baik buruknya kualitas suatu produk itu berdasarkan persepsinya. Suatu produk dikatakan berkualitas jika memenuhi kebutuhan dan keinginan pembeli. Kualitas ditentukan oleh pelanggan,
dan pengalaman mereka terhadap produk atau jasa. Adapun tujuan kualitas produk adalah sebagai berikut Kotler (2002:29) :
a. Mengusahakan agar barang hasil produksi dapat mencapai standar yang
telah ditetapkan.
b. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
c. Mengusahakan agar biaya desain dari produksi tertentu menjadi sekecil
mungkin.
d. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.
2.1.4 Kualitas Layanan
Keberhasilan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang
berkualitas dapat ditentukan dengan pendekatan service quality yang telah
dikembangkan oleh Parasuraman, Berry dan Zenthaml (dalam Lupiyoadi,2006:181).
Menurut Zeithaml et al (1990), dari hasil penelitian pada 12 fokus grup di
Amerika menghasilkan adanya 10 dimensi kualitas jasa pelayanan dan selanjutnya
disederhanakan menjadi 5 dimensi, yaitu :
1. Reliability (keandalan) adalah kemampuan untuk melaksanakan
pelayanan yang semestinya secara tepat.
2. Responsiveness (ketanggapan) adalah keinginan untuk membantu
konsumen dan memberikan pelayanan yang cepat dan seharga.
3. Empathy (empati) adalah rasa memperhatikan dan memelihara pada
masing-masing pelanggan.
4. Assurance (kepastian) adalah pengetahuan dan keramahan karyawan
serta kemampuan untuk memberikan kesan dapat dipercaya dan penuh
keyakinan.
5. Tangible (keberwujudan) adalah penampilan fasilitas-fasilitas fisik,
peralatan, personil, dan perlengkapan-perlengkapan komunikasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.1 Variabel Penelitian
Variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau
kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007 : 2). Variabel-variabel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel terikat (dependent variable)
Variabel dependen adalah variabel yang menjadi pusat perhatian
utama peneliti. Hakekat sebuah masalah mudah terlihat dnegan mengenali
berbagai variabel dependen yang digunakan dalam sebuah model.
Variabilitas dari atau atas faktor inilah yang berusaha untuk dijelaskan
oleh seorang peneliti (Ferdinand, 2006:26). Dalam penelitian ini yang
menjadi variabel dependen adalah : keputusan pembelian (Y)
2. Variabel tidak terikat (independent variable)
Variabel independen yang dilambangkan dengan (X) adalah
variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik yang pengaruhnya
positif maupun yang pengaruhnya negatif (Ferdinand, 2006:26). Variabel
independen dalam penelitian ini adalah :
a. Kualitas produk (X1)
b. Kualitas layanan (X2)
3.1.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah melekatkan arti pada suatu variabel dengan
cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang perlu untuk mengukur variabel itu.
Pengertian operasional variabel ini kemudian diuraikan menjadi indikator empiris
yang meliputi :
A. Variabel terikat (dependent variable)
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah :
keputusan pembelian ( Y ), dengan indikator sebagai berikut :
• Yakin
• Pertimbangan dalam membeli
• Sesuai keinginan dan kebutuhan
B. Variabel bebas (independent variable)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah :
1. Kualitas produk (X1)
Kualitas produk dapat disimpulkan sebagai penilaian konsumen
mengenai baik buruknya kualitas suatu produk. Memiliki indikator
sebagai berikut :
• Rasanya enak (X11)
• Makanan yang disajikan higienis (X12)
• Porsinya pas (X13)
2. Kualitas layanan (X2)
Kualitas layanan yang dimaksud adalah suatu kondisi dimana
produk mampu memenuhi kebutuhan orang yang
menggunakannya. Indikator dari variabel ini adalah :
• Pelayanannya cepat (X21)
• Pelayanan pegawai ramah (X22)
• Fasilitasnya baik (X23)
3.2 Penentuan Sampel
Sampel menurut Sugiyono (2004 : 73), ialah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Besarnya sampel yang
dibutuhkan sangat ditentukan oleh derajat keakuratan yang dibutuhkan oleh
peneliti dalam menaksir mean populasi dari pengamatan sampelnya ( Saleh, 2001:152 ).
3.3 Jenis dan sumber data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder.
1. Data primer
Data primer merupakan hasil tabulasi dari jawaban responden. Data
tersebut dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti yang diperoleh
langsung dari responden. Data primer didapatkan dengan menggunakan
instrumen kuesioner. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan
pertanyaan tertutup dan terbuka.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung, baik
berupa keterangan maupun literatur yang ada hubungannya dengan
penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil
penjualan Soto Angkring Mas Boed.
3.4 Metode pengumpulan data
1. Kuesioner (daftar pertanyaan)
Metode ini dilakuan dengan mengajukan daftar pertanyaan yang
bersifat tertutup dan terbuka kepada responden.
3.5 Metode analisis data
2. Observasi
Observasi merupakan metode penelitian dimana peneliti melakukan
pengamatan secara langsung pada obyek penelitian.
3. Studi pustaka
Metode pencarian informasi dari buku-buku dan sumber-sumber lai
yang relevan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.
3.5.1 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif merupakan bentuk analisis yang berdasarkan dari data
yang dinyatakan dalam bentuk uraian. Analisis kualitatif ini digunakan untuk
membahas dan menerangkan hasil penelitian tentang berbagai gejala atau kasus
yang dapat diuraikan dengan kalimat.
Untuk mendapatkan data kuantitatif, digunakan skala Likert yang
diperoleh dari daftar pertanyaan yang digolongkan ke dalam lima tingkatan
sebagai berikut (Sugiyono,2004:87), misalnya :
a. Untuk jawaban a sangat tidak setuju diberi nilai = 1
b. Untuk jawaban b tidak setuju diberi nilai = 2
c. Untuk jawaban c netral diberi nilai = 3
d. Untuk jawaban d setuju diberi nilai = 4
e. Untuk jawaban e sangat setuju diberi nilai = 5
Dengan program SPSS (Statistical Package for Social Science) alat
analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dikemukakan
mengenai pengaruh kualitas produk, dan kualitas layanan terhadap
Keputusan Pembelian adalah sebagai berikut :
3.5.2.1 Uji Analisis Data
1. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang
merupakan indikator dari suatu variabel. Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara one shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukuran hanya
sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (a).
Suatu variabel dikatakan reliable jika nilai Cronbach Alpha (a) >0,6.
2. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya
suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan
dan kuesioner mampu untuk mengungkap sesuatu yang akan diukur
oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2005).
3.5.2.2 Uji Asumsi Klasik
1. Uji multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas
(independen) (Santoso, 2004).
2. Uji Heterokedastisitas
Uji ini dilakukan untuk menganalisis apakah dalam model
regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual suatu
pengamatan ke pengamatan lain.
3. Uji Normalitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.
3.5.2.3 Analisis Regresi Linear Berganda
Model regresi adalah model yang digunakan untuk menganalisis
pengaruh dari berbagai variabel independen terhadap satu variabel dependen
(Ferdinand, 2006).
Formula untuk regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e
Dimana :
Y = keputusan pembelian
a = Konstanta
X1 = Kualitas produk
X2 = Kualitas Layanan
b1 = koefisien regresi untuk variabel kualitas produk
b2 = koefisien regresi untuk variabel kualitas layanan
e = error
3.5.2.4 Pengujian Hipotesis
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat dinilai
dengan godness of fit-nya.Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak), sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima
(Ghozali, 2005).
1. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan sebuah model menerangkan variasi variabel dependen.
2. Uji F
Dalam penelitian ini, uji F digunakan untuk mengetahui tingkat
siginifikansi pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama
(simultan) terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005:84). Dalam penelitian ini,
hipotesis yang digunakan adalah :
Dasar pengambilan keputusannya (Ghozali, 2005:84) adalah dengan
menggunakan angka probabilitas signifikansi, yaitu:
a. Apabila probabilitas signifikansi > 0.05, maka Ho diterima dan Ha
ditolak.
b. Apabila probabilitas signifikansi < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha
diterima.
3. Uji Parsial (Uji t)
Untuk menentukan koefisien spesifik yang mana yang tidak sama dengan
nol, uji tambahan diperlukan yaitu dengan menggunakan uji t.
Dasar pengambilan keputusan (Ghozali, 2005:84) adalah dengan
menggunakan angka probabilitas signifikansi, yaitu :
a. Apabila angka probabilitas signifikani > 0.05, maka Ho diterima dan Ha
ditolak.
b. Apabila angka probabilitas signifikansi < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha
diterima.
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS
4.1 Gambaran Umum Responden
Responden dalam penelitian ini adalah konsumen bakso bignyo di Pamulang.
Responden yang menjadi objek penelitian ini
berjumlah 100 orang. Ini sesuai dengan metode pengambilan sampel yang dipakai
dalam penelitian ini yaitu accidental sampling. Metode ini digunakan karena
konsumen tersebar luas di beberapa wilayah di Pamulang. Berdasarkan data dari
100 responden, melalui daftar pertanyaan didapat kondisi responden tentang
umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan pendapatan per bulan.
Penggolongan yang dilakukan kepada responden dalam penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui secara jelas dan akurat mengenai gambaran responden sebagai
objek penelitian ini. Gambaran umum responden dalam penelitian ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
4.1.1. Deskripsi Responden berdasarkan Umur
Dalam penelitian ini informasi mengenai umur adalah informasi yang
sangat penting. Hal ini dikarenakan perbedaan umur pada setiap konsumen atau
secara khususnya masing-masing responden akan mempengaruhi pengetahuan
dan sikap dalam melakukan keputusan pembelian atau lebih ke selera dan
kepantasan dalam melakukan pembelian.
Tabel 4.1
Kategori Umur Responden
No Umur Jumlah Presentase
1 < 20 tahun 29 29
2 20 – 29 tahun 40 40
3 29,5 – 39 tahun 16 16
4 39,5 – 49 tahun 10 10
5 > 50 tahun 5 5
Total 100 100
Sumber : data primer yang diolah, 2010
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa untuk umur responden yang
terbanyak adalah yang berumur antara 20 – 29 tahun sebanyak 40 (40%), diikuti
dengan usia responden kurang dari 20 tahun sebanyak 29 orang (29%). Proporsi
demikian menunjukkan adanya distribusi umur yang mencolok adalah pada umur
yang masih relative muda. Hal ini disebabkan karena pada umur tersebut biasanya
seseorang memiliki kesenangan yang cukup banyak dibanding pada umur tua.
4.1.2. Deskripsi Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Informasi mengenai jenis kelamin dalam penelitian ini merupakan salah
hal yang penting juga karena dapat mempengaruhi kebutuhan sehingga akan
berpengaruh pada pilihan dalam keputusan pembelian.
Tabel 4.2
Jenis Kelamin Responden
No Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase
1 Laki-laki 58 58
2 Perempuan 42 42
Total 100 100
Sumber : Data primer yang diolah, 2010
Diketahui bahwa untuk jenis kelamin laki-laki memiliki jumlah yang lebih
banyak dibanding jenis kelamin perempuan yaitu 58 laki-laki dan 42 perempuan.
Hal ini nampaknya menunjukkan bahwa laki-laki memiliki aktivitas dan
keinginan kuliner yang lebih besar dibanding perempuan.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Analisis Deskriptif
Analisis ini bertujuan untuk meninjau jawaban dari responden terhadap masingmasing
pertanyaan yang menjadi instrumen penelitian ini. Dalam hal ini
dikemukakan mengenai deskripsi jawaban responden terhadap variabel-variabel
yang diteliti, sehingga akan dapat diketahui intensitas kondisi masing-masing
variabel.
4.2.1.1. Deskripsi Variabel Kualitas Produk
Kualitas pelayanan menunjukkan kualitas dari produk soto dan makanan lain
yang ditawarkan oleh ”Bakso Bignyo di Pamulang” kepada pelanggan. Pengukuran
variabel kualitas pelayanan dilakukan dengan 3 item. Hasil penelitian diperoleh
sebagai berikut :
Tabel 4.6
Tanggapan Responden Mengenai Kualitas Produk
No Indikator Skor Jml Rata-rata
STS TS N S SS
1 Rasa yang enak 0 3 20 59 18 392 3,92
2 Penyajian yang higienis 0 4 27 49 20 385 3,85
3 Porsi yang pas 0 4 21 64 11 382 3,82
Jumlah 1159 11.59
Rata-rata 386.3 3.86
Sumber : Data primer yang diolah 2010
Keterangan :
1. Indikator 1
Nilai rata-rata = [(0x1) + (6x2) + (46x3) + (39x4) + (9x5)] : 100
= 351 : 100 = 3,51
2. Indikator 2
Nilai rata-rata = [(0x1) + (7x2) + (45x3) + (38x4) + (10x5)] :100
= 351 : 100 = 3,51
3. Indikator 3
Nilai rata-rata = [(0x1) + (6x2) + (46x3) + (41x4) + (7x5)] :100
= 349 : 100 = 3,49
4. Keputusan pembelian (Y)
Nilai rata-rata = (3,51 + 3,51+ 3,49) : 3 = 3,50
Tanggapan respoden sebagaimana pada tabel 4.10 menunjukkan bahwa
sebagian besar responden memberikan tanggapan setuju terhadap ketiga indikator
variabel Keputusan pembelian yang dilakukan yaitu dengan skor rata-rata sebesar
3,50. Berdasarkan kategori rentang skor, maka rata-rata tersebut berada pada
tingkatan skor yang baik.
4.2.2. Pengujian Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk menguji sejauh mana ketepatan alat
pengukur dapat mengungkapkan konsep gejala/kejadian yang diukur. Pengujian
validitas dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Uji
reliabilitas digunakan untuk menguji sejauh mana keandalan suatu alat pengukur
untuk dapat digunakan lagi untuk penelitian yang sama.
Tabel 4.11
Hasil Pengujian Validitas
No Indikator r hitung r tabel Keterangan
1 Kualitas Produk
- Indikator 1 0,721 0,197 valid
- Indikator 2 0,833 0,197 valid
- Indikator 3 0,801 0,197 valid
2 Kualitas Pelayanan
- Indikator 1 0,795 0,197 valid
- Indikator 2 0,859 0,197 valid
- Indikator 3 0,789 0,197 valid
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa semua indikator yang digunakan untuk
mengukur variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai
koefisien korelasi yang lebih besar dari rtable untuk sampel sebanyak 100 orang
yaitu 0,197. Nilai r hitung disajikan pada Tabel 4.10 Dari hasil tersebut
menunjukkan bahwa semua indikator tersebut adalah valid.
2. Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan rumus Alpha. Hasil pengujian reliabilitas untuk masing-masing
variabel yang diringkas pada tabel 4.12 berikut ini:
Tabel 4.12
Hasil Pengujian Reliabilitas
Variabel Alpha Keterangan
Kualitas Produk 0,688 Reliabel
Kualitas Layanan 0,747 Reliabel
Sumber : Data primer yang diolah, 2010
Hasil uji reliabilitas tersebut menunjukkan bahwa semua variabel
mempunyai koefisien Alpha yang cukup besar yaitu diatas 0,60 sehingga dapat
dikatakan semua konsep pengukur masing-masing variabel dari kuesioner
adalah reliabel sehingga untuk selanjutnya item-item pada masing-masing
konsep variabel sebagai alat ukur.
4.2.3. Uji Asumsi Klasik
Suatu model regresi yang baik
harus bebas dari masalah penyimpangan terhadap asumsi klasik. Berikut ini
adalah pengujian terhadap asumsi klasik dalam model regresi.
4.2.3.1. Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan dengan menggunakan pengujian
terhadap nilai residual. Sedangkan pengujian dilakukan dengan menggunakan P-P
Plot.
4.2.3.2. Uji Multikolonieritas
Suatu variabel menunjukkan gejala multikolonieritas bisa dilihat dari nilai
VIF (Variance Inflation Factor) yang tinggi pada variabel-variabel bebas suatu
model regresi dan nilai tolerance yang rendah. Nilai VIF yang lebih besar dari 10
dan tolerance di bawah 0,1 menunjukkan adanya gejala multikolonieritas dalam
model regresi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan
sebagai prediktor model regresi menunjukkan nilai VIF di bawah 10 dan
tolerance di atas 0,1. Hal ini berarti bahwa variabel-variabel bebas yang
digunakan dalam penelitian tidak menunjukkan adanya gejala multikolinieritas,
yang berarti variabel bebas dapat digunakan sebagai variabel independen sebagai
prediktor yang independen.
4.2.3.3. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan scatter plot.
Jika tidak terdapat pola yang teratur pada titik-titik residualnya, maka dapat
disimpulkan tidak adanya masalah heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas menunjukkan tidak ada pola tertentu, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y, maka tidakterjadi heteroskedastisitas.
4.2.4. Analisis Regresi Linier
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier untuk pembuktian
hipotesis penelitian. Analisis ini akan menggunakan input berdasarkan data yang
diperoleh dari kuesioner. Perhitungan statistik dalam analisis regresi linier
berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
bantuan program komputer SPSS for Windows versi 13.0.
Model persamaan regresi yang dapat dituliskan dari hasil tersebut dalam
bentuk persamaan regresi bentuk standard adalah sebagai berikut :
Y = 0,260 X1 + 0,253 X2
Persamaan regresi tersebut dapat dejelaskan sebagai berikut :
a. Koefisien regresi variabel X1 (kualitas produk) diperoleh dengan tanda
koefisien positif. Hal ini berarti bahwa kualitas produk yang lebih baik akan
meningkatkan keputusan pembelian.
b. Koefisien regresi variabel X2 (kualitas pelayanan) diperoleh dengan tanda
koefisien positif. Hal ini berarti bahwa kualitas pelayanan yang lebih baik
akan meningkatkan keputusan pembelian.
4.2.5. Uji F
Hasil pengujian diperoleh nilai F hitung sebesar 28,205 dengan signifikansi
0,000. Dengan menggunakan batas signifikansi 0,05, nilai signifikansi tersebut
lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa Kualitas produk dan kualitas layanan bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Keputusan pembelian
4.2.6. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel terikatnya.
Hasil perhitungan regresi dapat diketahui bahwa koefisien determinasi
(adjusted R2) yang diperoleh sebesar 0,524. Hal ini berarti 52,4% keputusan
pembelian dapat dipengaruhi oleh kualitas produk dan kualitas pelayanan, dan sisanya 47,6% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model regresi ini.
4.2.7. Uji t
Kemaknaan pengaruh kedua prediktor sebagaimana pada model tersebut
selanjutnya dibuktikan dengan pengujian hipotesis.
1. Hasil pengujian diperoleh nilai t hitung untuk variabel Kualitas Produk
terhadap Keputusan pembelian menunjukkan nilai t hitung = 3,150 dengan
signifikansi 0,002. Dengan menggunakan batas signifikansi 0,05, nilai
signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan arah koefisien positif,
dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa
Kualitas produk memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap
Keputusan pembelian dapat diterima. Hipotesis 1 diterima.
2. Hasil pengujian diperoleh nilai t hitung untuk variabel Kualitas Pelayanan
terhadap Keputusan pembelian menunjukkan nilai t hitung = 2,813 dengan
signifikansi 0,006. Dengan menggunakan batas signifikansi 0,05, nilai
signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan arah koefisien positif,
dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa
Kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap
Keputusan pembelian dapat diterima. Hipotesis 2 diterima.
4.3 Pembahasan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli Bakso Bignyo di Pamulang,
yang dilihat dari atribut kualitas produk dan kualitas layanan
tempat semua mampu mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian
Bakso bignyo di Pamulang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas produk memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil ini
memberikan bukti empiris bahwa kualitas produk yang diberikan oleh Bakso
Bignyo meliputi rasa yang enak, penyajiannya yang higienis, dan porsinya yang
pas dapat mempengaruhi keputusan pembelian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kualitas layanan memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil ini
memberikan bukti empiris bahwa kualitas layanan yang diberikan oleh Bakso
Bignyo meliputi pelayanannya yang cepat, pelayanan pegawai yang ramah, dan
fasilitas yang baik dapat mempengaruhi keputusan pembelian.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat
disimpulkan sebagai berikut ini :
1. Hasil analisis diperoleh bahwa variabel kualitas produk (X1) memiliki
koefisien regresi sebesar 0,260 (bertanda positif) terhadap keputusan
pembelian (Y) dan nilai thitung sebesar 3,150 dengan tingkat signifikansi
0,002 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa kualitas produk (X1) berpengaruh
positif terhadap keputusan pembelian (Y). Dengan demikian Hipotesis 1
yang menyatakan bahwa kualitas produk (X1) berpengaruh positif
terhadap keputusan pembelian (Y) dapat diterima.
2. Hasil analisis diperoleh bahwa variabel kualitas layanan (X2) memiliki
koefisien regresi sebesar 0,253 (bertanda positif) terhadap keputusan
pembelian (Y) dan nilai thitung sebesar 2,813 dengan tingkat signifikansi
0,006 (< 0.05). Hal ini berarti bahwa kualitas layanan (X2) berpengaruh
positif terhadap keputusan pembelian (Y). Dengan demikian Hipotesis 2
yang menyatakan bahwa kualitas layanan (X2) berpengaruh positif
terhadap keputusan pembelian (Y) dapat diterima.
Saran
Dari hasil pengamatan diatas warung Bakso Bignyo di Pamulang menambahkan menu bakso yang baru dan memberikan promosi gratisan sehingga dapat menarik para pembelinya.
Referensi :
http://eprints.undip.ac_SAPUTRO_-_skripsi.PDF
http://www.ubm.ac.id/manajemen
http://eprints.undip.ac_ ika putri iswayanti
Kamis, 18 November 2010
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
NAMA :NUR FITRIANI
NPM :10207813
KLS :4 EA03
MATERI :ETIKA BISNIS
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Masyarakat
Pamadi Wibowo
Associate LabSosio Universitas Indonesia
Praktek tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) oleh korporasi besar, khususnya di sektor industri ekstraktif (minyak, gas, dan pertambangan lainnya), saat ini sedang disorot tajam. Kasus Buyat adalah contoh terbaru--bukan terakhir--tentang bagaimana realisasi tanggung jawab sosial itu. Tulisan ini bermaksud menelaah praktek CSR berkaitan dengan peran aktif masyarakat sipil dalam memaknai dan turut membentuk konsep kemitraan yang merupakan salah satu kondisi yang dibutuhkan dalam mewujudkan CSR.
Dalam artikel "How Should Civil Society (and The Government) Respond to 'Corporate Social Responsibility'?", Hamann dan Acutt (2003) menelaah motivasi yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. Ada dua motivasi utama. Pertama, akomodasi, yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik, superficial, dan parsial. CSR dilakukan untuk memberi citra sebagai korporasi yang tanggap terhadap kepentingan sosial. Singkatnya, realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya.
Kedua, legitimasi, yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. Pertanyaan-pertanyaan absah apakah yang dapat diajukan terhadap perilaku korporasi, serta jawaban-jawaban apa yang mungkin diberikan dan terbuka untuk diskusi? Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa motivasi ini berargumentasi wacana CSR mampu memenuhi fungsi utama yang memberikan keabsahan pada sistem kapitalis dan, lebih khusus, kiprah para korporasi raksasa.
Telaah Hamann dan Acutt sangat relevan dengan situasi implementasi CSR di Indonesia dewasa ini. Khususnya dalam kondisi keragaman pengertian konsep dan penjabarannya dalam program-program berkenaan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Keragaman pengertian konsep CSR adalah akibat logis dari sifat pelaksanaannya yang berdasarkan prinsip kesukarelaan. Tidak ada konsep baku yang dapat dianggap sebagai acuan pokok, baik di tingkat global maupun lokal.
Secara internasional saat ini tercatat sejumlah inisiatif code of conduct implementasi CSR. Inisiatif itu diusulkan, baik oleh organisasi internasional independen (Sullivan Principles, Global Reporting Initiative), organisasi negara (Organization for Economic Cooperation and Development), juga organisasi nonpemerintah (Caux Roundtables), dan lain-lain. Di Indonesia, acuannya belum ada. Bahkan peraturan tentang pembangunan komunitas (community development/CD) saat ini masih dalam bentuk draf yang diajukan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Tak heran jika berbagai korporasi sebenarnya berada dalam situasi "bingung" untuk melaksanakan CSR.
Selain gambaran itu, tampak pula kecenderungan pelaksanaan CSR di Indonesia yang sangat tergantung pada chief executive officer (CEO) korporasi. Artinya, kebijakan CSR tidak otomatis selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika CEO memiliki kesadaran moral bisnis berwajah manusiawi, besar kemungkinan korporasi tersebut menerapkan kebijakan CSR yang layak. Sebaliknya, jika orientasi CEO-nya hanya pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi) serta pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR sekadar kosmetik.
Sifat CSR yang sukarela, absennya produk hukum yang menunjang dan lemahnya penegakan hukum telah menjadikan Indonesia sebagai negara ideal bagi korporasi yang memang memperlakukan CSR sebagai kosmetik. Yang penting, Laporan Sosial Tahunannya tampil mengkilap, lengkap dengan tampilan foto aktivitas sosial serta dana program pembangunan komunitas yang telah direalisasi.
Di pihak lain, kondisi itu juga membuat frustrasi korporasi yang berupaya menunjukkan itikad baik. Celakanya, bagi yang terakhir ini, walau dana dalam jumlah besar dikucurkan, manajemen CSR dibentuk, serta strategi dan program dibuat, nyatanya tuntutan serta demo dari masyarakat dan aktivis organisasi nonpemerintah masih tetap berlangsung. Sementara itu, sikap pemerintah sejauh ini masih memprihatinkan.
Secara teoretis CSR mengasumsikan korporasi sebagai agen pembangunan yang penting, khususnya dalam hubungan dengan pihak pemerintah dan kelompok masyarakat sipil. Dengan menggunakan alur pemikiran motivasi dasar, berbagai stakeholder kunci dapat memantau, bahkan menciptakan tekanan eksternal yang bisa "memaksa" korporasi mewujudkan konsep dan penjabaran CSR yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia.
Dari perspektif masyarakat sipil, pola kemitraan sangat menguntungkan karena kegiatan bisnis memiliki berbagai sumber daya penting dan kapabilitas yang dapat digabungkan untuk tujuan-tujuan pembangunan. Misalnya, pembangunan infrastruktur industri pertambangan di wilayah pedalaman mampu menyumbang secara signifikan pada penyediaan berbagai fasilitas publik, yang dapat dilihat dalam perkembangan kota Sangatta, Pekanbaru, dan Balikpapan.
Namun, peran masyarakat sipil dalam pendayagunaan berbagai sumber daya dan kapabilitas perlu disalurkan dan diperkuat oleh organisasi nonpemerintah dan pemerintah. Artinya, kemitraan adalah prasyarat dasar. Dalam khazanah kemitraan dikenal istilah "kompetensi inti pelengkap" (complementary core competencies). Kapasitas rekayasa teknis, logistik, finansial, dan sumber daya manusia yang dimiliki korporasi dapat dipadu dengan modal sosial, ekonomi, budaya, dan pengetahuan lokal. Tentu juga dengan kerangka pembangunan yang lebih luas yang dilakukan pemerintah.
Peningkatan posisi tawar masyarakat sipil masih harus diperjuangkan. Masyarakat sipil perlu memainkan peran lebih aktif dalam membentuk wacana tentang CSR. Hal ini mengisyaratkan kalangan organisasi nonpemerintah juga harus lebih memahami agenda CSR. Bukan hanya retorikanya, tetapi juga unsur-unsur terukurnya, seperti aspek legislasi dan berbagai indikator kuantitatif keberhasilan CSR dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada kenyataannya, peta pemahaman organisasi nonpemerintah terhadap masalah ini masih sangat bervariasi. Yang tergolong garis keras condong menentang CSR, karena dianggap produk neoliberal dalam rangka penaklukan masyarakat sipil. Ada yang berkompeten, memiliki komitmen, dan dapat berkolaborasi, tapi jumlahnya masih sangat kecil. Bagian terbesar mungkin malahan hanya free rider.
Dalam era kapitalisme global saat ini, eksistensi kapitalis seperti korporasi multinasional adalah keniscayaan. Menafikan keberadaan mereka dalam dinamika pembangunan di berbagai aspek adalah irasional. Sementara itu, menyiasati kehadiran korporasi dalam kerja sama kemitraan yang sejajar untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat bukanlah ilusi. Optimisme dan perjuangan mewujudkan hal itu lebih berarti dari sekadar asal berseberangan.
REFERENSI
http://www.infoanda.com/linksfollow
NPM :10207813
KLS :4 EA03
MATERI :ETIKA BISNIS
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Masyarakat
Pamadi Wibowo
Associate LabSosio Universitas Indonesia
Praktek tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) oleh korporasi besar, khususnya di sektor industri ekstraktif (minyak, gas, dan pertambangan lainnya), saat ini sedang disorot tajam. Kasus Buyat adalah contoh terbaru--bukan terakhir--tentang bagaimana realisasi tanggung jawab sosial itu. Tulisan ini bermaksud menelaah praktek CSR berkaitan dengan peran aktif masyarakat sipil dalam memaknai dan turut membentuk konsep kemitraan yang merupakan salah satu kondisi yang dibutuhkan dalam mewujudkan CSR.
Dalam artikel "How Should Civil Society (and The Government) Respond to 'Corporate Social Responsibility'?", Hamann dan Acutt (2003) menelaah motivasi yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. Ada dua motivasi utama. Pertama, akomodasi, yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik, superficial, dan parsial. CSR dilakukan untuk memberi citra sebagai korporasi yang tanggap terhadap kepentingan sosial. Singkatnya, realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya.
Kedua, legitimasi, yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. Pertanyaan-pertanyaan absah apakah yang dapat diajukan terhadap perilaku korporasi, serta jawaban-jawaban apa yang mungkin diberikan dan terbuka untuk diskusi? Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa motivasi ini berargumentasi wacana CSR mampu memenuhi fungsi utama yang memberikan keabsahan pada sistem kapitalis dan, lebih khusus, kiprah para korporasi raksasa.
Telaah Hamann dan Acutt sangat relevan dengan situasi implementasi CSR di Indonesia dewasa ini. Khususnya dalam kondisi keragaman pengertian konsep dan penjabarannya dalam program-program berkenaan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Keragaman pengertian konsep CSR adalah akibat logis dari sifat pelaksanaannya yang berdasarkan prinsip kesukarelaan. Tidak ada konsep baku yang dapat dianggap sebagai acuan pokok, baik di tingkat global maupun lokal.
Secara internasional saat ini tercatat sejumlah inisiatif code of conduct implementasi CSR. Inisiatif itu diusulkan, baik oleh organisasi internasional independen (Sullivan Principles, Global Reporting Initiative), organisasi negara (Organization for Economic Cooperation and Development), juga organisasi nonpemerintah (Caux Roundtables), dan lain-lain. Di Indonesia, acuannya belum ada. Bahkan peraturan tentang pembangunan komunitas (community development/CD) saat ini masih dalam bentuk draf yang diajukan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Tak heran jika berbagai korporasi sebenarnya berada dalam situasi "bingung" untuk melaksanakan CSR.
Selain gambaran itu, tampak pula kecenderungan pelaksanaan CSR di Indonesia yang sangat tergantung pada chief executive officer (CEO) korporasi. Artinya, kebijakan CSR tidak otomatis selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika CEO memiliki kesadaran moral bisnis berwajah manusiawi, besar kemungkinan korporasi tersebut menerapkan kebijakan CSR yang layak. Sebaliknya, jika orientasi CEO-nya hanya pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi) serta pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR sekadar kosmetik.
Sifat CSR yang sukarela, absennya produk hukum yang menunjang dan lemahnya penegakan hukum telah menjadikan Indonesia sebagai negara ideal bagi korporasi yang memang memperlakukan CSR sebagai kosmetik. Yang penting, Laporan Sosial Tahunannya tampil mengkilap, lengkap dengan tampilan foto aktivitas sosial serta dana program pembangunan komunitas yang telah direalisasi.
Di pihak lain, kondisi itu juga membuat frustrasi korporasi yang berupaya menunjukkan itikad baik. Celakanya, bagi yang terakhir ini, walau dana dalam jumlah besar dikucurkan, manajemen CSR dibentuk, serta strategi dan program dibuat, nyatanya tuntutan serta demo dari masyarakat dan aktivis organisasi nonpemerintah masih tetap berlangsung. Sementara itu, sikap pemerintah sejauh ini masih memprihatinkan.
Secara teoretis CSR mengasumsikan korporasi sebagai agen pembangunan yang penting, khususnya dalam hubungan dengan pihak pemerintah dan kelompok masyarakat sipil. Dengan menggunakan alur pemikiran motivasi dasar, berbagai stakeholder kunci dapat memantau, bahkan menciptakan tekanan eksternal yang bisa "memaksa" korporasi mewujudkan konsep dan penjabaran CSR yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia.
Dari perspektif masyarakat sipil, pola kemitraan sangat menguntungkan karena kegiatan bisnis memiliki berbagai sumber daya penting dan kapabilitas yang dapat digabungkan untuk tujuan-tujuan pembangunan. Misalnya, pembangunan infrastruktur industri pertambangan di wilayah pedalaman mampu menyumbang secara signifikan pada penyediaan berbagai fasilitas publik, yang dapat dilihat dalam perkembangan kota Sangatta, Pekanbaru, dan Balikpapan.
Namun, peran masyarakat sipil dalam pendayagunaan berbagai sumber daya dan kapabilitas perlu disalurkan dan diperkuat oleh organisasi nonpemerintah dan pemerintah. Artinya, kemitraan adalah prasyarat dasar. Dalam khazanah kemitraan dikenal istilah "kompetensi inti pelengkap" (complementary core competencies). Kapasitas rekayasa teknis, logistik, finansial, dan sumber daya manusia yang dimiliki korporasi dapat dipadu dengan modal sosial, ekonomi, budaya, dan pengetahuan lokal. Tentu juga dengan kerangka pembangunan yang lebih luas yang dilakukan pemerintah.
Peningkatan posisi tawar masyarakat sipil masih harus diperjuangkan. Masyarakat sipil perlu memainkan peran lebih aktif dalam membentuk wacana tentang CSR. Hal ini mengisyaratkan kalangan organisasi nonpemerintah juga harus lebih memahami agenda CSR. Bukan hanya retorikanya, tetapi juga unsur-unsur terukurnya, seperti aspek legislasi dan berbagai indikator kuantitatif keberhasilan CSR dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada kenyataannya, peta pemahaman organisasi nonpemerintah terhadap masalah ini masih sangat bervariasi. Yang tergolong garis keras condong menentang CSR, karena dianggap produk neoliberal dalam rangka penaklukan masyarakat sipil. Ada yang berkompeten, memiliki komitmen, dan dapat berkolaborasi, tapi jumlahnya masih sangat kecil. Bagian terbesar mungkin malahan hanya free rider.
Dalam era kapitalisme global saat ini, eksistensi kapitalis seperti korporasi multinasional adalah keniscayaan. Menafikan keberadaan mereka dalam dinamika pembangunan di berbagai aspek adalah irasional. Sementara itu, menyiasati kehadiran korporasi dalam kerja sama kemitraan yang sejajar untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat bukanlah ilusi. Optimisme dan perjuangan mewujudkan hal itu lebih berarti dari sekadar asal berseberangan.
REFERENSI
http://www.infoanda.com/linksfollow
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KLS : 4 EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
Corporate social responsibility merupakan suatu elemen penting dalam kerangka keberlanjutan usaha suatu industri yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Definisi secara luas yang di tulis sebuah organiasi dunia World Bisnis Council for Sustainable Development (WBCD) menyatakan bahwa CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarga. Sedangkan menurut Nuryana, 2005 CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prisip kesukarelaan dan kemitraan.
Bila kita telaah lebih dalam, CSR dapat dikatakan sebagai tabungan masa depan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang diperoleh bukan sekedar bentuk finansial melainkan rasa kepercayaan dari masyarakat sekitar dan stakeholders lainnya terhadap perusahaan. Kepercayaan inilah yang sebenarnya menjadi modal dasar agar perusahaan dapat terus melakukan aktivitasnya. Penelitian dari Sandra Waddock dan Samuel Graves (Ann, 1998) menemukan bahwa perusahaan yang memperlakukan stakeholders mereka dengan baik akan meningkatkan kelompok mereka sebagai suatu bentuk manajemen yang berkualitas.
Stakeholders bukan hanya masyarakat dalam arti sempit yaitu masyarakat yang tinggal disekitar lokasi perusahaan melainkan masyarakat dalam arti luas, misalnya pemerintah, investor, elit politik dan lain sebagainya. Bentuk kerjasama yang dibentuk antara perusahaan dan stakeholders hendaknya juga merupakan kerjasama yang dapat saling memberikan kesempatan untuk sama-sama maju dan berkembang. Program-program CSR yang dibuat untuk kesejahteraan masyarakat pada akhirnya akan berbalik arah yaitu memberikan keuntungan kembali bagi perusahaan tersebut. Sebagai contoh hubungan dengan pekerja misalnya, dengan tidak menggunakan pekerja di bawah umur, memperhatikan kesejahteraan pekerja beserta keluarganya, mendukung serikat pekerja dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakadilan pada pekerja dapat meningkatkan hubungan antara pekerja dan perusahaan. Dalam hal ini pekerja akan merasa lebih di hargai, nyaman dan hubungannya tidak sekedar dia bekerja menerima upah tetapi dapat menimbulkan loyalitas terhadap perusahaan. Hal ini akan meningkatkan kinerja dan produktivitas pekerja yang tentu saja akan meningkatkan produktivitas perusahaan.
Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa CSR berbeda dengan charity atau sumbangan sosial. CSR harus dijalankan di atas suatu program dengan memerhatikan kebutuhan dan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Sementara sumbangan sosial lebih bersifat sesaat dan berdampak sementara, sehingga bisa diibaratkan hanya sebagai pelipur lara. Semangat CSR diharapkan dapat mampu membantu menciptakan keseimbangan antara perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Pada dasarnya tanggung jawab sosial perusahaan ini diharapkan dapat kembali menjadi budaya bagi bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat dunia dalam kebersamaan mengatasi masalah sosial dan lingkungan.
Keputusan manajemen perusahaan untuk melaksanakan program-program CSR secara berkelanjutan, pada dasarnya merupakan keputusan yang rasional. Sebab implementasi program-program CSR akan menimbulkan efek lingkaran emas yang akan dinikmati oleh perusahaan dan seluruh stakeholder-nya. Melalui CSR, kesejahteraan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal maupun masyarakat luas akan lebih terjamin. Kondisi ini pada gilirannya akan menjamin kelancaran seluruh proses atau aktivitas produksi perusahaan serta pemasaran hasil-hasil produksi perusahaan. Sedangkan terjaganya kelestarian lingkungan dan alam selain menjamin kelancaran proses produksi juga menjamin ketersediaan pasokan bahan baku produksi yang diambil dari alam.
Kesejahteraan masyarakat akan mendorong peningkatan daya beli, sehingga memperkuat daya serap pasar terhadap output perusahaan. Sedangkan kelestarian faktor-faktor produksi serta kelancaran proses produksi yang terjaga akan meningkatkan efisiensi proses produksi. Dua faktor tersebut akan meningkatkan potensi peningkatan laba perusahaan, dan dengan sendirinya meningkatkan kemampuan perusahaan mengalokasikan sebagian dari keuntungannya untuk membiayai berbagai aktivitas CSR di tahun-tahun berikutnya.
Manfaat penerapan CSR yang dilaksanakan dengan berlandaskan pada nilai-nilai etis telah banyak dinikmati oleh berbagai perusahaan multinasional dari negara-negara Eropa. Kesediaan perusahaan-perusahaan multinasional dari Eropa untuk menerapkan CSR atas inisiatif sendiri telah membantu menciptakan deferensiasi pasar atas para pesaing mereka dari Jepang maupun AS. Selain itu juga menunjang upaya perusahaan dalam mengelola tenaga kerja, menjaga kesetiaan konsumen, mewujudkan kekuatan merek, mengurangi biaya-biaya menjadi lebih rendah, menekan risiko sosial dan bisnis, serta membangun kredibilitas usaha di mata publik maupun investor saham.
Karena itu para eksekutif perusahaan multinasional di Eropa semakin yakin bahwa perusahaan yang memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang semakin kuat akan mampu meraih kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki kepedulian atas tanggung jawab sosialnya. Adidas, Nestle, dan Volkswagen hanya merupakan sedikit contoh perusahaan multinasional dari Eropa yang berhasil memanfaatkan CSR untuk pengembangan jaringan bisnisnya.
Hal ini sejalan dengan penelitian di Bursa Efek Jakarta terhadap emiten-emiten yang melaksanakan program-program CSR menunjukkan, kegiatan CSR ternyata berbanding positif terhadap kinerja perusahaan dan imbal hasil saham. Karena CSR terdiri dari rangkaian program yang memperhatikan kepentingan seluruh stakeholder perusahaan dalam jangka panjang, dengan demikian CSR tidak dapat dipandang sebagai beban sosial melainkan justru menjadi investasi sosial perusahaan.
Sebab dalam jangka panjang manfaat positif dari program CSR yang berkelanjutan akan menunjang aktivitas bisnis perusahaan. Manfaat jangka panjang ini meningkatkan keyakinan para investor di bursa efek atas prospek perusahaan di masa mendatang. Prospek yang positif dengan sendirinya meningkatkan kemungkinan dan peluang naiknya nilai investasi di bursa efek yang dilakukan saat ini.
Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi jangan pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor dan masyarakat. Lebih dari itu ketika pembangunan perusahaan telah sesuai dengan kawasan peruntukannya, maka pengusaha perlu melaksanakan berbagai kewajiban untuk meminimalisir kerugian yang dialami konsumen, karyawan, investor, maupun kerusakan kualitas lingkungan hidup antara lain :
a. Kewajiban terhadap konsumen
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan produk yang aman.
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang spesifikasi produk yang
dijual perusahaan, antara lain dengan mencantumkan label yang benar.
- Konsumen memiliki hak untuk didengarkan, perusahaan dapat membuka kontak
pelanggan melalui kotak pos atau nomor telepon.
- Konsumen memiliki hak untuk dapat dapat memilih barang yang mereka beli.
- Kolusi dalam penetapan harga yang merugikan konsumen tidak dilakukan.
- Kampanye iklan tidak dilakukan secara berlebihan.
- Kampanye iklan diikuti oleh produksi dan distribusi produk sesuai dengan pesan-pesan
iklan.
- Kampanye iklan perlu memperhatikan faktor berikut ini: tidak menayangkan materi
iklan yang menonjolkan anak-anak sedang merokok, mencantumkan kandungan kalori lemah kolesterol dalam makanan, komponen vitamin, dan unsur-unsur minuman kesehatan, menayangkan dengan gencar produk konsumsi yang tidak layak dan tidak halal untuk dikonsumsi, memberikan iming-iming hadiah jika membeli produk dengan gencar, materi iklan dan film yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak dan bersifat pornografi.
b. Kewajiban terhadap karyawan
- Melakukan proses seleksi dan penempatan pegawai secara transparan dengan mengajak
para calon pegawai dari sekitar komunitas untuk berpartisipasi.
- Memberikan posisi jabatan dan balas jasa gaji dan pengupahan, serta promosi jabatan
tanpa memandang agama, gender, suku bangsa, senioritas dan asal negara.
- Mematuhi peraturan dan UU ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
c. Kewajiban terhadap investor
- Meniadakan berbagai potensi kecurangan yang mungkin timbul di perusahaan terhadap
investor.
- Menghindari praktek pembuatan laporan keuangan yang disemir dan tidak sesuai
dengan standar pelaporan akuntansi yang berlaku.
- Tidak melakukan perbuatan ilegal seperti mengeluarkan cek kosong dan proses
pencucian uang (money laundry).
- Tidak melakukan proses “insider trading” dalam menjual surat berharga perusahaan.
- Mematuhi ketentuan tentang GAAP (Generally Accepted Accounting Practices),
ketentuan pasar modal bagi para emiten dan pedoman GCG yang diberlakukan
perusahaan.
d. Kewajiban terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup
- Menjalankan program community social responsibility, khususnya yang berkaitan
dengan pelestarian kualitas lingkungan hidup.
- Memperhitungkan dampak lintas sektor dalam proses produksi dengan memanfaatkan
bahan baku alam secara berkelanjutan.
- Menerapkan prinsip SIDEC, Sustainabilitas, Interdependence, Diversitas, Equity,
Cohesion dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
- Mengembangkan pola hidup “kekitaan” ketimbang “keakuan” (Emil Salim).
- Menghasilkan proses produksi dengan mengoptimalkan upaya renewable resources,
daur ulang non-renewable resources, mengupayakan zero-waste clean technology; dan
pemanfaatan tataruang dan proses produksi dengan sedikit limbah dan polusi
Membangun Citra Perusahaan melalui Program CSR
Beberapa aspek yang merupakan unsur pembentuk citra dan reputasi Perusahaan antara lain :
1. kemampuan financial
2. mutu produk dan pelayanan
3. focus pada pelanggan
4. keunggualan dan kepekaan SDM
5. reliability
6. inovasi
7. penegakan good corporate governance (GCG)
REFERENSI
http://www.ppm-manajemen.ac.id/
http://www.arthagrahapeduli.org
http://rosita.staff.uns.ac.id
http://www.scribd.com
NPM : 10207813
KLS : 4 EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
Corporate social responsibility merupakan suatu elemen penting dalam kerangka keberlanjutan usaha suatu industri yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Definisi secara luas yang di tulis sebuah organiasi dunia World Bisnis Council for Sustainable Development (WBCD) menyatakan bahwa CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarga. Sedangkan menurut Nuryana, 2005 CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prisip kesukarelaan dan kemitraan.
Bila kita telaah lebih dalam, CSR dapat dikatakan sebagai tabungan masa depan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang diperoleh bukan sekedar bentuk finansial melainkan rasa kepercayaan dari masyarakat sekitar dan stakeholders lainnya terhadap perusahaan. Kepercayaan inilah yang sebenarnya menjadi modal dasar agar perusahaan dapat terus melakukan aktivitasnya. Penelitian dari Sandra Waddock dan Samuel Graves (Ann, 1998) menemukan bahwa perusahaan yang memperlakukan stakeholders mereka dengan baik akan meningkatkan kelompok mereka sebagai suatu bentuk manajemen yang berkualitas.
Stakeholders bukan hanya masyarakat dalam arti sempit yaitu masyarakat yang tinggal disekitar lokasi perusahaan melainkan masyarakat dalam arti luas, misalnya pemerintah, investor, elit politik dan lain sebagainya. Bentuk kerjasama yang dibentuk antara perusahaan dan stakeholders hendaknya juga merupakan kerjasama yang dapat saling memberikan kesempatan untuk sama-sama maju dan berkembang. Program-program CSR yang dibuat untuk kesejahteraan masyarakat pada akhirnya akan berbalik arah yaitu memberikan keuntungan kembali bagi perusahaan tersebut. Sebagai contoh hubungan dengan pekerja misalnya, dengan tidak menggunakan pekerja di bawah umur, memperhatikan kesejahteraan pekerja beserta keluarganya, mendukung serikat pekerja dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakadilan pada pekerja dapat meningkatkan hubungan antara pekerja dan perusahaan. Dalam hal ini pekerja akan merasa lebih di hargai, nyaman dan hubungannya tidak sekedar dia bekerja menerima upah tetapi dapat menimbulkan loyalitas terhadap perusahaan. Hal ini akan meningkatkan kinerja dan produktivitas pekerja yang tentu saja akan meningkatkan produktivitas perusahaan.
Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa CSR berbeda dengan charity atau sumbangan sosial. CSR harus dijalankan di atas suatu program dengan memerhatikan kebutuhan dan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Sementara sumbangan sosial lebih bersifat sesaat dan berdampak sementara, sehingga bisa diibaratkan hanya sebagai pelipur lara. Semangat CSR diharapkan dapat mampu membantu menciptakan keseimbangan antara perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Pada dasarnya tanggung jawab sosial perusahaan ini diharapkan dapat kembali menjadi budaya bagi bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat dunia dalam kebersamaan mengatasi masalah sosial dan lingkungan.
Keputusan manajemen perusahaan untuk melaksanakan program-program CSR secara berkelanjutan, pada dasarnya merupakan keputusan yang rasional. Sebab implementasi program-program CSR akan menimbulkan efek lingkaran emas yang akan dinikmati oleh perusahaan dan seluruh stakeholder-nya. Melalui CSR, kesejahteraan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal maupun masyarakat luas akan lebih terjamin. Kondisi ini pada gilirannya akan menjamin kelancaran seluruh proses atau aktivitas produksi perusahaan serta pemasaran hasil-hasil produksi perusahaan. Sedangkan terjaganya kelestarian lingkungan dan alam selain menjamin kelancaran proses produksi juga menjamin ketersediaan pasokan bahan baku produksi yang diambil dari alam.
Kesejahteraan masyarakat akan mendorong peningkatan daya beli, sehingga memperkuat daya serap pasar terhadap output perusahaan. Sedangkan kelestarian faktor-faktor produksi serta kelancaran proses produksi yang terjaga akan meningkatkan efisiensi proses produksi. Dua faktor tersebut akan meningkatkan potensi peningkatan laba perusahaan, dan dengan sendirinya meningkatkan kemampuan perusahaan mengalokasikan sebagian dari keuntungannya untuk membiayai berbagai aktivitas CSR di tahun-tahun berikutnya.
Manfaat penerapan CSR yang dilaksanakan dengan berlandaskan pada nilai-nilai etis telah banyak dinikmati oleh berbagai perusahaan multinasional dari negara-negara Eropa. Kesediaan perusahaan-perusahaan multinasional dari Eropa untuk menerapkan CSR atas inisiatif sendiri telah membantu menciptakan deferensiasi pasar atas para pesaing mereka dari Jepang maupun AS. Selain itu juga menunjang upaya perusahaan dalam mengelola tenaga kerja, menjaga kesetiaan konsumen, mewujudkan kekuatan merek, mengurangi biaya-biaya menjadi lebih rendah, menekan risiko sosial dan bisnis, serta membangun kredibilitas usaha di mata publik maupun investor saham.
Karena itu para eksekutif perusahaan multinasional di Eropa semakin yakin bahwa perusahaan yang memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang semakin kuat akan mampu meraih kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki kepedulian atas tanggung jawab sosialnya. Adidas, Nestle, dan Volkswagen hanya merupakan sedikit contoh perusahaan multinasional dari Eropa yang berhasil memanfaatkan CSR untuk pengembangan jaringan bisnisnya.
Hal ini sejalan dengan penelitian di Bursa Efek Jakarta terhadap emiten-emiten yang melaksanakan program-program CSR menunjukkan, kegiatan CSR ternyata berbanding positif terhadap kinerja perusahaan dan imbal hasil saham. Karena CSR terdiri dari rangkaian program yang memperhatikan kepentingan seluruh stakeholder perusahaan dalam jangka panjang, dengan demikian CSR tidak dapat dipandang sebagai beban sosial melainkan justru menjadi investasi sosial perusahaan.
Sebab dalam jangka panjang manfaat positif dari program CSR yang berkelanjutan akan menunjang aktivitas bisnis perusahaan. Manfaat jangka panjang ini meningkatkan keyakinan para investor di bursa efek atas prospek perusahaan di masa mendatang. Prospek yang positif dengan sendirinya meningkatkan kemungkinan dan peluang naiknya nilai investasi di bursa efek yang dilakukan saat ini.
Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi jangan pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor dan masyarakat. Lebih dari itu ketika pembangunan perusahaan telah sesuai dengan kawasan peruntukannya, maka pengusaha perlu melaksanakan berbagai kewajiban untuk meminimalisir kerugian yang dialami konsumen, karyawan, investor, maupun kerusakan kualitas lingkungan hidup antara lain :
a. Kewajiban terhadap konsumen
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan produk yang aman.
- Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang spesifikasi produk yang
dijual perusahaan, antara lain dengan mencantumkan label yang benar.
- Konsumen memiliki hak untuk didengarkan, perusahaan dapat membuka kontak
pelanggan melalui kotak pos atau nomor telepon.
- Konsumen memiliki hak untuk dapat dapat memilih barang yang mereka beli.
- Kolusi dalam penetapan harga yang merugikan konsumen tidak dilakukan.
- Kampanye iklan tidak dilakukan secara berlebihan.
- Kampanye iklan diikuti oleh produksi dan distribusi produk sesuai dengan pesan-pesan
iklan.
- Kampanye iklan perlu memperhatikan faktor berikut ini: tidak menayangkan materi
iklan yang menonjolkan anak-anak sedang merokok, mencantumkan kandungan kalori lemah kolesterol dalam makanan, komponen vitamin, dan unsur-unsur minuman kesehatan, menayangkan dengan gencar produk konsumsi yang tidak layak dan tidak halal untuk dikonsumsi, memberikan iming-iming hadiah jika membeli produk dengan gencar, materi iklan dan film yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak dan bersifat pornografi.
b. Kewajiban terhadap karyawan
- Melakukan proses seleksi dan penempatan pegawai secara transparan dengan mengajak
para calon pegawai dari sekitar komunitas untuk berpartisipasi.
- Memberikan posisi jabatan dan balas jasa gaji dan pengupahan, serta promosi jabatan
tanpa memandang agama, gender, suku bangsa, senioritas dan asal negara.
- Mematuhi peraturan dan UU ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
c. Kewajiban terhadap investor
- Meniadakan berbagai potensi kecurangan yang mungkin timbul di perusahaan terhadap
investor.
- Menghindari praktek pembuatan laporan keuangan yang disemir dan tidak sesuai
dengan standar pelaporan akuntansi yang berlaku.
- Tidak melakukan perbuatan ilegal seperti mengeluarkan cek kosong dan proses
pencucian uang (money laundry).
- Tidak melakukan proses “insider trading” dalam menjual surat berharga perusahaan.
- Mematuhi ketentuan tentang GAAP (Generally Accepted Accounting Practices),
ketentuan pasar modal bagi para emiten dan pedoman GCG yang diberlakukan
perusahaan.
d. Kewajiban terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup
- Menjalankan program community social responsibility, khususnya yang berkaitan
dengan pelestarian kualitas lingkungan hidup.
- Memperhitungkan dampak lintas sektor dalam proses produksi dengan memanfaatkan
bahan baku alam secara berkelanjutan.
- Menerapkan prinsip SIDEC, Sustainabilitas, Interdependence, Diversitas, Equity,
Cohesion dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
- Mengembangkan pola hidup “kekitaan” ketimbang “keakuan” (Emil Salim).
- Menghasilkan proses produksi dengan mengoptimalkan upaya renewable resources,
daur ulang non-renewable resources, mengupayakan zero-waste clean technology; dan
pemanfaatan tataruang dan proses produksi dengan sedikit limbah dan polusi
Membangun Citra Perusahaan melalui Program CSR
Beberapa aspek yang merupakan unsur pembentuk citra dan reputasi Perusahaan antara lain :
1. kemampuan financial
2. mutu produk dan pelayanan
3. focus pada pelanggan
4. keunggualan dan kepekaan SDM
5. reliability
6. inovasi
7. penegakan good corporate governance (GCG)
REFERENSI
http://www.ppm-manajemen.ac.id/
http://www.arthagrahapeduli.org
http://rosita.staff.uns.ac.id
http://www.scribd.com
Selasa, 16 November 2010
ETIKA BISNIS
ETIKA BISNIS
Pengertian Etika Bisnis
Cara –cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan,industri dan juga masyarakat.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.
Menurut K.Bertens ada 3 tujuan yang ingin di capai dalam etika bisnis, yaitu :
1. menanamkan atau meningkatkan kesadaran akan adanya dimensi etis dalam bisnis.
2. memperkenalkan argumentasi moral khususnya dibidang ekonomi dan bisnis, serta membantu perbisnisan / calon pebisnis dalam menyusun argumentasi yang tepat.
3. menbantu pembisnis /calon pembisnis, untuk menentukan sikap moral yang tepat didalam profesinya (kelak).
Ada tiga aspek pokok dari bisnis yaitu : dari sudut pandang ekonomi, hukum dan etika.
1. Sudut pandang ekonomis
Bisnis adalah kegiatan ekonomis yaitu adanya interaksi antara produsen/ perusahaan dengan pekerja, produsen dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah organisasi. Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis.
2. Sudut pandang moral
Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Dengan menghormati kepentingan dan hak orang lain, maka kita sendiri tidak akan dirugikan.
3. Sudut pandang hukum
Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terkait dengan hukum. Hukum Dagang atau hukum Bisnis, yang merupakan cabang penting dari ilmu modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional maupun internasional
Dari sudut pandang moral, setidaknya ada 3 tolak ukur yaitu : nurani , khaidah emas, penilaian umum.
a. Hati nurani
Suatu perbuatan adalah baik dan perbuatan yang lain buruk bila berlawanan
dengan hati nuraninya.Jika kita mengambil keputusan moral berdasarkan hati
nurani, keputusan diambil “dihadapan Tuhan”dan kita sadar dengan tindakan
tersebutmemenuhi kehendak Tuhan.
b. Kaidah emas
Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya prilaku moral adalah
mengukurnya dengan kaidah emas (positif),
c. Penilaian Umum
Cara ketiga dan barang kali paling ampuh untuk menentukan baik buruknya
suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkan kepada masyarakat umum
untuk menilai.
Peran Etika dalam Bisnis:
Menurut Richard De Gorge, bila perusahaan ingin sukses/ berhasil memerlukan 3 hal pokok yaitu:
Produk yang baik
Managemen yang baik
Memiliki etika
Haruslah diyakinin bahwa pada dasrnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena:
• Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
• Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
• Melindungi prinsip kebebasan berniaga
• Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
• Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
• Memperkuat sistem pengawasan
• Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.
10 PRINSIP PENERAPAN ETIKA BISNIS
Berikut ini adalah 10 Prinsip di dalam menerapkan Etika Bisnis yang positif:
Etika Bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi: Tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran.
Etika Bisnis itu berdasarkan pada fairness. Apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen diperlakukan dengan adil? Apakah setiap karyawan diberi kesempatan yang sama? Jika ya, maka etika bisnis telah diterapkan.
Etika Bisnis itu membutuhkan integritas. Integritas merujuk pada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan melaksanakan komitmen.
Etika Bisnis itu membutuhkan kejujuran. Bukan jamannya lagi bagi perusahaan untuk mengelabuhi pihak lain dan menyembunyika cacat produk. Jaman sekarang adalah era kejujuran. Pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya.
Etika Bisnis itu harus dapat dipercayai. Jika perusahaan Anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis Anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder Anda.
Etika Bisnis itu membutuhkan perencanaan bisnis. Sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realitas sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Etika bisnis tidak hidup di dalam ruang hampa. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis.
Etika Bisnis itu diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal dll. Singkatnya, ruang lingkup etika bisnis itu universal.
Etika Bisnis itu membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh. Etika adalah berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang beretika.
Etika Bisnis itu berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis. Rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal. Meski begitu, perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Etika Bisnis itu dimulai dari pimpinan. Ada pepatah, “Pembusukan ikan dimulai dari kepalanya.” Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.
Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, etika bisnis merupakan sebuah harga yang tidak dapat ditawar lagi. Seorang konsumen yang tidak puas, rata-rata akan mengeluh kepada 16 orang di sekitarnya. Dalam zaman informasi seperti ini, baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat dan massif. Memperlakukan karyawan, konsumen, pemasok, pemodal dan masyarakat umum secara etis, adil dan jujur adalah satu-satunya cara supaya kita dapat bertahan di dalam dunia bisnis sekarang.
REFERENSI
www.scribd.com
www.anneahira.com
images.susenoherman.multiply.multiplycontent.com
Pengertian Etika Bisnis
Cara –cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan,industri dan juga masyarakat.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.
Menurut K.Bertens ada 3 tujuan yang ingin di capai dalam etika bisnis, yaitu :
1. menanamkan atau meningkatkan kesadaran akan adanya dimensi etis dalam bisnis.
2. memperkenalkan argumentasi moral khususnya dibidang ekonomi dan bisnis, serta membantu perbisnisan / calon pebisnis dalam menyusun argumentasi yang tepat.
3. menbantu pembisnis /calon pembisnis, untuk menentukan sikap moral yang tepat didalam profesinya (kelak).
Ada tiga aspek pokok dari bisnis yaitu : dari sudut pandang ekonomi, hukum dan etika.
1. Sudut pandang ekonomis
Bisnis adalah kegiatan ekonomis yaitu adanya interaksi antara produsen/ perusahaan dengan pekerja, produsen dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah organisasi. Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis.
2. Sudut pandang moral
Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Dengan menghormati kepentingan dan hak orang lain, maka kita sendiri tidak akan dirugikan.
3. Sudut pandang hukum
Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terkait dengan hukum. Hukum Dagang atau hukum Bisnis, yang merupakan cabang penting dari ilmu modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional maupun internasional
Dari sudut pandang moral, setidaknya ada 3 tolak ukur yaitu : nurani , khaidah emas, penilaian umum.
a. Hati nurani
Suatu perbuatan adalah baik dan perbuatan yang lain buruk bila berlawanan
dengan hati nuraninya.Jika kita mengambil keputusan moral berdasarkan hati
nurani, keputusan diambil “dihadapan Tuhan”dan kita sadar dengan tindakan
tersebutmemenuhi kehendak Tuhan.
b. Kaidah emas
Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya prilaku moral adalah
mengukurnya dengan kaidah emas (positif),
c. Penilaian Umum
Cara ketiga dan barang kali paling ampuh untuk menentukan baik buruknya
suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkan kepada masyarakat umum
untuk menilai.
Peran Etika dalam Bisnis:
Menurut Richard De Gorge, bila perusahaan ingin sukses/ berhasil memerlukan 3 hal pokok yaitu:
Produk yang baik
Managemen yang baik
Memiliki etika
Haruslah diyakinin bahwa pada dasrnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena:
• Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
• Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
• Melindungi prinsip kebebasan berniaga
• Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
• Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
• Memperkuat sistem pengawasan
• Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.
10 PRINSIP PENERAPAN ETIKA BISNIS
Berikut ini adalah 10 Prinsip di dalam menerapkan Etika Bisnis yang positif:
Etika Bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi: Tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran.
Etika Bisnis itu berdasarkan pada fairness. Apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen diperlakukan dengan adil? Apakah setiap karyawan diberi kesempatan yang sama? Jika ya, maka etika bisnis telah diterapkan.
Etika Bisnis itu membutuhkan integritas. Integritas merujuk pada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan melaksanakan komitmen.
Etika Bisnis itu membutuhkan kejujuran. Bukan jamannya lagi bagi perusahaan untuk mengelabuhi pihak lain dan menyembunyika cacat produk. Jaman sekarang adalah era kejujuran. Pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya.
Etika Bisnis itu harus dapat dipercayai. Jika perusahaan Anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis Anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder Anda.
Etika Bisnis itu membutuhkan perencanaan bisnis. Sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realitas sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Etika bisnis tidak hidup di dalam ruang hampa. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis.
Etika Bisnis itu diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal dll. Singkatnya, ruang lingkup etika bisnis itu universal.
Etika Bisnis itu membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh. Etika adalah berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang beretika.
Etika Bisnis itu berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis. Rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal. Meski begitu, perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Etika Bisnis itu dimulai dari pimpinan. Ada pepatah, “Pembusukan ikan dimulai dari kepalanya.” Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.
Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, etika bisnis merupakan sebuah harga yang tidak dapat ditawar lagi. Seorang konsumen yang tidak puas, rata-rata akan mengeluh kepada 16 orang di sekitarnya. Dalam zaman informasi seperti ini, baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat dan massif. Memperlakukan karyawan, konsumen, pemasok, pemodal dan masyarakat umum secara etis, adil dan jujur adalah satu-satunya cara supaya kita dapat bertahan di dalam dunia bisnis sekarang.
REFERENSI
www.scribd.com
www.anneahira.com
images.susenoherman.multiply.multiplycontent.com
Jumat, 12 November 2010
ETIKA BISNIS
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KELAS : 4 EA03
TUGAS : ETIKA BISNIS
Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos ( tunggal) atau ta etha (jamak ) yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat. Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya
Pengertian etika yang pertama identik dengan pengertian moralitas
Moralitas berasal dari bahasa latin, mos (tunggal ) atau mores (jamak) yang berati ada istiadat atau kebiasaan.
Jadi etika dan moralitas mempunyai arti yang sama sebagai sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang konstan dan terulang dalam kurun waktu sehingga menjadi kebiasaan.
Pengertian etika yang kedua berbeda dengan moralitas. Etika inidi pahami sebagai filsafat moral atau ilmu yang menekankan pada pendekatan kritis dalam melihat dan memahami nilai dan norma moral serta permasalahan – permasalahan moral di masyarakat.
Pengertian Moralitas
Moralitas : adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa yang
benar dan salah berdasarkan standar moral.
Standar Moral : ialah standar yang berkaitan dengan persoalan yang dianggap
mempunyai konsekuensi serius, didasrkan pada penalaran yang baik
bukan otoritas kekuasaan, melebihi kepentingan sendiri, tidak memihak
dan pelanggarannya diasosiasikan dengan perasaan bersalah, malu,
menyesal dan lain-lain.
Tujuan Etika dan Norma
1. Mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib teratur, damai,dan sejahtera.
2. mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom.
Perkembangan sikap Moral
Anomi, tejadi pada masa anak-anak yang belum mengenal moral dan tidak peduli pada yang lain.
Heteronomi, merupakan sikap orang individu yang tergantung pada figur otoriter seperti orang tua dan guru.
Sosionomi , merupakan sikap moral individu yang tergantung pada kelompok.
Otonomi , merupakan sikap moral yang tertinggi dimana individu mengambil keputusan moral sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Teori – Teori Etika
1. Etika Deontologi : yaitu menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik
Contoh : manusia beribadah kepada Tuhan karena sudah merupakan kewajiban
manusia untuk menyembah Tuhannya.
2. Etika Teleologi : yaitu suatu tindakan dikatakan baik jika tujuannya baik dan
membawa akibat yang baik dan berguna.
REFERENSI
ristiuty.edublogs.org/files/2008/04/pertemuan-1.ppt
NPM : 10207813
KELAS : 4 EA03
TUGAS : ETIKA BISNIS
Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos ( tunggal) atau ta etha (jamak ) yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat. Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya
Pengertian etika yang pertama identik dengan pengertian moralitas
Moralitas berasal dari bahasa latin, mos (tunggal ) atau mores (jamak) yang berati ada istiadat atau kebiasaan.
Jadi etika dan moralitas mempunyai arti yang sama sebagai sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang konstan dan terulang dalam kurun waktu sehingga menjadi kebiasaan.
Pengertian etika yang kedua berbeda dengan moralitas. Etika inidi pahami sebagai filsafat moral atau ilmu yang menekankan pada pendekatan kritis dalam melihat dan memahami nilai dan norma moral serta permasalahan – permasalahan moral di masyarakat.
Pengertian Moralitas
Moralitas : adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa yang
benar dan salah berdasarkan standar moral.
Standar Moral : ialah standar yang berkaitan dengan persoalan yang dianggap
mempunyai konsekuensi serius, didasrkan pada penalaran yang baik
bukan otoritas kekuasaan, melebihi kepentingan sendiri, tidak memihak
dan pelanggarannya diasosiasikan dengan perasaan bersalah, malu,
menyesal dan lain-lain.
Tujuan Etika dan Norma
1. Mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib teratur, damai,dan sejahtera.
2. mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom.
Perkembangan sikap Moral
Anomi, tejadi pada masa anak-anak yang belum mengenal moral dan tidak peduli pada yang lain.
Heteronomi, merupakan sikap orang individu yang tergantung pada figur otoriter seperti orang tua dan guru.
Sosionomi , merupakan sikap moral individu yang tergantung pada kelompok.
Otonomi , merupakan sikap moral yang tertinggi dimana individu mengambil keputusan moral sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Teori – Teori Etika
1. Etika Deontologi : yaitu menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik
Contoh : manusia beribadah kepada Tuhan karena sudah merupakan kewajiban
manusia untuk menyembah Tuhannya.
2. Etika Teleologi : yaitu suatu tindakan dikatakan baik jika tujuannya baik dan
membawa akibat yang baik dan berguna.
REFERENSI
ristiuty.edublogs.org/files/2008/04/pertemuan-1.ppt
PENGUSAHA YANG TIDAK BERETIKA
NAMA : NUR FITRIANI
NPM : 10207813
KLS : 4EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
PENGUSAHA YANG TIDAK BERETIKA
Belum reda heboh kasus tumbangnya perusahaan-perusahaan keuangan kelas dunia, bahkan efek 'domino' akan mengakibatkan makin banyak perusahaan yang tumbang, kita dikejutkan kasus produk susu made in China yang mengandung melamin. Dikabarkan, sejauh ini telah menewaskan empat anak dan sekitar 53.000 anak menderita sakit di China. Semula diperkirakan produk yang tercemar melamin ini hanya pada susu bubuk, tetapi ternyata juga pada susu cair, yoghurt, cokelat dan biskuit.
Yang mencengangkan kita, kasus ini bukan hanya pada satu-dua perusahaan, tetapi sudah mencakup produk-produk dari 20-an perusahaan China. Jika sudah demikian banyak perusahaan terlibat, kasusnya sudah bukan "tercemar" melamin, sudah bukan ketidak-sengajaan atau ketidak-hatihatian, tetapi logikanya merupakan praktek tidak terpuji dari pengusaha yang hanya mau mencari untung.
Melamin adalah sejenis bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi plastik dan pupuk. Jika dikonsumsi manusia, bisa menyebabkan timbulnya batu ginjal, dan akhirnya gagal ginjal. Penggunaan melamin diperkirakan adalah akal-akalan dari produsen untuk meningkatkan kadar protein dalam produk susu.
Tahun lalu juga ada kasus pasta gigi made in China yang mengandung bahan berbahaya. Di Indonesia ada kasus penggunaan formalin pada bakso dan ikan asin, yang bertujuan agar dagingnya lebih awet dan tidak cepat membusuk. Juga penggunaan bahan pewarna tekstil pada sirup dan kue. Mungkin masih banyak kasus penggunaan bahan berbahaya dalam industri makanan.
Sekelompok produsen atau pedagang tanpa memperdulikan keselamatan dan kesehatan konsumen dengan "kreatif" menciptakan trik-trik untuk mencari untung. Mereka adalah kategori pedagang yang tidak berorientasi pada pelanggan, tapi hanya mau mencari untung.
Kasus melamin ini hendaklah memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa 'tipu daya' untuk mencari untung akan berakhir dengan kerugian pada pelanggan (konsumen) dan pengusaha itu sendiri. Berbisnis dan mencari untung ada etikanya, bukan dengan menghalalkan segala cara.
(Jim Mintarja - Founder & Master Coach of ACME Success International)
REFERENSI
http://www.jimmintarja.com
NPM : 10207813
KLS : 4EA 03
TUGAS : ETIKA BISNIS
PENGUSAHA YANG TIDAK BERETIKA
Belum reda heboh kasus tumbangnya perusahaan-perusahaan keuangan kelas dunia, bahkan efek 'domino' akan mengakibatkan makin banyak perusahaan yang tumbang, kita dikejutkan kasus produk susu made in China yang mengandung melamin. Dikabarkan, sejauh ini telah menewaskan empat anak dan sekitar 53.000 anak menderita sakit di China. Semula diperkirakan produk yang tercemar melamin ini hanya pada susu bubuk, tetapi ternyata juga pada susu cair, yoghurt, cokelat dan biskuit.
Yang mencengangkan kita, kasus ini bukan hanya pada satu-dua perusahaan, tetapi sudah mencakup produk-produk dari 20-an perusahaan China. Jika sudah demikian banyak perusahaan terlibat, kasusnya sudah bukan "tercemar" melamin, sudah bukan ketidak-sengajaan atau ketidak-hatihatian, tetapi logikanya merupakan praktek tidak terpuji dari pengusaha yang hanya mau mencari untung.
Melamin adalah sejenis bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi plastik dan pupuk. Jika dikonsumsi manusia, bisa menyebabkan timbulnya batu ginjal, dan akhirnya gagal ginjal. Penggunaan melamin diperkirakan adalah akal-akalan dari produsen untuk meningkatkan kadar protein dalam produk susu.
Tahun lalu juga ada kasus pasta gigi made in China yang mengandung bahan berbahaya. Di Indonesia ada kasus penggunaan formalin pada bakso dan ikan asin, yang bertujuan agar dagingnya lebih awet dan tidak cepat membusuk. Juga penggunaan bahan pewarna tekstil pada sirup dan kue. Mungkin masih banyak kasus penggunaan bahan berbahaya dalam industri makanan.
Sekelompok produsen atau pedagang tanpa memperdulikan keselamatan dan kesehatan konsumen dengan "kreatif" menciptakan trik-trik untuk mencari untung. Mereka adalah kategori pedagang yang tidak berorientasi pada pelanggan, tapi hanya mau mencari untung.
Kasus melamin ini hendaklah memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa 'tipu daya' untuk mencari untung akan berakhir dengan kerugian pada pelanggan (konsumen) dan pengusaha itu sendiri. Berbisnis dan mencari untung ada etikanya, bukan dengan menghalalkan segala cara.
(Jim Mintarja - Founder & Master Coach of ACME Success International)
REFERENSI
http://www.jimmintarja.com
Langganan:
Postingan (Atom)